Kulantarn panulisna urang Psikologi ya jelaslah
"masalah hidup amat komplek". Sayah mah teu
satuju..hirupmah saderhana..kaidah
sunatullah..masalahna oge aaderhana..ngan kulantaran
URANG HIRUP DITALIAN KU KAIDAH2 ANU DIJIEUN
SORANGAN..JADI WEH KOMPLEK CENAH...BANYAK
MASALAH...lamun urang nagnut konseptualisme
"simple-easy" mah moal..meureun teu perlu konsultasi
ka psikolog oge. Anu peryogi mah nyaeta nganalisa
tingkah polah masyarakat Indonesia anu katingali pisan
tinggi egona...
--- Rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kepribadian Bangsa
> Fatalisme sebagai Tantangan Terbesar Bangsa
>
> KRISTI POERWANDARI
>
> Manusia Indonesia tengah dicengkeram fatalisme dan
> tidak menyadari
> betapa fatalisme demikian mudah menyedot kita ke
> pusaran kehancuran.
> Begitu banyak dari kita hidup fatalistik dalam
> berbagai bentuknya yang
> berbeda.
>
> Pengendara motor asal-asalan mengenakan helm,
> pengemudi mobil berpura-
> pura saja memasang sabuk pengaman di depan polisi,
> dan orang
> kebut-kebutan zig-zag menyalip dari bahu jalan tol.
>
> Bila ditanya, enteng jawabannya, "Tenang saja.
> Cerewet amat, sih.
> Kalau sudah masanya, lagi tidur di kamar juga bisa
> mati."
>
> Manusia-manusia makmur dan terpelajar tanpa malu
> melempar sampah di
> jalanan dan terus membangun gedung yang lebih besar,
> alasannya, "Sudah
> terlanjur. Semua orang juga begitu kan?"
>
> Bukan aneh menyaksikan lingkungan kita mengkritik
> kanan kiri secara
> sangat vokal, jebul mereka sendiri ternyata
> selingkuh, main uang, atau
> membuat laporan fiktif. Pembenarannya, "Kalau semua
> orang begitu dan
> kita tidak, ya kitanya yang mati."
>
> Manusia Indonesia kehilangan kerangka referensi
> untuk hidup tenteram
> lantaran demikian banyaknya masalah
> sosial-ekonomi-politik yang setiap
> harinya dijejalkan faktanya di depan kita.
>
> Lumpur panas Sidoarjo, bencana banjir,
> penembakan-penembakan oleh
> polisi pada orang terdekatnya, korupsi dan intrik
> politik
> pejabat-pejabat tertinggi, kriminalitas dan sebutlah
> apa saja yang
> setiap hari ramai diberitakan dalam media.
>
> Cikal bakal fatalisme sudah terasa bila kepekaan,
> kepedulian, dan rasa
> ikut bertanggung jawab sudah tidak ada.
>
> Fatalisme erat terkait dengan rasa putus asa dan
> tidak berdaya. Secara
> sederhana fatalisme dapat diartikan sebagai
> keyakinan bahwa manusia
> tidak mampu mengubah apa yang telah terjadi atau
> tergariskan.
> Keyakinan bahwa segala sesuatu pasti terjadi,
> menurut caranya sendiri,
> tanpa memedulikan usaha kita untuk menghindari atau
> mencegahnya.
>
> Hegel meyakini bahwa individu semata-mata adalah
> alat bagi "Roh
> Mutlak" sehingga kita jadi mengerti bahwa
> primordialisme dan
> pengotak-ngotakan kelompok adalah juga bentuk
> fatalisme.
>
> Orang muak, putus asa, dan marah melihat kebejatan
> moral dan kekacauan
> dalam masyarakat, lalu secara simplistis melemparkan
> kesalahan pada
> kelompok "yang lain".
>
> Dari cara berpikir ini, manusia tidak memiliki
> kehendak bebas, dan
> untuk bisa keluar dari kehancuran, yang harus
> dilakukan adalah
> memerangi "yang lain" tersebut melalui keyakinan
> tentang apa yang
> dikehendaki oleh "Roh Mutlak".
>
> Pengeboman dan penghancuran pihak lain dengan alasan
> apa pun,
> pembunuhan dalam rumah yang sekarang cukup sering
> diberitakan, adalah
> bentuk fatalisme. Bunuh diri jelas didasari
> fatalisme. Tetapi,
> keengganan berpikir juga merupakan bentuk fatalisme,
> setidaknya
> merupakan cara ampuh untuk 'memanfaatkan' fatalisme.
>
> Kasus IPDN
>
> Fatalisme (atau pemanfaatan fatalisme?) tampil jelas
> dari uraian
> mantan Rektor IPDN menanggapi pembekuan (sementara)
> kegiatan IPDN oleh
> Presiden. Seusai ikrar 'Anti Kekerasan' para praja
> yang demikian
> terasa rekayasanya, lebih kurang katanya, "Saya
> larang para praja
> menanggapi keputusan presiden. Kita tidak akan
> menanggapi. Kita ini
> (abdi negara, pegawai negeri) hanya melaksanakan."
>
> Pegawai negeri = abdi negara = hanya melaksanakan =
> tidak berpikir?
> Dari frase sangat singkat dan sederhana hanya
> melaksanakan ini, orang
> bisa melakukan apa saja: korupsi, pembunuhan,
> pemerkosaan, dan sebut
> tindakan-tindakan negatif lainnya tanpa harus
> (merasa) bertanggung
> jawab atas tindakannya.
>
> Kita ingat Eichmann penjahat perang Nazi, yang
> membiarkan terjadinya
> pembunuhan pada ribuan orang Yahudi dan menjelaskan
> dengan enteng
> tindakannya sebagai 'sekadar melaksanakan perintah'.
>
> Bila kita memahami psikologi manusia Indonesia,
> fatalisme sangat laku
> dijual dan memang sekarang menjadi lahan peruntungan
> sangat empuk bagi
> media. Apalagi penjelasannya bila sinetron-sinetron
> hidayah ramai
> menjamur, menawarkan solusi dari masalah hidup yang
> amat kompleks
> dalam bentuk yang sangat simplistis?
>
> Sebagian manusia Indonesia yang sudah disedot
> keputusasaan seperti
> melihat dirinya sendiri di sana: sangat teraniaya,
> tak mampu berbuat
> apa-apa. Gambaran ekstrem tentang pelaku kejahatan
> yang dihukum sadis
> dengan berdarah-darah, jenazah dipenuhi belatung,
> atau tak dapat
> dimakamkan akibat dosa yang tak terhingga mungkin
> dapat diterima,
> bahkan digemari, karena menjadi refleksi dari
> kemarahan sekaligus
> ketidakberdayaan masyarakat.
>
> Mimbar keagamaan juga menjadi sangat laku karena
> banyak orang
> kebingungan tak menemukan jawaban duniawi dan lari
> pada (yang
> dianggap) jawaban surgawi.
>
> Tanpa media, fatalisme sudah merebak akibat hidup
> yang sangat sulit
> bagi sebagian besar orang. Tetapi, dengan media yang
> memperdagangkan
> fatalisme, keyakinan ini disiram subur dan dapat
> bergulir ke sana-ke
> mari secara cepat dan destruktif.
>
> Menjadi kebutuhan sangat mendesak agar semua pihak
> melakukan
> langkah-langkah memerangi fatalisme lewat berbagai
> cara sesuai dengan
> kapasitas masing-masing. Manusia Indonesia perlu
> memperoleh kembali
> optimismenya, harapannya, dan rasa berdayanya untuk
> membangun bangsa.
>
> Kristi Poerwandari Dosen Fakultas Psikologi UI dan
> Program Studi
> Kajian Wanita UI; Pendiri Yayasan PULIH
>
>
____________________________________________________________________________________Take
the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC