"In Memoriam" Prof Koesnadi Rosihan Anwar
Sekretaris AJ Abuhasan Asy'ari mengatakan, tanggal 13 Maret 2007 akan digelar pertemuan memperingati HUT Ke-80 Koesnadi yang lahir di Manonjaya, Tasikmalaya, 9 Desember 2006. Manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Prof Koesnadi meninggal dalam kecelakaan Garuda di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, 7 Maret 2007. Almarhum duduk sederet dengan Din SyamsuddinÂKetua Umum PP MuhammadiyahÂyang selamat. Prof Koesnadi meninggal dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Yogyakarta, tempat ia mengabdi sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada (1986-1990) dan menjadi Ketua Majelis Wali Amanat UGM (2002-2004). Samar-samar saya ingat sosok Koesnadi di zaman Jepang sebagai siswa sekolah menengah tinggi Jakarta. Dia adalah putra Gaos Hardjasoemantri yang saya kenal saat menjadi wartawan surat kabar Asia Raja. Gaos, pegawai tinggi pangreh praja, belajar di Bestuurs Academis Hindia Belanda dan di zaman revolusi (1945-1946) menjabat sebagai Residen Republik di Bogor. Gaos adalah urang Sunda keturunan menak, seorang budayawan. Menurut sejarawan Rushdie, SMT Jakarta adalah "sekolah unik", melahirkan banyak tokoh di masyarakat, seperti Eddy Djukardi di Pertamina, Urip Santoso di ALRI, Nunu Haryati Menteri Sosial, Koesnadi di dunia pendidikan, lingkungan hidup, kebudayaan, dan lain-lain. Bercelana pendek Saat menjadi Tentara Pelajar, Koesnadi yang bergerilya di daerah Brebes, Jawa Tengah, nyaris ditangkap Belanda. Ia lolos karena bercelana pendek, dikira siswa sekolah. Dia pernah ditugaskan Kolonel Alex Kawilarang yang beroperasi di Bogor-Sukabumi untuk membawa harta karun yang dipendam Jepang di Jawa Tengah untuk dikembalikan ke Pemerintah Republik sebagai milik negara. Tugas itu dikerjakan Koesnadi dengan baik, tanpa korupsi, jujur, dan idealisme. Seusai studi di Fakultas Hukum UGM tahun 1964 (doktor dari Universitas Leiden, 1981), Koesnadi menjadi Direktur Pendidikan Tinggi (1969-1974), Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag, Belanda (1974- 1980), Sekretaris Menteri Negara PPLH/KLH (1980-1986), Rektor UGM (1986-1990, anggota MPR (1987-1992), anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1998-2003), Visiting Professor di Halifax, Canada; Research Fellow di Wassenaar, Netherland, dan lainnya. Sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag, ia berhasil mengusahakan kembalinya benda-benda budaya ke Indonesia, antara lain patung Prajnaparamita (Ken Dedes); lukisan Raden Saleh, yakni penangkapan Pangeran Diponegoro; perhiasan Sultan Lombok yang dirampas Belanda saat melakukan Strafoxpaditie ke Mataram, Lombok. Ia menulis buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Sebagai pakar hukum lingkungan dapat dimengerti jika ada judul seperti Hukum Tata Lingkungan, Aspek Hukum Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Enviromental Legislation in Indonesia. Akademi Jakarta Di antara tanda penghargaan yang diterima Koesnadi ada Bintang Mahaputera Utama (2004), Ufficier in de Orde van Oranje Nassau (Belanda) 1980. Ia sibuk memimpin misi kebudayaan Indonesia ke luar negeri. Pada pertengahan tahun 1980, saya kesomplok dengan Koesnadi di Bandara Tokyo. Ia baru pulang dari Eropa menuju Jakarta lewat Bali, saya pulang dari Hawaii ikut seminar tentang bahasa di East-West Centre. Karena pertemuan itu bersifat casual atau sambil lalu, Koesnadi hanya "senyum nabi" dan saya mengangguk santun. Saya baru mengenal baik Koesnadi sejak tahun 2002 saat kami duduk dalam Akademi Jakarta. Saya mempelajari wataknya dan lebih mesra. Eddy Djokardi berkata, Koesnadi punya "sifat luwes", menurut Abuhasan, ciri Koesnadi ialah "keterbukaan dan keseimbangan". Saya berpendapat, Koesnadi kadang "suka mengambang", "jangan konflik", padahal dalam lingkungan AJ yang anggotanya "vokal", punya "ego besar" dan rupa-rupa kompleks, bentrok pendapat tidak selalu dapat dielakkan, sehingga keputusan kadang sulit diterima. Meski demikian, pada hemat saya, Koesnadi sebagai Ketua AJ berhasil dalam mengintrodusir cara pemilihan baru anggota-anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), menata Penghargaan Akademi Jakarta kepada seniman, budayawan yang berhak di bidang seni kreatif musik, arkeologi, kajian sastra, seni tari, seni lukis, dan sebagainya. Dia juga menggelar seminar mengeksplorasi wacana menukik di bidang bahasa Indonesia, arkeologi, penerjemahan, dan dokumentasi. Meninggalnya Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri menimbulkan kehampaan di kalangan AJ, berbagai lembaga perguruan dan pendidikan di mana almarhum aktif. Semoga Tuhan mencatat amal baik guru besar (emeritus) Hukum Lingkungan ini dan menerima arwahnya di sisi-Nya. Rosihan Anwar Wartawan Senior
