14/04/2007 12:26

Abdul Rahman, praja STPDN (kini bernama IPDN) dari Kaltim, sejak 1992
dikabarkan hilang. Keluarga korban belum pernah mendapatkan penjelasan
resmi dari pihak kampus. Adapun SCTV memiliki fakta baru tentang
keberadaan sel di dalam kampus itu.
Liputan6.com, Paser: Satu per satu fakta yang menguatkan adanya
kekerasaan di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri terkuak. Nasib
Abdul Rahman, misalnya. Praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri
(nama lama IPDN) angkatan tahun 1990 asal Kabupaten Paser, Kalimantan
Timur, itu tak diketahui rimbanya hingga sekarang.

Anak dari keluarga almarhum Zamhari itu hilang secara misterius dalam
masa pendidikan di tahun 1992. Kabar hilangnya Abdul Rahman diterima
ayahnya, Zamhari (saat ini sudah almarhum) dari salah satu dosen
pengasuh di STPDN. Tepatnya, ketika ada kegiatan Latihan Integrasi
Taruna Dewasa (Latsitarda) tahun 1992 di Kabupaten Paser.

Kepada pihak Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Paser, sang
dosen mengatakan bahwa Abdul sudah tidak lagi berada di Kampus STPDN,
Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Hanya informasi itulah yang
diperoleh pihak keluarga. Dan hingga saat ini atau setelah hampir 15
tahun, mereka tak pernah mendapat pemberitahuan secara resmi dari
pihak STPDN yang kini menjadi IPDN. Namun, pihak keluarga hingga
sekarang masih berharap mendapatkan kejelasan perihal kondisi dan
keberadaan Abdul.

Tak hanya itu. Belum lama ini, SCTV memiliki fakta baru tentang
keberadaan sel di dalam kampus tersebut. Sel ini diduga kuat kerap
digunakan untuk menghukum praja yang dianggap nakal. Berdasarkan
pengamatan SCTV, ruang kurungan itu letaknya agak tersembunyi. Bahkan,
sesungguhnya tak sembarang orang bisa masuk ke dalam kawasan tahanan
tersebut. Dan mungkin, baru kali ini keberadaan sel di IPDN terungkap
ke media massa.

Akan tetapi, sejak kasus kematian Cliff Muntu mencuat, sel itu tak
lagi digunakan untuk menghukum praja-praja yang dianggap nakal.
Keberadaan sel di dalam sekolah praja yang sesungguhnya tak lazim itu
makin menguatkan fakta bahwa pola pembinaan yang lekat dengan
kekerasan memang ada di IPDN
Entah logika apa yang dipakai para pejabat di IPDN untuk membuat sel
di sekolah. Priyo Susilo, seorang di antara perancang sekolah itu
mengatakan bahwa IPDN memang mengadopsi sekolah militer. "Kita belajar
di West Point, itu asramanya Akabri-nya Amerika [Serikat]," kata Priyo.

Ada fakta yang lain di sekitar Kampus IPDN yang sampai kini masih
menjadi misteri. Sebuah kompleks makam tersembunyi di antara
rerimbunan semak. Beberapa di antaranya tanpa nisan dan nama.

Adapun informasi yang diperoleh dari dalam kampus. Disebutkan, di
antara makam tersebut adalah kuburan praja IPDN atau STPDN. Tapi, SCTV
belum mendapatkan konfirmasi resmi tentang hal ini. Yang terang,
misteri tentang kekerasan tampaknya masih ada di IPDN.

Sementara itu, budayawan Emha Ainun Nadjib yang biasa disapa Cak Nun
menilai kekerasan yang terjadi di Kampus IPDN adalah suatu kekejaman.
Pernyataan cukup lantang itu diungkapkan saat dia menggelar dialog
dengan masyarakat bertajuk Kenduri cinta di halaman Taman Ismail
Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, tadi malam.

Kenduri Cinta yang digelar saban bulan ini telah berlangsung delapan
tahun di pelataran parkir TIM. Cak Nun merupakan tokoh sentral dari
acara tersebut. Dalam acara ini, setiap anggota masyarakat yang hadir
bisa berdialog tentang apa pun, terutama peristiwa yang menjadi
sorotan publik. Mereka pun membahasnya bersama-sama.

Dan kali ini dia berbicara tentang peristiwa IPDN yang menyebabkan
seorang siswanya meninggal dunia akibat dianiaya para mahasiswa
senior. Menurut sang budayawan, peristiwa yang terjadi di kampus calon
pamong praja tersebut bukanlah kekerasan melainkan kekejaman. "Saya
tidak heran dengan soal IPDN. Itu kekerasan tingkat rendah di tengah
kekerasan pemerintah, kekerasan pihak-pihak di Indonesia terhadap
rakyat kecil," ucap Cak Nun.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

Kirim email ke