Parodi dan Delegitimasi Mudji Sutrisno SJ
Parodi adalah sejenis seni. Bentuk pertunjukan ini biasanya drama atau teater dengan aktor-aktor yang berperilaku "imitatif" peniru tokoh-tokoh yang sedang diparodikan dengan wajah, ungkapan yang mirip aslinya dan tema percakapan berkisar otokritik, kritik dengan canda menertawakan diri sendiri. Apa tujuan seni parodi? Dari pemrakarsanya, parodi dimaksud untuk mengkritik sehat dalam humor mengambil imajinasi negeri antah berantah. Tetapi, orang langsung tahu negeri kitalah yang sedang ditampilkan. Bagi pemrakarsa, ia merupakan jamu pahit meski dibungkus humor menyindir, tetapi dibuat hasilnya tidak terus mencibir dan jalan negeri menjadi lebih adil, terbuka, dan demokratis. Cara sindirin mulai dari halus, lalu lebih tajam, sampai tajam humoris. Tetapi, tidak jarang jatuh dalam memperolok, padahal semula maunya mencandai diri sendiri: sebuah cita-cita sehat psikis dan pisik perkembangan sebuah negeri. Secara sosiologis politis, rezim pemerintahan kita mengekang dan biasanya hanya membuka celah sempit jendela publik untuk parodi. Itu pun disertai rambu-rambu karena kekuasaan ada di tangan penguasa, bukan pemrakarsa parodi apalagi di tangan rakyat yang diperintah. Parodi teks Sebelum Perestroika dan Glastnoz Gorbachev, seni parodi di Rusia tak muncul di panggung, tetapi pada teks-teks tulisan dengan judul lucu, Mati ketawa ala Russia, Mati ketawa gaya Lenin atau Stalin; bahkan Mati ketawa gaya Karl Marx. Model parodi tulisan di atas juga marak beredar di Tanah Air saat rezim Orde Baru Soeharto mengekang dan membredel media. Banyak teks terjemahan kisah-kisah parodi mati ketawa ke dalam bahasa Indonesia dan banyak akronim sindiran semi parodi dalam singkatan SDSB. misalnya. Apalagi di "bawah tanah", kisah-kisah lucu yang memperolok rezim dan aktor-aktornya nyaris menjadi wacana di warung-warung atau saat-saat arisan, bahkan jeda-jeda rapat maupun kampus. Setting-nya biasanya penguasa diimajinasikan nanti bila meninggal akan ke neraka dan lawannya ke surga lalu muncul kisah-kisah lucu parodis di sekitar itu. Apa artinya? Kisah-kisah tertulis itu muncul karena teater parodi dilarang. Artinya, rezim semiotoriter memberi celah-celah untuk ruang parodi, tetapi dengan pesan-pesan sponsor entah di pertunjukan Punakawan Wayang yang berparodi, namun tetap dengan pesan sponsor pembangunan dari pemerintah. Episode sejarah runtuhnya para rezim otoriter membuka ruang-ruang parodi meluas, berdampak pada isi dan siapa yang diparodikan serta gaya pertunjukan akting sasarannya. Di sinilah olok-olok akan lebih dominan sehingga sesuatu yang terus-menerus akan mengguncang keseimbangan maksud awal humor dan menertawakan diri secara sehat. Senasib seperti antarkomunitas, sesama mahasiswa atau kelompok umur sebaya, bisa bertanya pada diri sendiri, apa jadinya bila seluruh harisaat istirahat atau jeda terus saling memperolok? Apa jadinya bila sasarannya adalah antarkita. Tetapi, apa yang terjadi bila obyek parodi olok-olok terus pada seorang teman? Delegitimasi Soal kritis di sini adalah bisakah canda ria parodi mendelegitimasi keberadaan rekan yang menjadi pelengkap penderita? Ada dua jawaban. Yang satu bisa dan yang lain tidak. Delegitimasi adalah istilah politis saat keabsahan dalam kehormatan posisi penguasa atau yang sedang memerintah digerogoti legitimasinya. Jawaban pertama, bisa terjadi delegitimasi bila suasana hubungan sosial antarkita minus humor atau lenyap canda (humor-less). Ini indikasi keadaan distrust antarkita yang rawan untuk sebuah bangsa yang butuh saling percaya (trust) guna menapak peradaban. Dalam kondisi "miskin humor", ketersinggungan harkat yang diperolok dan direndahkan akan memompa sikap antikritik dan tidak terbuka pada fungsi sehat dari kritik, yaitu saling mengoreksi agar perkembangan kemanusiaan dalam berbangsa dan kecenderungan salah menggunakan amanah jabatan dan kuasa tidak terjadi atau dikurangi. Berikutnya, delegitimasi juga terjadi bila hilang prasyarat kesadaran akal sehat, baik bagi si pemrakarsa parodi maupun yang disasari parodi, yaitu pejabat atau rezim. Apa artinya? Berparodi adalah berseni canda dengan tetap berkesadaran tanggung jawab publik untuk membalik-balikkan logika normal dan memompanya jadi lucu; namun tetap dalam bingkai jawab berseni pertunjukan. Prasyarat berikut, dituntut adanya sikap sadar mau merelatifkan diri sebagai yang bisa keliru, tetapi tetap bisa tertawa. Di lain pihak, parodi bukan tujuan, melainkan kendaraan atau sarana ekspresi kritik. Maka dari itu, hasil dari ekspresi olok-olok yang keterusan akan "bertolak belakang", apalagi bila yang terus menjadi sasaran olokan adalah orang yang sama. Parodi tidak akan mendelegitimasi siapa pun bila watak humor dan menertawakan diri antarkita punya ruang lebar-lebar, lalu kita bersama menjadi sehat. Jangan lupa, di relief Candi Prambanan Yogya, watak humor bangsa ini sudah terpahat di sana. Dalam adegan pralaya perang, sang seniman candi memahatkannya di tengah bakul nasi yang tumpah miring dan air minum yang juga tumpah, lalu di bawahnya binatang dengan lahap memakan tumpahan itu. Ekspresi humor karena manusia-manusia saling perang, sementara binatang tertawa dan riang karena bisa makan tumpahan nasi. Dan kita yang melihat dan menikmati relief candi itu menikmatinya dengan tersenyum. Komunikasi Yang pantas dicatat dalam berbagai gejala itu adalah jurang komunikasi antara yang merasa sedang beramanah 24 jam dan bekerja keras untuk kesejahteraan bangsa, namun masih diparodikan (dalam bahasa Jawa, dipaido, artinya tidak dipercaya atau disinisi) oleh parodi-parodi. Bila retak komunikasi yang terjadi lebar-lebar, persoalan legitimasi mendapat jawaban jitu atau utuh. Mengapa? Legitimasi pemerintahan SBY-JKhasil pilihan langsung rakyat dua tahun laludiuji keabsahannya. Komunikasi yang paling menyentuh derita rakyat banyak ada pada dua perbaikan, kesejahteraan dan ketersediaan beras murah sehingga rakyat bisa makan. Ini tolok ukur pertama. Untuk bisa cukup pangan, pendapatan masyarakat harus cukup. Mungkinkah ini terjadi, setelah harga BBM naik lebih dari 100 persen bahkan hampir 112 persen? Siapa yang mengambil putusan itu, pasti tidak dalam posisi berada serta mendengarkan rakyat dan pasti tidak dalam mikro-ekonomi, tetapi dalam makro-ekonomi. Bisakah kenaikan itu diturunkan 15 persen atau 20 persen agar perputaran ekonomi mikro tidak mandek? Ini pertanyaan nyata, bukan parodi. Tolok ukur kedua, apakah tersedia lapangan kerja guna mengurangi pengangguran? Menganggur membuat harkat manusia tak bermakna, hilang diri. Jalan cepatnya adalah malu, dan fenomena bunuh diri menjadi lonceng peringatan atas kesulitan ekonomi yang sedang terjadi. Jadi, yang mendelegitimasi bukanlah parodi, melainkan realisasi janji sejahtera agar segera diwujudkan cukup pangan dan kerja bagi rakyat banyak. Apalagi, kini rakyat banyak amat cerdas untuk tidak melihatnya sejak kejadian kenaikan harga BBM, bencana lumpur panas Lapindo di Sidoardjo, atau janji prorakyat dari para elite, tetapi rakyat dibiarkan susah setiap hari. Mudji Sutrisno SJ Budayawan
