Harian Pos Kota Online, Rabu 18 April 2007, Jam: 9:28:00        

Jika cinta telah melekat, suami tetangga pun terasa coklat. Itu pula
prinsip yang diemban Ny. Warni, 33 tahun, dari Probolinggo (Jatim).
Lantaran suami sudah tak mampu lagi memuaskan gairahnya di ranjang,
dia nekad memasukkan Bejo, 40 tahun, tetangga ke dalam kamar. Tapi
sial, hilang dahaga rindu, hilang pula nyawa di badan akibat diclurit
Bardan, 37 tahun, suaminya.

Iman Legini memang tengah dicoba. Cuma cobaan Illahi tersebut bukan
berwujud kekayaan, jabatan atau kemiskinan, tapi ketidakberdayaan.
Ketidakberdayaan dalam hal apa? Ketidakberdayaan dalam menunaikan
tugas suami istri, masalah yang sangat prinsipil dan nyempil bagi
sebuah rumahtangga. Tukang obat bilang, nafsu besar tenaga kurang!

Warni yang masih muda, cantik dan enerjik, pada gilirannya lalu jarang
disentuh Bardan. Istri fungsinya di ranjang mutlak menjadi teman tidur
belaka. Bila istri memancing-mancing dengan baju-baju transparan,
malah diomeli, nanti masuk angin. Bila Warni main colak-colek, malah
diomeli. "Tidur, ini sudah malam, besok kan ujian nasional….," kata
Bardan ketus.

Akibatnya, Warni yang cantik, putih bersih nan seksi tersebut,
bagaikan roti kering di toko yang berdebu karena tak pernah disentuh.
Merana! Menyesal sekali dia kawin dengan Bardan. Tongkrongan tak
sebanding dengan "tangkringan". Ibaratnya barang, keluaran Cina.
Bentuknya bagus, tapi tidak tahan lama. Cepet panas dan ngebul.

Menyikapi kondisi suaminya yang demikian, dia pernah mengajukan
resulusi non PBB. Minta dibebaskan sebagaimana mestinya, agar bisa
kawin lagi. Tapi ternyata Bardan tidak rela bila Warni jatuh dalam
pelukan lelaki lain. Katanya, masih sangat mencintainya, tak bisa
hidup tanpa Warni di sampingnya. "Habis, saya bisanya memang cuma di
sampingmu," kata Bardan polos, sendu dan hampir menangis.

Enak di Bardan, sangat tidak nyaman bagi Warni. Cinta-cinta, tapi tak
pernah ada karya nyata, buat apa! Apa dia pikir wanita nrimo hanya
dengan nyandang rapet (berpakaian bagus) dan makan wareg (makan
kenyang)? Perut terjamin, tapi yang dibawah perut ditelantarkan ya
demo, rek. Dan ternyata itu pula yang kemudian dilakukan Warni. Dia
menuntut perubahan.

Rupanya demo Warni memang lain. Bukan nggelar spanduk atau datang ke
Istana sebagaimana korban lumpur Lapindo, tapi dia mencoba cari burung
lain yang bisa berkicau trilili lili. Dia yakin betul, dengan kondisi
pisiknya yang masih jreng, sedikit angkat rok saja pasti banyak lelaki
yang tergila-gila ingin berbagi cinta. "Mau dicoba…?" tantangnya.

Adalah Bejo, lelaki tetangga sendiri. Dia cepat menangkap isyarat
bahwa Warni sedang membutuhkan sesuatu. Maklum, warga Desa Resongo
Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo ini memang pakar dalam bidang
keperempuanan. Dia hafal betul lekuk liku wanita yang membutuhkan
kehangatan malam. Maka begitu Warni yang cantik ini membuka sinyal,
dia langsung saja masuk.

Nah, diam-diam Bejo masuk ke pagar rumah Warni di kala suami tak di
rumah. Basa-basi sebentar ngobrol di samping rumah. Dan ketika sudah
berhasil menyamakan persepsi alias padha karepe, malam itu juga
selingkuh perdana digelar di samping rumah dalam kondisi
bergelap-gelap. Cuma sialnya, ketika kondisi sedang nanggung, Bardan
pulang.

Akibatnya bisa diduga, suami Warni marah besar. Dia ambil celurit dan
mau dibacokkan ke kepala Bejo. Tapi lelaki ini sempat kabur, meski
masih telanjang bulat. Kekesalan Bardan lalu dilimpahkan pada
istrinya. Warni dimintai klarifikasi malah diam. Habislah
kesabarannya. Langsung saja clurit dibacokkan berkali-kali ke tubuh
Warni hingga tewas di tempat. Habis mengeksekusi bininya barulah
Bardan melapor ke Polsek Kuripan. (ind) 

Kirim email ke