Rudat, Kesenian yang Mengandung "Magic" BEDUK, gong, dan terebang (rebana) terus dimainkan. Irama yang monoton, tapi seperti mengandung sebuah kekuatan yang lebih dari sekadar bebunyian. Di bawah panggung, di sebuah arena, para pemuda yang bertelanjang dada itu terus memperagakan jurus-jurus silat. Sesekali gerakannya menyerupai tarian. Tapi yang lebih membuat penonton terkesiap adalah ketika mereka memasukkan api dan bara kayu panas ke dalam mulutnya. Mereka memakan benda panas itu tanpa terluka sedikit pun. Tak cukup hanya itu. Api pun diedarkan ke seluruh tubuh. Menjilat-jilat tubuh, tapi kulit mereka tak terbakar sedikit pun. Dan mereka terus menari dan bersilat.
DUA anggota seni pencak silat rudat memakan kayu yang membara pada acara Pesta Kesenian Rakyat Padjadjaran IV dan Pencanangan Dies Natalis Unpad ke-50 di Jln. Dipati Ukur Bandung, Sabtu (10/3).* ANDRI GURNITA/"PR" Tiba-tiba, seorang di antaranya memperlihatkan gerakan yang ganjil. Tubuhnya seolah dirasuki oleh sebuah kekuatan yang aneh. Ia tiba-tiba merangkak dan menjelma seekor harimau. Belum cukup penonton dibuat terkesiap, seorang pemuda yang lain, mendadak membuat gerakan menyerupai seekor kera. Penonton, terutama anak-anak yang mengelilingi arena mundur ketakutan. Pemuda yang dirasuki kera itu tiba-tiba melompat memanjat tiang tenda penonton. Tubuhnya begitu ringan layaknya seekor kera di atas pohon. Bahkan dengan sebelah tangan ia bergelayut di besi tenda penonton. Lalu ia turun, melompat dan bergulingan, menari, dan bersilat. Inilah rudat. Seni tradisi Sunda yang memadukan keindahan, kekerasan, dan ritual, sehingga hadirnya kekuatan yang merasuk ke dalam tubuh para pesilat dalam suasana pertunjukan yang memukau. Genre seni tradisi ini lahir dan hidup dalam lingkungan pesantren pada masa penjajahan Belanda. Dan di Lapangan parkir kampus Unpad Jln. Dipati Ukur Bandung Sabtu siang (10/3), Rudat yang dimainkan oleh kelompok Seni Pencak Silat Rudat Cahaya Panghibur Sekeloa Bandung, tampil sebagai bagian dari acara "Pesta Kesenian Rakyat Pajajaran IV". Sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad, yang berlangsung selama 2 hari (10-11 Maret 2007), dan merupakan penanda dari peringatan 25 tahun Lises. Seperti tajuk yang diangkat, paling tidak pada hari pertama, peringatan 25 tahun Lises tahun ini, terasa lebih semarak ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Suasana kesenian rakyat yang diusungnya memang terasa hadir sebagai sebuah pesta. Selain diskusi budaya, juga ditampilkan sejumlah seni tradisi Sunda dan seni-seni tradisi lain yang ada di Jawa Barat. Tak hanya jenis seni tradisi yang telah banyak dikenal seperti jaipongan, bajidor, atau topeng Cirebon. Tapi juga sejumlah tari tradisi lainnya, dari mulai badawang, rudat, tari buyung, babarongan, atau debus dari Banten. Seniman dan komunitas seni yang terlibat pun tak hanya berasal dari berbagai tempat dan daerah, tapi juga melibatkan lingkung-lingkung seni Sunda yang terdapat di kampus-kampus, di antaranya STBA, STT Telkom, UPI, Unpar, ITB, dan Unpad. Tentu saja, hal ini menarik karena memperlihatkan minat dan antusiasme para mahasiswa terhadap seni tradisi Sunda, seperti, penampilan para mahasiswa ITB, yang sehari-hari berkutat dengan ilmu teknik, ketika mereka memainkan kecapi suling. Begitu juga suguhan Tari Blantek yang dibawakan oleh para mahasiswi Unpar. Meski berlangsung di dalam kampus, namun tampak umumnya penonton adalah masyarakat di seputar kawasan Jln. Dipati Ukur, dari mulai anak-anak hingga ibu-ibu. Mereka berkeliling di areal acara, melihat sejumlah stan, atau duduk di bawah pohon menunggu acara dimulai. Dan sepanjang pertunjukan rudat, mereka tak henti-henti takjub melihat gerak dan perilaku para pesilat yang bergerak mengikuti irama musik, tak ubahnya dengan penari. Hari pertama "Pesta Kesenian Rakyat Pajajaran IV" diakhiri dengan penampilan bajidoran. Sedangkan pada hari ke-2, Minggu (11/3), akan tampil pencak silat, babarongan, bobodoran, dan sejumlah seni tradisi lainnya. (Ahda Imran) ***
