Diskusi Kepemimpinan (1)
Gerak Zaman dan Pasang Surut Kepemimpinan

Pengantar Redaksi

Harian "Kompas" menggelar diskusi terbatas bertema "Mencari Kader
Pemimpin", 7 Mei lalu. Diskusi menghadirkan pembicara Direktur Riset
The Indonesian Institute Anies Baswedan, Direktur Eksekutif Soegeng
Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit, dan dosen Filsafat Universitas
Indonesia Rocky Gerung. Diskusi yang dipandu wartawan "Kompas" Budiman
Tanuredjo itu laporannya dimuat mulai hari ini.Setiap kali mendengar
lagu Indonesia Raya berkumandang, ingin menangis saja rasanya. Tanah
yang kaya-raya itu kini terengah, rakyatnya hidup dalam kenestapaan,
seperti anak ayam yang kehilangan induk. Sementara elite politik
begitu gaduh dan mengabaikan derita rakyat.

***

Oleh B Josie Susilo Hardianto

Karut-marutnya keadaan menggiring masyarakat kembali mempersoalkan
corak kepemimpinan. Kepemimpinan yang mampu memberi arah kepada bangsa
yang baru saja meninggalkan rezim otoriter menuju ruang baru bernama
demokrasi.

Regenerasi kepemimpinan sejak Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono
menjadi sesuatu yang menarik dicermati. Panelis Anies Baswedan
mengangkat isu corak pemimpin dan kepemimpinan di Indonesia. Persoalan
regenerasi kepemimpinan lama dibicarakan. Bukan hanya masa Soeharto,
bahkan pada era sebelumnya, semasa Soekarno memimpin Indonesia,
pertanyaan seputar siapa yang bakal mengganti mereka mengemuka dan
terus menjadi perdebatan.

Kondisi itu menyadarkan kepada kita mengenai perlunya membangun sistem
perekrutan calon pemimpin. Harus diakui, selain TNI (dulu ABRI), belum
ada lembaga lain yang sengaja memikirkan sistematika khusus untuk
melahirkan seorang pemimpin.

LB Moerdani, termasuk salah seorang petinggi TNI, bersama sejumlah
tokoh sipil lain, yang menyadari perlunya kader pemimpin militer kelas
satu. Ia merancang SMA Taruna Nusantara tahun 1987-1988 untuk
mendapatkan kader pemimpin militer nomor satu karena pada waktu itu,
orang nomor satu memilih perguruan tinggi semacam Institut Teknologi
Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Indonesia.

Langkah Benny dalam keseluruhan proses pencetakan pemimpin dalam tubuh
militer memberi warna baru. Saat ini, umumnya perwira menengah
memiliki wawasan yang jauh lebih berkembang. Dalam diskusi mengenai
Indonesia di Amerika Serikat, mereka menjadi partisipan aktif. "Mereka
mungkin bakal menjadi pemimpin pada tahun 2010 ke atas," ucap Anies
Baswedan.

Pada lembaga politik, proses penyiapan kader pemimpin tidak terjadi.
Mereka cenderung memfokuskan diri pada bagaimana menghadapi kekuasaan,
belum bagaimana melanggengkan kekuasaan. "Jika orang berbicara
melanggengkan, mereka berbicara penyiapan sumber daya, rekrutmen.
Kerja pemimpin politik sampai dengan tahun 1998 lebih banyak terfokus
bagaimana menggulingkan atau mengambil alih. Bagaimana melanggengkan
demokrasi belum menjadi agenda utama. Rekrutmen dan regenerasi belum
menjadi isu bagi mereka," ungkap Anies.

Kondisi ini memperlemah regenerasi kepemimpinan nasional, apalagi
potensi anak muda dalam partai cenderung belum dioptimalkan. Di antara
sekian banyak partai, Anies melihat hanya Partai Golkar yang
dinilainya memiliki keseriusan dalam kaderisasi kepemimpinan.

Dalam gerak sejarah, Anies mencoba mengenali bahwa di Indonesia,
pemimpin umumnya muncul dari jalur aristokrat: agama atau budaya.
Ketika pendidikan modern dikenalkan pada 1900-an muncul tren baru,
pemuda yang mengenyam pendidikan pada masa itu, sekitar 20-30 tahun
kemudian muncul sebagai pemimpin nasional. Mereka adalah Soekarno,
Hatta, dan Sjahrir. Sebaliknya, mereka yang tidak bersentuhan dengan
pendidikan modern terhempas dari percaturan elite politik.

Ketika Indonesia merdeka, fokus berubah. Usaha mempertahankan
kemerdekaan menjadi ikhtiar bahwa aktivitas utama bangsa adalah
aktivitas militer. Gerak sejarah mengubah prasyarat lahirnya kader
pemimpin. Jika pada masa sebelumnya ditandai dengan pemahaman terhadap
konsep modern tentang demokrasi, tentang negara, mampu berbahasa
Belanda, pada masa setelah kemerdekaan berubah.

Rekrutmen terjadi tanpa disengaja. Anak muda direkrut melalui jalur
militer dengan prasyarat yang berbeda dari perspektif politik dan
demokrasi angkatan sebelum kemerdekaan. Setelah 20-30 tahun,
keberanian itu mengantar mereka pada jalur utama kepemimpinan nasional.

Kecenderungan itu bukan hal aneh di sebuah negara yang baru merdeka.
Militer menjadi dominan. "Sehingga, kira-kira, kalau ada anak muda
ingin terlibat di dalam kepemimpinan nasional pasca-1945 dan masuk
Stovia, itu salah alamat," tutur Anis.

Tidak hanya itu, mereka pun pindah ke Yogyakarta, ikut bertempur.
Namun, Anies melihat, ada peran penting Sultan Hamengku Buwono IX.
Sultan selalu memberi perhatian kepada rakyatnya. Sengaja atau tidak,
Yogyakarta menjadi tempat munculnya anak muda yang kemudian menjadi
pemimpin republik ini. Soeharto dan Ahmad Yani adalah bagian dari
orang yang terekrut dalam proses seperti itu.

Mungkin tanpa disengaja, tapi peran aktif Sultan membuat kesempatan
itu terjadi. "Kalau republik pindahnya ke Bukittinggi barangkali lain.
Yang direkrut bukan Soeharto. Momentum itu direncanakan atau tidak
pada tahun 1960-1970 ke atas punya efek sehingga kita menyaksikan
warna Jawa yang kuat," kata Anies.

Pada masa tahun 1960-an, kepemimpinan militer menjadi langgeng karena
tidak ada akomodasi terhadap demokrasi. Memasuki masa tahun 1970-an,
kecenderungannya mulai berubah dengan ditandai munculnya pergerakan
pemuda. Namun, karakter gerakan itu berbeda jika dibandingkan dengan
gerakan mahasiswa era tahun 1900-an.

Karakter intelektualitas gerakan pemuda tahun 1960, 1970, hingga
1980-an dinilai lebih kecil. Kemunculan pemimpin nasional pada era itu
memiliki unsur kompromi dengan struktur yang masih didominasi militer.

Memasuki era 1990-an ketika demokratisasi muncul, mendadak peluang
munculnya kader pemimpin terbuka. Liberalisasi politik membuka ruang
bagi pemuda aktif dalam kancah politik nasional. Mereka muncul sebagai
pemimpin gerakan nasional masa kini.

Pada era ini, lembaga perwakilan dari DPRD sampai DPR, lembaga
eksekutif seperti bupati, wali kota, didominasi mantan aktivis
mahasiswa, aktivis pergerakan. "Jadi kira-kiranya, kalau ada anak muda
tahun 1980-an berminat menjadi pemimpin dan masuk Akademi Militer,
salah jalur," tutur Anis.

Lalu, bagaimana sekarang? Kecenderungan utama yang sangat memengaruhi
saat ini adalah pasar. Pasar begitu mewarnai kehidupan masyarakat dan
menyebabkan semua aktivitas menjadi aktivitas yang sifatnya transaksi
komersial.

Dengan kondisi seperti itu, Anies menduga, kader pemimpin masa depan
adalah anak muda yang saat ini berusia 30-an dan berada di wilayah
komersial. Sebagian besar memiliki latar belakang aktivis dan memiliki
basis intelektual, dan masih tersembunyi dari publik serta bukan
berasal dari kerajaan bisnis yang telah ada.

Meski demikian, pola rekrutmen pemimpin yang makin meniru gaya Amerika
dan didominasi sektor komersial juga mengkhawatirkan. Pada akhirnya,
kaum muda kapitalis ini akan makin dominan lantaran tidak ada
pengaturan antarwilayah ekonomi, pasar, dan politik. Pengaturan pasar
dan politik menjadi satu hal yang teramat penting. Gelontoran dana
telah menghilangkan perdebatan ideologi.

Kirim email ke