Abdi kantos ningal Bah filmna, pami teu lepat mah judulna "300", sejarah 
karajaan sparta (raja leonidas) ngalawan karajaan persia kuno, Xerxes 
rajana..., dina film eta tentara sparta nu jumlahna mung 300 tiasa ngelehkeun 
tangtara persia nu jumlahna rebu2an..
Film heuras pisan, salian ti Apocalypto

  ----- Original Message ----- 
  From: Waluya 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, September 04, 2007 2:44 AM
  Subject: [Baraya_Sunda] Iran : "Amerika" di jaman kuno


  Sababaraha bulan katukang aya pelem di bioskop nu nyaritakeun Persia kuno
  nu mumusuhan jeung Romawi. Hanjakal kuring teu nonton, ngan ukur carita si
  Cikal, anu kungsi lalajo. Inget baheula, aya tulisan dina koran nu
  nyebutkeun Syah Iran (Sultan Iran nu digulingkeun ku Khomaeni) kaobsesi ku
  kajayaan Raja Cyrus di jaman Persia Kuno. Sigana lain Syah Iran wae, tapi
  oge rakyat Iran anu hayang nagarana jadi "super-power" deui, siga jaman
  kuno baheula.

  Artikel dihandap ieu, kenging Pak Rektor UIN Gunung Jati, nu nyaritakeun
  pangalamanana waktu nganjang ka Iran.

  Iran Pernah Menjadi Negara "Superpower" di Masa Lalu

  Oleh Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, M.S.

  http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/04/0903.htm

  PADA tanggal 14 sampai dengan 20 Juli 2007, saya selaku Rektor Universitas
  Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung beserta rektor-rektor perguruan
  tinggi lainnya mendapat kehormatan undangan dari Islamic Cultural Center
  (ICC) untuk melihat kondisi masyarakat Iran kontemporer dari dekat.

  Ketika itu, kami kebetulan bertemu juga Amien Rais yang menjadi nara
  sumber dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh badan kerja
  sama persatuan pelajar Indonesia se-Timur Tengah dan sekitarnya dan juga
  bertemu dengan rombongan Majelis Ulama Indonesia di bawah pimpinan
  Profesor Umar Shihab yang sama-sama mendapat undangan dari Iran.

  Rombongan rektor-rektor sempat berkunjung ke Kota Qom yang terkenal tempat
  Ayatullah Khomaeni mengobarkan semangat revolusi Islam Iran sehingga
  menjatuhkan Raja Pahlevi, kemudian Kota Teheran, Ibu Kota Iran dan juga
  diterima oleh para Ayatullah, rektor-rektor universitas. Kami juga sempat
  pula berkunjung ke galeri, rumah sederhana sebagai kediaman terakhir
  Ayatullah Khumaini sebelum meninggal dan perpustakaan Ayatullah Marashi
  Nasafi yang terbesar ke tiga di dunia setelah Turki dan Mesir yang
  memiliki 38.000 manuskrip, 75.000 judul buku.

  Buku-buku tersebut tersebar ke seluruh perpustakaan di dunia, termasuk
  Harvard University dan Chicago University dan terdapat buku yang ditulis
  oleh ulama-ulama besar seribu tahun yang lalu, di samping itu ada kitab
  Tauret, Injil, dan Zabur termasuk kitab-kitab yang ditulis pada zaman
  Khalifah Umar, Utsman, dan Ali, dan terakhir diterima oleh Menteri Sains,
  Riset dan Teknologi Prof. Mohammad Mehdi Zahedi. Ia pernah mengatakan
  bahwa Iran memiliki program 20 tahun ke depan dalam upaya membangun Iran
  modern yang sekarang sudah berjalan tahun ketiga yang mencanangkan Iran
  sebagai negara yang paling unggul menguasai sains dan teknologi di dunia
  Islam.

  Oleh karena itu, sepertiga penduduk Iran alumni perguruan tinggi, dua
  pertiga dosen yang tersebar di 40 perguruan tinggi berlatar belakang
  pendidikan S-3, walaupun dalam menghadapi situasi negara mendapat ancaman
  embargo internasional.

  Ajengan

  Yang terlintas dalam pikiran saya sebelum melihat Teheran dari dekat,
  bahwa yang disebut Ayatullah adalah seperti halnya di Indonesia Kiai atau
  ajengan yang hanya menguasai ilmu agama saja. Ternyata setelah saya
  bertemu dengan para Ayatullah yang berjenggot dan berjubah sesuai dengan
  tradisi Iran saya terkejut dan kaget ternyata mereka adalah para profesor
  yang bukan hanya menguasai ilmu agama saja, tetapi mereka juga adalah
  filsuf, ilmuwan-ilmuwan dalam bidang ilmu sosial, sains dan teknologi.
  Mereka fasih bicara agama dan juga fasih bicara filsafat, sains dan
  teknologi sesuai dengan bidangnya. Dalam bincang-bincang dengan Amien Rais
  ia mengemukakan kepada saya dengan mengutip pendapat salah seorang
  profesor dari Chicago University bahwa Ayatullah Khumaini itu adalah bukan
  hanya seorang Ayatullah saja, tetapi ia adalah filsuf besar di abad 20
  yang kecemerlangan pemikirannya melebihi filsuf Plato dan Aristoteles.
  Saya tadinya tidak percaya terhadap pendapat Amien Rais tersebut, tetapi
  setelah melihat dari dekat di Galeri Khumaini yang terletak di sebelah
  utara Kota Teheran saya melihat karya-karya tulisnya sangat banyak yang
  mencerminkan kedalaman seorang filsuf besar sehingga membuktikan kebenaran
  pernyataan Amien Rais itu.

  Status sosial

  Di Iran, Ayatullah strata yang paling tinggi dalam masyarakat baik secara
  politis maupun secara status sosial, sehingga kekuasaan tertinggi negara
  ada di bawah kekuasaan Ayatullah yang sekarang yang dipimpin Ayatullah Ali
  Khameni. Karena itu foto-foto yang terpampang di kantor-kantor dan di
  bandara bukan foto Presiden Iran seperti halnya di Indonesia atau di
  negara-negara lain, tetapi foto Ayatullah Khumaini dan Ayatullah Ali
  Khameni sebagai penerus Imam Khumaini. Itulah sebabnya ketika rombongan
  Majelis Ulama Indonesia di bawah pimpinan Profesor Umar Shihab begitu
  mendarat di bandara dan sampai ke hotel disambut secara upacara militer
  layaknya seorang presiden diterima di salah satu negara, karena mungkin
  dalam pikiran mereka bahwa MUI adalah sama dengan para Ayatullah di Iran
  yang memiliki kekuasaan politik tertinggi, sehingga Umar Shihab dikawal
  militer kemana pun beliau pergi.

  Iran selama berabad-abad dikenal dengan sebutan lama, Persia, terletak di
  salah satu tempat jalan silang utama yang menghubungkan Eropa dan Timur
  Tengah dengan Asia Tengah. Iran berarti Tanah Aria sebutan yang mengacu
  kepada permukiman asli di Iran. Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, bangsa
  Aria berhasil menyatukan daerah Persia dan mendirikan kerajaan yang besar.
  Di puncak kejayaannya di abad V dan VI Sebelum Masehi (SM), kekaisaran
  Iran (Persia) menguasai hampir separuh dunia kuno yang telah berada.
  Persia kuno banyak mempengaruhi organisasi politik, seni, ilmu
  pengetahuan, dan agama di Asia dan Eropa. Namun, setelah mengalami
  berbagai peperangan dan penyerbuan oleh bangsa Yunani, Arab, Turki, dan
  Mongolia akhirnya kekaisaran Iran (Persia) untuk waktu yang cukup lama
  sejak awal tahun 1900-an Iran membuat langkah mantap untuk menjual standar
  materi dan teknologi Barat. Namun, usaha ini sempat terhambat karena
  terjadi revolusi Islam yang dipimpin Ayatullah Khumaini yang menjatuhkan
  dinasti Pahlevi sehingga sejak bulan april 1979 mengantarkan Iran menjadi
  Republik Islam Iran.

  Pesat

  Ekonomi Iran berkembang pesat semasa Syah di tahun 1960-1970-an. Minyak
  memberikan andil besar di dalam kekayaan negara dan hasil penjualan
  minyaknya dipakai untuk membiayai modernisasi di bidang militer, industri,
  dan reformasi lahan pertanian. Hasil minyak mencapai rekor tertinggi pada
  tahun 1970-an, ketika Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya, dengan
  bekerja sama di dalam negara-negara pengekspor minyak (OPEC), mulai
  mengendalikan produksi minyak dunia dan memaksa harga minyak naik.
  Revolusi Islam 1974 dan perang yang berkepanjangan dengan Irak,
  berbarengan dengan ambruknya OPEC telah memukul sekali ekspor minyak Iran
  sehingga amat menekan ekonominya pada tahun 1980-an.

  Kira-kira 40% tenaga buruhnya bekerja di bidang pertanian, gandum
  merupakan tanaman pokok, sedangkan padi, jawawut, dan padi-padian, gula,
  kapas, teh, buah-buahan, kacang, kambing, dan biri-biri. Sekitar 33%
  tenaga buruhnya bekerja di pertambangan, pabrik, dan perdagangan minyak.
  Industri minyak ini telah melahirkan industri perekonomian yang besar yang
  menghasilkan pupuk, plastik, serat tiraan, dan produksi lainnya. Produk
  nonmigas Iran adalah logam, peralatan mesin, kendaraan dan karpet. Setelah
  revolusi Islam Iran 1979 semua industri minyak, pabrik, dan perbankan
  dinasionalisasikan.

  Walhasil Iran dalam sejarah peradaban dunia pernah menjadi negara
  superpower atau adikuasa yang pada saat itu sparing partnernya Kerajaan
  Romawi sehingga dalam sejarah terkenal perseteruan adikuasa peradaban
  Kerajaan Persia dan Kerajaan Romawi, seperti halnya perseteruan negara
  adikuasa pada abad 20 antara Amerika dan Uni Soviet.

  Oleh karena itu, jika melihat latar belakang budaya, militer dan tradisi
  intelektualnya yang cukup tinggi, wajar jika hari ini bangsa Iran memiliki
  self confidence yang cukup tinggi sehingga tidak begitu mudah menyerah
  kepada siapa pun dan negara mana pun ketika mereka mendapat ancaman,
  tekanan, serangan termasuk masalah larangan pembangunan nuklir untuk
  tujuan damai itu seperti terungkap pula ketika saya bertemu dengan salah
  seorang Ayatullah Prof. Dr. Ayatullah Mohammad Taqi bahwa Iran bangsa yang
  telah dewasa yang tidak membutuhkan pengaturan orang lain. Ia menilai
  tidak boleh ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki musuh tidak
  dimiliki Iran. Semua bangsa berhak sama-sama memiliki sesuatu termasuk
  nuklir kalau itu akan memberikan kebaikan bagi bangsa dan orang lain.

  Itulah sebabnya para rektor sepakat dan menandatangani MoU kerja sama
  antara rektor-rektor perguruan tinggi Indonesia dengan rektor-rektor
  perguruan tinggi di Iran yang programnya adalah menyelanggarakan
  pertukaran dosen, mahasiswa, penelitian, dan seminar-seminar internasional
  untuk membangun peradaban dunia yang sejahtera, damai dan adil.
  Mudah-mudahan program ini segera terwujud dalam rangka menyambungkan
  kembali kejayaan peradaban Islam abad 7 Masehi sampai abad 13 Masehi yang
  pernah hilang.***

  Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
  dan Ketua Presidium ICMI Pusat



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.484 / Virus Database: 269.13.3/986 - Release Date: 2007-09-03 
09:31


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke