Kang..Euceu..khususna Kang Ikhsan..tingkat inflasi urang anu 6.4 teh
katingalina siga nu normal (sacara bilangan prosentasi)..tapi tingali tina
kayaan sosialna...40 juta panganguur sareng PDB anu masih keneh handap.
Inflasi 6.4 % teh ditukangna digayotan nyata2 ku ancurna daya beuli
rayat kulantaran pangangguran..jeung epek semu tina subsidi BBM. Iraha
nagara ri bisa nflasna 6.4%..tapi panganggurna 3% (6 juta urang)..tah eta
PDB sugan bisa nerekel........

On 1/7/08, Rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Menimbang Inflasi 2008
>
> M Ikhsan Modjo
>
> Ernest Hemingway, seorang novelis dan jurnalis kondang dari Amerika
> Serikat, pernah menulis bahwa selain peperangan, inflasi adalah cara
> lain untuk menghancurkan suatu bangsa. Alasannya, inflasi mengikis
> daya beli dan memiskinkan masyarakat. Inflasi juga mengakibatkan
> transfer kekayaan dari rakyat berpendapatan tetap, yang biasa hidup
> papa dan merana, ke pemerintah dan golongan kaya secara diam- diam dan
> tidak kasatmata.
>
> Kesemua ini pada akhirnya akan berujung pada keraguan, ketidakpastian,
> serta ketidakpercayaan. Konsumen menjadi ragu antara menabung atau
> mengonsumsi. Pengusaha menjadi tidak pasti berinvestasi dan memulai
> usaha. Sementara masyarakat menjadi tidak percaya kepada pemerintah
> atau sesama, yang berakibat buruk bukan hanya pada perekonomian,
> tetapi juga dinamika dan modal sosial suatu bangsa.
>
> Percaya diri
>
> Data terakhir menunjukkan bahwa inflasi nasional masih tergolong
> normal, sebesar lebih kurang 6,4 persen. Pertanyaannya sekarang adalah
> bagaimana prospek di tahun 2008? Akankah inflasi terus terkendali atau
> justru sebaliknya: ia akan meningkat drastis seraya mengancam
> stabilitas makro, yang sesungguhnya merupakan fondasi dari pertumbuhan
> ekonomi yang ada dua tahun terakhir.
>
> Tentunya hal ini akan sangat bergantung pada bagaimana antisipasi Bank
> Indonesia (BI)—serta pemerintah—dalam menghadapi berbagai tantangan
> internal dan eksternal yang dihadapkan pada perekonomian nasional.
> Sampai sejauh ini, BI agaknya cukup percaya diri dan memastikan bahwa
> tingkat inflasi akan terus terjaga ke depan (Kompas, 25/11/2007).
> Sikap penuh percaya diri ini dimanifestasikan dengan pemangkasan suku
> bunga BI sebesar 25 basis poin ke tingkat 8 persen pada awal Desember
> lalu. Jika tidak ada aral merintang, hampir bisa dipastikan hal yang
> sama juga akan terulang pada awal Januari 2008.
>
> Di satu sisi, keputusan ini bukan tidak berdasar. Tingkat inflasi pada
> November 2007 tercatat cukup rendah, sebesar 0,18 persen. Sementara
> tingkat pertumbuhan PDB pada kuartal ketiga 2007 tercatat cukup
> tinggi, sebesar 6,5 persen. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa
> tidak ada tanda-tanda adanya desakan inflatoir cukup serius yang patut
> diwaspadai. Di sisi lain, terdapat beberapa alasan untuk menyangsikan
> kebenaran dua indikator tersebut untuk menjustifikasi inflasi yang
> terus rendah pada tahun ini.
>
> Pertama, November 2007 adalah bulan sesudah bulan puasa dan hari raya,
> di mana tidak bergejolaknya harga merupakan satu hal yang lazim.
> Deflasi atau penurunan harga pada bulan sesudah hari raya kerap
> terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi, bisa dikatakan bahwa
> rendahnya tingkat inflasi bulan November bukan ukuran yang akurat akan
> terkendalinya harga.
>
> Kedua, bulan Desember lalu tekanan inflasi menguat sebagai akibat
> kenaikan permintaan pada perayaan Natal/Tahun Baru dan hari raya
> Kurban. Kedua even keagamaan yang jatuh pada waktu berdekatan
> mengakibatkan tekanan yang hampir sama kuatnya terhadap harga
> sebagaimana bulan Oktober, ketika terjadi hari raya Idul Fitri.
>
> Ketiga, terkait dengan di atas, tekanan inflasi pada bulan Desember
> juga terjadi akibat tingginya belanja pemerintah, baik pusat maupun
> daerah, yang terpusat pada akhir tahun. Selama ini, sampai dengan
> bulan November 2007, baru sekitar 40-50 persen anggaran pemerintah
> pusat dan daerah yang dibelanjakan untuk tahun anggaran 2007.
>
> Keempat, tekanan inflasi ke depan juga akan menguat sebagai akibat
> derasnya arus investasi asing. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda
> arus modal asing akan mereda. Sebaliknya, data awal menunjukkan bahwa
> akan terjadi peningkatan arus modal asing tahun ini, yang
> diprediksikan akan mencapai lebih besar 15,6 miliar dollar AS
> ketimbang tahun lalu.
>
> Makin besarnya animo investor asing didorong oleh banyak faktor,
> antara lain prediksi pelemahan ekonomi di banyak negara maju akibat
> efek berantai krisis keuangan subprime mortgage serta masih tingginya
> risiko politik di negara berkembang lain.
>
> Last but not least, akumulasi kenaikan harga minyak dunia akan
> mendorong tingkat harga domestik ke atas, yang berujung pada inflasi.
>
> Potensi akut
>
> Masih belum terasanya dampak kenaikan harga minyak pada perekonomian
> domestik saat ini disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama adalah
> relatif terinsulasinya konsumsi rumah tangga berkat subsidi BBM.
> Faktor kedua adalah adanya efek keterlambatan (lag effect) transmisi
> harga dari tingkatan harga minyak mentah di pasar dunia ke harga
> minyak eceran di tingkat konsumen.
>
> Akan tetapi, seiring dengan merangkaknya biaya bahan baku dan
> distribusi pada sektor produksi sebagai kenaikan harga minyak,
> kenaikan harga ini akan tertransmisi ke tingkat eceran dan rumah
> tangga, yang akan meningkatkan inflasi domestik.
>
> Alhasil, dari beberapa faktor di atas, inflasi tinggi masih merupakan
> potensi akut tahun ini.
>
> Dalam hal ini, selain terapi moneter, setidaknya ada dua kebijakan
> sebagai langkah pengaman, yang memiliki risiko politik dan ekonomi
> yang kecil. Langkah pertama adalah memastikan gejolak harga minyak
> sepenuhnya diserap APBN. Langkah ini penting untuk menginsulasi rumah
> tangga konsumen dari kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi spiral.
> Sementara langkah kedua adalah mempersempit koridor lalu lintas devisa
> serta mengarahkan modal asing yang masuk lebih pada sektor-sektor yang
> produktif, bukan sebatas investasi portofolio.
>
> Terakhir, Hemingway bisa jadi salah. Peningkatan inflasi tahun ini
> tidak akan sampai menghancurkan bangsa ini. Akan tetapi, inflasi bisa
> jadi menghancurkan momentum dan fondasi pertumbuhan yang sudah ada.
> Untuk itu, kejelian pengambil kebijakan dalam merespons kondisi yang
> ada sungguh sangat dibutuhkan.
>
> M Ikhsan Modjo Pengajar FE Unair, Ekonom Institute for Development of
> Economics and Finance (Indef)
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke