Enya euy lere barang2 di Ace hardware 80 % Cina..aralus deuih.....

On 9/2/08, Rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Menyikapi Kebangkitan China
> Selasa, 2 September 2008 | 00:57 WIB
>
> Syamsul Hadi
>
> China sukses sebagai tuan rumah sekaligus juara umum Olimpiade 2008.
> Ini melengkapi kisah "kebangkitan China" di bidang ekonomi, politik,
> dan militer.
>
> Setelah seabad lebih "tenggelam" dalam sejarah kelam kolonialisme dan
> sistem komunisme tertutup, kebangkitan kembali China di kancah
> internasional menjadi fakta tak terbantahkan. Bagaimana masyarakat
> internasional merespons kebangkitan China dan bagaimana dampak
> kebangkitan itu bagi Indonesia?
>
> Hasil survei Haris Poll menunjukkan, mayoritas responden di Eropa
> mempersepsikan China sebagai "ancaman terbesar" bagi stabilitas
> global. Di Amerika Serikat, 31 persen responden memandang China
> sebagai ancaman terbesar dunia, melebihi Iran dan Korea Utara yang
> sempat "dicap" Presiden Bush sebagai bagian Axis of Evil (Financial
> Times, 16/4). Bahkan, sepuluh hari menjelang pembukaan Olimpiade
> Beijing, Amnesti Internasional mengumumkan, situasi HAM di China makin
> memburuk dalam tahun-tahun terakhir.
>
> Beberapa alasan mendasari persepsi tentang "ancaman China". Pertama,
> sistem politik China yang tak demokratis menyulitkan kontrol rakyat
> terhadap kemungkinan penyalahgunaan kekuatan militer. Kedua, China
> dituduh menggunakan kapasitas militer untuk membungkam gerakan
> demokrasi dan HAM di dalam negeri. Ketiga, China dituduh membantu
> diam-diam negara-negara "pelanggar HAM", seperti Myanmar dan Sudan,
> untuk kepentingan akses energi dan sumber alam. Keempat, bantuan
> ekonomi tak bersyarat China untuk negara-negara berkembang, yang
> didasari prinsip non-intervention, dinilai telah "memotong" kampanye
> internasional untuk penegakan demokrasi dan good governance.
>
> Internasionalisasi China
>
> Menariknya, persepsi negatif tentang China tidak selalu berimplikasi
> di level kebijakan. Hampir semua negara besar, termasuk AS dan Uni
> Eropa, menolak anjuran memboikot Olimpiade Beijing. Pada awal masa
> jabatannya Presiden George Walker Bush menyatakan, hubungan AS-China
> harus diubah dari pendekatan strategic partnership ala Clinton kepada
> pola strategic competition yang konfrontatif. Memang, Bush tetap
> berupaya mengurangi pengaruh regional China dengan memperkuat hubungan
> keamanan dengan India dan Jepang. Namun, perang melawan terorisme
> global yang menguras energi memaksa Bush bersikap lebih akomodatif
> terhadap China. Bush bahkan mengancam akan menarik dukungan AS atas
> Taiwan bila negeri itu mengumumkan kemerdekaannya dari China.
>
> Dengan strategi peaceful rise yang dicanangkan Hu Jintao, para
> pemimpin China berupaya meyakinkan, "kebangkitan China" akan
> memperkokoh stabilitas dan perdamaian dunia. Ini dibuktikan sejak
> tahun 2000 China aktif dalam misi perdamaian internasional di Timor
> Timur, Etiopia-Eritrea, Afganistan, Kosovo, dan Lebanon.
>
> Di bidang ekonomi, masuknya China ke WTO (2001) serta kepemimpinan
> China (dan India) dalam KTM WTO di Geneva (2008) mempertegas profil
> internasional China. Di Afrika, internasionalisasi China ditandai
> dengan penyelenggaraan Forum on China-Africa Cooperation (2006), di
> mana China memberi komitmen bantuan "tanpa syarat" sebesar 5 miliar
> dollar AS kepada para kepala negara Afrika.
>
> Di ASEAN, citra positif China mulai mengemuka semasa Krisis Asia
> setelah China konsisten tidak mendevaluasi mata uangnya dan membantu
> empat miliar dollar AS melalui IMF dan jalur bilateral. Survei
> Kementerian Luar Negeri Jepang di enam negara ASEAN (2008)
> menghasilkan kesimpulan, pengaruh China di Asia Tenggara telah
> melampaui Jepang.
>
> Di bidang keamanan, China meninggalkan pendekatan koersif dalam
> sengketa wilayah di Laut China Selatan dengan menandatangani
> Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (2002),
> yang diikuti penandatanganan ASEAN's Treaty of Amity and Cooperation
> (2003). Di Asia Timur Laut, China aktif membujuk pemerintahan Pyong
> Yang agar bersikap kooperatif dalam isu nuklir melalui Six Party
> Talks. Persaingan panas China-Jepang 2001-2006, akhirnya "dimenangi"
> China, dengan melunaknya sikap pemimpin Jepang pasca-Koizumi.
>
> Posisi Indonesia
>
> Di bidang politik dan keamanan, Indonesia dipaksa menempuh strategi
> constructive engagement dalam hubungan dengan China mengingat strategi
> konfrontatif dipastikan akan memukul Indonesia. Ini tecermin dari
> penandatanganan Strategic Partnership Agreement Indonesia-China
> (2005), yang diimplementasikan dalam berbagai kerja sama, termasuk
> capacity building di bidang militer. Dalam konteks ini Dubes Indonesia
> untuk China, Sudrajat, menyatakan, hubungan Indonesia-China kini
> sedang memasuki masa honeymoon (The Jakarta Post, 14/4).
>
> Kebangkitan China terasa lebih problematis bagi Indonesia di bidang
> ekonomi. Di satu sisi pemerintah optimistis, volume perdagangan
> antarkedua negara yang ditargetkan mencapai 30 miliar dollar AS akan
> mudah dicapai pada tahun 2010 mengingat angka 25 miliar dollar AS
> telah dilampaui tahun 2007. Namun, di sisi lain, tidak seperti Jepang,
> China lebih mendasarkan ekonominya pada perdagangan daripada investasi
> keluar negeri. Data BKPM menunjukkan, periode Januari-September 2007
> China menduduki peringkat ke-15 dalam daftar negara investor di
> Indonesia dengan nilai investasi sebesar 19,8 miliar dollar AS.
> Kecuali di bidang energi, Indonesia tak dapat berharap banyak pada
> peningkatan investasi China.
>
> Sejalan prediksi Bank Dunia (2004), China menjadi pesaing utama
> Indonesia dalam ekspor nonmigas karena kesamaan produk unggulan,
> seperti tekstil, mainan anak-anak, dan sepatu olahraga. Menyempitnya
> ruang ekspor dan banjir impor produk murah asal China membuat banyak
> perusahaan di Tanah Air bangkrut.
>
> Kebangkitan ekonomi China adalah wake up call bagi Indonesia untuk
> memikirkan ulang strategi pembangunan yang ditempuh selama ini.
> Seriuskah kita memupuk daya saing produk nasional?
>
> Syamsul Hadi Pengajar di Departemen Hubungan Internasional; Kepala
> Cluster of Global Awareness FISIP UI
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke