Syiah Ekstrem
Oleh Abd Moqsith Ghazali
14/05/2007

Saya tidak tahu, apa yang hendak dicapai dengan mereproduksi secara
terus-menerus pertarungan politik yang berlangsung empat belas abad
lalu itu. Apakah dengan mendaur-ulang wacana-wacana demikian tata
hubungan damai di antara umat Islam akan makin sehat? 

Syiah biasanya diasosiasikan dengan sekelompok umat Islam yang
mengikuti doktrin dan tradisi Ahlul Bait, atau persisnya sunnah Ali
bin Abi Thalib dan Fathimah al-Zahra. Sejak kemunculannya sampai
sekarang, Syiah sudah terfragmentasi ke pelbagai varian dengan tafsir
keagamaan masing-masing yang khas. Walau populasi Syiah tak seberapa,
varian-varian Syiah yang berjumlah belasan itu mulai menyebar ke
berbagai negeri-negeri Muslim.

Tak hanya di Iran, kini Syiah berkembang di Pakistan, India, Irak,
hingga Indonesia. Varian Syiah yang beraneka ragam itu dapat
dikelompokkan ke dalam dua kategori besar; moderat dan ekstrem. Syiah
ektrem biasa disebut dengan Syiah Ghul�t. Baik yang moderat maupun
yang ekstrem punya cerita dasar yang sama, yaitu menghormati keluarga
Nabi yang--menurut mereka--direpresentasikan Ali, Fathimah, Hasan, dan
Husain.

Sampai di situ, antara Sunni-Syi�ah tak ada banyak pertentangan.
Sebagaimana kelompok Syiah, kaum Sunni pun sangat menghormati keluarga
Nabi. Kalangan pesantren di Jawa dan Madura pasti tahu kitab Barzanji
yang ditulis al-Bushairi. Kitab yang dibaca setiap malam Jumat oleh
para santri di Jawa Timur itu memuat puji-pujian terhadap Nabi dan
keluarganya. Bacaan-bacaan doa penyembuhan yang populer di kalangan NU
pun berisi nama-nama keluarga Nabi sebagai wasilah.

Dengan demikian, Ahlul Bait disanjung demikian tinggi, bukan hanya
oleh Syiah melainkan juga kalangan Sunni Jawa. Dengan begitu, jelas
bahwa Islam Sunni yang punya pengikut paling besar di negeri ini
berpandangan positif terhadap keluarga Nabi.

Namun, beda dengan kaum Syiah, Sunni tak hanya menghargai Ahlul Bait
melainkan juga para sahabat Nabi dan isteri-isterinya secara
keseluruhan. Dalam tradisi Sunni, sosok-sosok seperti Abu Bakar
al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Aisyah, Hafshah, dan
lain-lain sangat dihargai, sebagaimana kaum Sunni menghargai Ali dan
Fathimah dengan sepenuh hati.

Kalau boleh meminjam bahasa Alqur`an, kaum Sunni hendak berkata: la
nufarriqu bayna ahadin minhum (kami tidak membeda-bedakan mereka).
Semua sahabat dan keluarga Nabi diperlakukan secara terhormat. Kaum
Sunni berpendirian kullus shah�bati �ud�l. Pandangan 
seperti ini
muncul, karena semua sahabat dan keluarga Nabi dianggap orang-orang
yang mendampingi Nabi ketika Islam berada dalam tekanan dan serangan
orang-orang Musyrik Mekah.

Berbeda dengan kalangan Sunni dan Syiah moderat, Syiah ektrem yang
kini mulai tumbuh di Jawa dan Madura, bukan hanya tak menghargai para
sahabat, bahkan membencinya. Saya kerap mendengar informasi tentang
kegemaran para dai Syiah ekstrem mencaci maki sahabat Umar bin
Khattab, Abu Bakar, Utsman, dan lain-lain. Ketiga sahabat ini dianggap
telah merampas tampuk kepemimpinan umat yang mestinya jatuh ke tangan
Ali bin Abi Thalib sepeninggal Nabi.

Tidak jarang caci-maki itu diekspresikan secara hiperbolik dan
dramatis. Saya tidak tahu, apa yang hendak dicapai dengan mereproduksi
secara terus-menerus pertarungan politik yang berlangsung empat belas
abad lalu itu. Apakah dengan mendaur-ulang wacana-wacana demikian tata
hubungan damai di antara umat Islam akan makin sehat?

Reproduksi kebencian jelas tak mendatangkan kemaslahatan. Sementara
bukti kemanfaatannya belum tampak, bukti kemudaratannya sudah di depan
mata. Sekiranya khotbah dan pernyataan panas seperti itu disampaikan
di tengah umat yang menghormati para sahabat, maka terjadinya konflik
tinggal menghitung hari dan menunggu momentum.

Syiah yang ekstrem mestinya bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan
kata-kata provokatif di kalangan umat Islam Sunni. Jika itu dilakukan,
tak tertutup kemungkinan Indonesia akan jadi seperti Irak dan
Pakistan, tempat Sunni dan Syi�ah saling menghancurkan dan membunuh.

Mengantisipasi hal itu, PBNU melalui salah satu seruannya meminta umat
Islam untuk tak terjebak di dalam konflik internal. Kaum Syiah diminta
untuk tak mengeluarkan statemen panas menyangkut sahabat-sahabat Nabi;
kaum Sunni diimbau tak bersikap emosial dan mudah tersinggung.

Taushiyah ini keluar sebagai seruan moral untuk menurunkan ketegangan
antara Sunni dan Syiah ekstrem yang pekan-pekan ini mengalami
pasang-naik di daerah tapal kuda Jawa Timur. Sebelum terlambat, perlu
disusun langkah-langkah antisipatif; bukan hanya supaya konflik tak
menjalar ke tempat lain, juga agar ketegangan di daerah santri itu tak
disusupi pihak lain.



Kirim email ke