sabenerna mah di kantor langganan koran ti saptu nepi ka poe jumaah. ngan biasana koran saptu jeung minggu sok dihijikeun jeung koran senen. di poe senen jadina koran numpuk pisan. nu poe saptu jeung minggu mah jarang pisan kabaca. paling macaan carpon jeung puisina koran tempo jeung kompas.
poe ieu, dina meja ngagoler republika minggu tanggal 13 mei kamari. sareretan kabaca kecap ajip. haha saha deui atuh nu kondang nu sok bulak balik di koran nu boga ngaran ajip lamun lain bah ajip rosidi. kusabab manehna kaasup penulis paporit kuring nya "kapaksa" koran republika teh di cokot, diilikan. geuning dina rubrik sosok teh ngulas kang hawe, pemred cupumanik. nu ngarasa kahudang "kasundaan"na ku bah ajip. mangga nyanggakeun artikelna di handap. mugya mangpaat pikeun pieunteungeun urang. kumaha pangalaman hawe setiawan manggihan deui (basa) ki sunda (dina dirina) ;)) punten ka nu geus maca. -- dh ~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~ :.nu dipalar lain pamuji, panyepét nu dipénta!.: datiparang.blog.com . deha.wordpress.com --cutat ti republika 13 mei 2007 kaca a3-- Hawe Setiawan Karena Ajip Rosidi * * Hawe Setiawan mengeluh ke Ajip Rosidi, sastrawan Sunda yang pernah lama mukim di Jepang. ''Kang, saya *kok* seperti dibunuh dua kali. Jadi Sunda tidak, jadi Indonesia juga *nggak*.'' Keluhan di akhir 1990-an itu ia lontarkan lantaran setiap berdiskusi dengan Ajip, Ajip selalu mengajaknya berdialog dalam bahasa Sunda, tetapi Hawe selalu memakai bahasa Indonesia. ''Saya jawab, saya sudah tidak ekspresif menggunakan bahasa Sunda,'' ujar Hawe Setiawan. Sekretaris Pusat Studi Sunda, Bandung, itu mengaku lebih lancar menggunakan bahasa Indonesia, kendati ia lahir di tatar Sunda. Tapi, ketika ia harus mengungkapkan pengalaman yang sangat pribadi, bahasa Indonesia kurang pas. Yang pas, ya, bahasa Sunda, tapi ia tak mampu mengungkapkannya. Mendengar keluhan itu, kata Hawe, ''Kang Ajip bilang, bagus *tuh*, ditulis *aja*.'' *Terpacu* Hawe bertemu Ajip di saat ia masih menjadi wartawan di Jakarta. Dari wawancara, kemudian hubungan meningkat dalam bentuk korespondensi, karena Ajip tinggal di Jepang. Surat-surat berbahasa Sunda yang dikirimkan Ajip, membuka kembali memori masa kanak-kanaknya saat dibesarkan di Cisalak, Subang. Hawe terpacu mempelajari bahasa Sunda. Ia rajin bertandang ke Perpustakaan Nasional. Ia juga membuka buku pelajaran bahasa Sunda untuk siswa SD. Ia pun mulai memberanikan diri menulis esai dalam bahasa Sunda. Untuk menambah rasa percaya diri, ia meminta dua sahabatnya, Darpan dan Cecep Burdansyah, yang sastrawan Sunda, mengoreksinya. Banyak kata yang mereka coret. ''Kira-kira beberapa bulan seperti itu, saya terus mencoba menulis dalam bahasa Sunda dan terus dikoreksi sampai saya merasa yakin betul bahwa saya bisa dan mereka meyakinkan bahwa saya bisa,'' ujar alumnus Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas padjadjaran, itu. Hingga, akhirnya, ketika surat yang kesekian kali dari Ajip datang, ia memberanikan diri untuk membalasnya dengan bahasa Sunda. Sebelumnya, membalas surat yang dikirim Ajip, Hawe selalu membalas dalam bahasa Indonesia. Sekarang, ia menjadi pemimpin redaksi majalah berbahasa Sunda di Bandung, * Cupumanik*. Sebelumnya, ia sempat menjadi wartawan majalah *Tiras*, majalah *Penta*, dan tabloid *Detak*. Untuk menggalakkan penggunaan bahasa Sunda, ia pun merintis pelatihan jurnalistik berbahasa Sunda. Ia juga menyunting berbagai tulisan berbahasa Sunda, karena ia menjadi editor di sebuah penerbit buku berbahasa Sunda. Berbagai cerita pendek berbahasa Inggris ia alihbahasakan ke dalam bahasa Sunda. Selain itu, Hawe juga menjadi editor di penerbit Pustaka Jaya, yang rajin menerbitkan buku-buku sastra. Ia juga menjadi sekretaris Yayasan Rancage, sebuah yayasan yang rutin menilai karya sastra berbahasa daerah. Saat ini, ia juga mengisi secara rutin kolom budaya di harian *Pikiran Rakyat*, Bandung, dan kolom perbukuan di harian *Republika*. Ia mengaku belajar menulis sejak SMP. ''Tapi, waktu itu tulisannya bukan untuk dipublikasikan seperti sekarang. Tapi, sejak kuliah, saya baru tahu kalau menulis juga bisa menghasilkan pendapatan,'' ujar dia. Pertemuannya dengan dunia tulis-menulis berawal dari kesukaannya membaca buku. Ayahnya, saat itu camat Cisalak, Subang, menyediakan taman bacaan. Di rumahnya, di kawasan Ledeng, Bandung utara, Hawe juga mendorong anak-anaknya gemar membaca. Di tempat bermain anak-anaknya di rumah, Hawe sengaja menyimpan rak buku. Lewat menulis, kata Hawe, ia ingin mengolah kembali pemikirannya setelah membaca buku. ''Sebenarnya, kesukaan saya yang paling utama adalah membaca,'' ujar peraih Anugerah Jurnalistik Moh Koerdi pada 2003 itu. Ia sangat gemar masalah budaya dan sastra. Kegemarannya ini telah mendorongnya merintis Komunitas Penyair Amatir pada 2004. Saking getolnya membaca buku, Hawe bahkan pernah nekat bolos kuliah selama tiga semester. Hanya untuk membaca buku di rumah. Akibatnya, ia harus menyelesaikan kuliahnya selama 15 semester. ''Saya punya prinsip, setiap hari harus membaca walau selembar dan setiap hari harus menulis walau sebaris,'' ujar pria kelahiran 21 November 1968 itu. Belum juga lulus kuliah, Hawe memberanikan diri menikah, setelah pulang dari berhaji. Teti Nurheliyati, istrinya, saat itu sudah bekerja di perusahaan tekstil. ''Suatu waktu saya dibelikan mesin tik oleh istri saya,'' ujar Hawe. Ia mengartikan pemberian mesin tik itu sebagai dukungan istrinya agar ia terus menulis. ''Kalau istri saya melihat saya sedang membaca, istri saya tidak akan mengganggu,'' ujar ayah dari Lulu Mustikaning Apsari (9 tahun) dan Arti Mustikaning Ati (7 tahun) itu. *Perpustakaan Sunda* Di Pusat Studi Sunda, Hawe dan kawan-kawan sedang merintis pembuatan perpustakaan khusus tentang sejarah Sunda, budaya Sunda, dan bahasa Sunda. Sudah dikoleksi 16 ribu judul buku, 600 buku di antaranya berbahasa Belanda. ''Seluruh literatur Sunda yang terbit selama tujuh tahun terakhir juga kami koleksi,'' ujar Hawe, yang kini sedang menempuh studi S2 di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Di berbagai kesempatan, Hawe selalu bicara soal budaya Sunda. ''Saya berkali-kali berbicara di berbagai kalangan. Masih banyak sumber pengetahuan di dalam kebudayaan Sunda yang sampai sekarang dibiarkan tidak digali. Contohnya naskah Sunda kuno yang tertulis dalam daun lontar, maupun daun nipah, dan dalam lembaran bambu,'' tutur dia. Ia pun lantas mendata naskah berbahasa Sunda kuno yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Di Perpustakaan Nasional ada 12 *koprak* (peti tempat menyimpan naskah) yang sudah terbaca. Ini setara dengan 13 judul naskah dengan jumlah halaman sebanyak 76. Masih ada sekitar 30 *kropak* lagi atau 80 judul yang jika dilembarkan menjadi sekitar 1.929 lembar halaman yang belum terbaca. Satu halaman itu hanya berisikan empat baris. Kini, tak banyak ahli yang bisa membaca dan menerjemahkan naskah-naskah kuno itu. Untuk mempelajari satu naskah saja, rata-rata diperlukan tiga bulan. ''Pertanyaannya, bagaimana agar para ahli filologi yang sedikit ini bisa memusatkan perhatiannya pada naskah itu dan tidak terganggu oleh kebutuhan sehari-hari,'' kata dia. Yayasan Rancage dan Pusat Studi Sunda, menurut Hawe belum mampu mendanai proyek itu. ''Kami ini yayasan kecil,'' ujarnya. (rfa ) [Non-text portions of this message have been removed]
