Menimbang Inflasi 2008 M Ikhsan Modjo
Ernest Hemingway, seorang novelis dan jurnalis kondang dari Amerika Serikat, pernah menulis bahwa selain peperangan, inflasi adalah cara lain untuk menghancurkan suatu bangsa. Alasannya, inflasi mengikis daya beli dan memiskinkan masyarakat. Inflasi juga mengakibatkan transfer kekayaan dari rakyat berpendapatan tetap, yang biasa hidup papa dan merana, ke pemerintah dan golongan kaya secara diam- diam dan tidak kasatmata. Kesemua ini pada akhirnya akan berujung pada keraguan, ketidakpastian, serta ketidakpercayaan. Konsumen menjadi ragu antara menabung atau mengonsumsi. Pengusaha menjadi tidak pasti berinvestasi dan memulai usaha. Sementara masyarakat menjadi tidak percaya kepada pemerintah atau sesama, yang berakibat buruk bukan hanya pada perekonomian, tetapi juga dinamika dan modal sosial suatu bangsa. Percaya diri Data terakhir menunjukkan bahwa inflasi nasional masih tergolong normal, sebesar lebih kurang 6,4 persen. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana prospek di tahun 2008? Akankah inflasi terus terkendali atau justru sebaliknya: ia akan meningkat drastis seraya mengancam stabilitas makro, yang sesungguhnya merupakan fondasi dari pertumbuhan ekonomi yang ada dua tahun terakhir. Tentunya hal ini akan sangat bergantung pada bagaimana antisipasi Bank Indonesia (BI)—serta pemerintah—dalam menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal yang dihadapkan pada perekonomian nasional. Sampai sejauh ini, BI agaknya cukup percaya diri dan memastikan bahwa tingkat inflasi akan terus terjaga ke depan (Kompas, 25/11/2007). Sikap penuh percaya diri ini dimanifestasikan dengan pemangkasan suku bunga BI sebesar 25 basis poin ke tingkat 8 persen pada awal Desember lalu. Jika tidak ada aral merintang, hampir bisa dipastikan hal yang sama juga akan terulang pada awal Januari 2008. Di satu sisi, keputusan ini bukan tidak berdasar. Tingkat inflasi pada November 2007 tercatat cukup rendah, sebesar 0,18 persen. Sementara tingkat pertumbuhan PDB pada kuartal ketiga 2007 tercatat cukup tinggi, sebesar 6,5 persen. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa tidak ada tanda-tanda adanya desakan inflatoir cukup serius yang patut diwaspadai. Di sisi lain, terdapat beberapa alasan untuk menyangsikan kebenaran dua indikator tersebut untuk menjustifikasi inflasi yang terus rendah pada tahun ini. Pertama, November 2007 adalah bulan sesudah bulan puasa dan hari raya, di mana tidak bergejolaknya harga merupakan satu hal yang lazim. Deflasi atau penurunan harga pada bulan sesudah hari raya kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi, bisa dikatakan bahwa rendahnya tingkat inflasi bulan November bukan ukuran yang akurat akan terkendalinya harga. Kedua, bulan Desember lalu tekanan inflasi menguat sebagai akibat kenaikan permintaan pada perayaan Natal/Tahun Baru dan hari raya Kurban. Kedua even keagamaan yang jatuh pada waktu berdekatan mengakibatkan tekanan yang hampir sama kuatnya terhadap harga sebagaimana bulan Oktober, ketika terjadi hari raya Idul Fitri. Ketiga, terkait dengan di atas, tekanan inflasi pada bulan Desember juga terjadi akibat tingginya belanja pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang terpusat pada akhir tahun. Selama ini, sampai dengan bulan November 2007, baru sekitar 40-50 persen anggaran pemerintah pusat dan daerah yang dibelanjakan untuk tahun anggaran 2007. Keempat, tekanan inflasi ke depan juga akan menguat sebagai akibat derasnya arus investasi asing. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda arus modal asing akan mereda. Sebaliknya, data awal menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan arus modal asing tahun ini, yang diprediksikan akan mencapai lebih besar 15,6 miliar dollar AS ketimbang tahun lalu. Makin besarnya animo investor asing didorong oleh banyak faktor, antara lain prediksi pelemahan ekonomi di banyak negara maju akibat efek berantai krisis keuangan subprime mortgage serta masih tingginya risiko politik di negara berkembang lain. Last but not least, akumulasi kenaikan harga minyak dunia akan mendorong tingkat harga domestik ke atas, yang berujung pada inflasi. Potensi akut Masih belum terasanya dampak kenaikan harga minyak pada perekonomian domestik saat ini disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama adalah relatif terinsulasinya konsumsi rumah tangga berkat subsidi BBM. Faktor kedua adalah adanya efek keterlambatan (lag effect) transmisi harga dari tingkatan harga minyak mentah di pasar dunia ke harga minyak eceran di tingkat konsumen. Akan tetapi, seiring dengan merangkaknya biaya bahan baku dan distribusi pada sektor produksi sebagai kenaikan harga minyak, kenaikan harga ini akan tertransmisi ke tingkat eceran dan rumah tangga, yang akan meningkatkan inflasi domestik. Alhasil, dari beberapa faktor di atas, inflasi tinggi masih merupakan potensi akut tahun ini. Dalam hal ini, selain terapi moneter, setidaknya ada dua kebijakan sebagai langkah pengaman, yang memiliki risiko politik dan ekonomi yang kecil. Langkah pertama adalah memastikan gejolak harga minyak sepenuhnya diserap APBN. Langkah ini penting untuk menginsulasi rumah tangga konsumen dari kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi spiral. Sementara langkah kedua adalah mempersempit koridor lalu lintas devisa serta mengarahkan modal asing yang masuk lebih pada sektor-sektor yang produktif, bukan sebatas investasi portofolio. Terakhir, Hemingway bisa jadi salah. Peningkatan inflasi tahun ini tidak akan sampai menghancurkan bangsa ini. Akan tetapi, inflasi bisa jadi menghancurkan momentum dan fondasi pertumbuhan yang sudah ada. Untuk itu, kejelian pengambil kebijakan dalam merespons kondisi yang ada sungguh sangat dibutuhkan. M Ikhsan Modjo Pengajar FE Unair, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
