Ayeuna di Aceh, lamun kapanggih bobogohan ku pulisi syariah, bisa dihukum
pecut ku hoe. Tah kumaha lamun pulisi syariahna bobogohan di jero WC?
....dimana-mana oge ari nu keur kawasa mah sok diuntungkeun, hukumanana
ukur dikawinkeun henteu digebugan ku hoe.

Nyanggakeun wartosna kenging nyutat tina detikcom


Kisah Mesum di Negeri Syariat (1)

Ketika Polisi Syariat Berbuat Mesum

Nur Raihan - detikcom
Banda Aceh - Jika tak terjadi di Aceh, mungkin kisah-kisah mesum ini tak
akan begitu memancing rasa ingin tahu. Sebab, negeri berjuluk Serambi
Mekah ini memang punya aturan resmi soal perbuatan mesum.

Pelaku yang tertangkap basah, bakal menuai hukuman cambuk. Pelaku-pelaku
mesum pun akhirnya lebih takut kepada polisi syariat atau lazim disebut
Petugas Wilayatul Hisbah (WH) ketimbang Tuhan.

Raihanuddin Lubis (33) yang sehari-hari dikenal sebagai petuuk tergas WH
di tingkat provinsi tertunduk lesu di sebuah kursi panjang tua. Wajahnya
lelah. Di sebelahnya, duduk seorang gadis, berbusana muslim. Namanya
Magdalena (17).

Wajah Magdalena, meski ditutupi dengan ujung jilbab putih, tampak terlihat
menyimpan kelelahan yang sama. Tulang belakangnya, seolah tak mampu lagi
menopang badannya. Jadilah, dia nyaris terbungkuk. Seolah, dia ingin
menenggelamkan dirinya dalam balutan busananya.

Adegan itu terjadi di depan rumah Kepala Dusun Cempaka Desa Ie Masen
Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, pada Kamis 19 April 2007. Ismail
Ibrahim, sang kepala dusun, menuturkan pada wartawan di lokasi tersebut,
kedua insan yang juga warga Desa Ie Masen ini tertangkap basah ketika
sedang berasyik masyuk di sebuah WC umum yang tidak terpakai lagi di desa
tersebut pada Kamis sekitar pukul 01.00 dinihari.

Tapi bagaimana mereka ditangkap, Ismail enggan bertutur. "Mereka dan pihak
keluarga sudah sepakat untuk dinikahkan saja," ujarnya sembari
menambahkan, sebenarnya keduanya memang sudah lama berpacaran.

Selain wartawan, warga desa sekitar ramai mengunjungi rumah Ismail. Sebab,
beberapa wanita yang terlihat ikut menonton adegan itu kesal pada Lubis.
"Dia sering larang-larang anak gadis di sini untuk pacaran. Bilangnya
kasar lagi. Syukurin, rupanya dia biangnya," ujar salah seorang warga pada
wartawan.

Akhirnya, karena tak kuasa menahan malu, Lubis dan Magdalena minta izin
untuk masuk ke dalam rumah. Sebab kedatangan wartawan di jalan desa yang
sempit itu menimbulkan keinginan warga untuk juga datang melihat Lubis dan
Magdalena. Beberapa perwakilan wartawan yang diutus masuk ke dalam rumah
untuk mewawancarai petugas WH ini nyaris tak bisa mendapatkan keterangan
apa-apa.

"Dia hanya bilang bersedia jika diminta bertanggung jawab dengan menikahi
perempuan itu," terang koresponden SCTV, Mukhtaruddin Yakub, salah seorang
wartawan yang ikut masuk ke rumah tersebut.(ray/nrl)

Kirim email ke