Disangka Mata-mata AS SIKAP kurang menghargai kebudayaan sendiri, memang sudah "lumrah" terjadi di kalangan masyarakat kita. Ironisnya, justru bangsa lain yang lebih memiliki perhatian dan kepedulian terhadap berbagai catatan sejarah suatu bangsa.
Adalah pengamat sejarah asal Jerman, Herwig Zahorka (72), yang "tergila-gila" atas kebudayaan Sunda. Kesibukannya setelah pensiun dari jabatan direktur kehutanan negaranya, digunakan untuk mencari dan mengumpulkan berbagai data sejarah budaya Sunda. Ia pun kini sudah merampungkan sebuah buku mengenai kebudayaan Sunda yang ditulis dalam bahasa Inggris. Buku itu belum dicetak secara massal, namun isinya memuat sejumlah catatan yang bersifat ekslusif. Disebutkan, kepeduliannya terhadap budaya Sunda juga diawali dari kegiatannya yang mengamati lingkungan hutan di Jabar. Dari berbagai tempat yang dituju, ia menemukan dan terus memburu berbagai situs dan objek peninggalan sejarah Sunda, di antaranya Arca Domas, berbagai peninggalan Kerajaan Pajajaran, Pakuan, dll. "Kebudayaan dan sejumlah peninggalan sejarah Sunda termasuk yang tertua di Indonesia. Sayangnya, banyak orang sekitar yang terkesan kurang memedulikan," kata Zahorka. Berbagai catatan justru diperoleh dari luar negeri, misalnya Arca Domas di Kampung Situ Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor dari sebuah sampul buku di Singapura. Kecintaan Herwig Zahorka terhadap kebudayaan Sunda, juga tercermin dari hobinya berkeliling kota dengan menggunakan sepeda, sambil menikmati alam Kota Bogor dan sekitarnya. Kendati demikian, ia sempat ditangkap tentara di kota tempatnya tinggal itu karena disangka mata-mata Amerika. "Setelah dijelaskan, saya adalah orang Jerman yang sudah tinggal di Bogor dan menikah dengan wanita Indonesia, barulah mereka mengerti. Ini pengalaman yang paling berkesan, walau sempat membuat kalang-kabut keluarga di rumah," katanya sambil tersenyum-senyum. (Kodar S/"PR") *** http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/06/99apasiapa.htm [Non-text portions of this message have been removed]
