Bangsa yang "Tahan Banting"
Senin, 6 Oktober 2008 | 02:00 WIB

Oleh MYRNA RATNA

Empat puluh tahun lalu, ekonom Swedia yang juga pemenang Nobel, Gunnar
Myrdal, menulis karya monumental, Asian Drama: An Inquiry into the
Poverty of Nations, yang berisi kajian terhadap negara-negara Asia
Selatan dan Tenggara (khususnya India, tetapi juga melebar ke
Indonesia dan negara-negara lain). Myrdal menggambarkan, negara-negara
di kawasan itu dirundung kemiskinan, dibayangi ledakan penduduk dan
perekonomian yang suram.

Penyebab kondisi itu, menurut Myrdal, adalah "keterbelakangan" Asia
dalam hal modal, sumber daya, dan tingkat pendidikan. Namun, karakter
"khas" orang Asia juga berperan di situ, seperti disiplin kerja
rendah, termasuk disiplin waktu dan ketertiban; kebencian terhadap
kerja manual, suka hal- hal irasional, sulit beradaptasi dengan
perubahan, kurang berambisi, gampang dieksploitasi, sulit bekerja sama.

Pemerintahan di negara-negara itu dinilainya "terlalu lembek" (ia
menemukan istilah soft states), alias tidak mampu menerapkan disiplin
sosial. Reformasi akan sulit diwujudkan karena korupsi dan inefisiensi
merajalela. "Tanpa ada disiplin sosial, sulit bagi negara-negara itu
untuk bisa berkembang cepat," katanya (Time, 15 Maret 1968).

Gunnar Myrdal tutup usia pada 17 Mei 1987 (88 tahun). Ketika itu,
Jepang, Korsel (dan China) telah menjadi macan-macan ekonomi Asia.
Bahkan, kontras dengan ramalan Myrdal, Indonesia pun melaju sebagai
kekuatan ekonomi menengah di kawasan dengan PDB sekitar 3.080 dollar AS.

Namun, krisis ekonomi yang melanda Asia tahun 1997-1998 membuka mata
tentang perlunya mempertimbangkan faktor kultural (nilai, sikap,
keyakinan, dan tradisi) dalam membentuk bangunan ekonomi dan politik
sebuah negara. Tentu saja kultur tidak bisa berdiri sendiri.
Dibutuhkan faktor-faktor lain, seperti penegakan hukum, sistem
pengadilan independen, transparansi, dan kepemimpinan, untuk
mewujudkan sebuah tata kelola pemerintahan yang baik.

Dengan kata lain, mengutip Dwight H Perkins, seandainya saja ekonomi
di Asia Timur dan Tenggara dikelola dalam jalur yang menjunjung
penegakan hukum dan bukan jalur KKN (korupsi, kroniisme dan nepotisme,
sebuah karakteristik khas hubungan pemerintah-pengusaha di Asia,
termasuk Indonesia), krisis moneter diyakini tak akan terjadi di
kawasan (Culture Matters, hal 233).

Optimisme

Dalam perjalanannya setelah 10 tahun reformasi yang diwarnai
keprihatinan mendalam akan masa depan bangsa, tetap ada titik-titik
yang membangkitkan optimisme. Salah satunya adalah karakteristik
bangsa Indonesia yang "tahan banting". Bukankah negeri ini tak habis-
habisnya didera masalah? Krisis ekonomi yang berkepanjangan,
kerusuhan, bencana tsunami, gunung meletus, gempa bumi, banjir,
serangan bom, serangan penyakit, dan konflik berdarah. Namun, bangsa
ini tetap bangkit dan memulai lagi.

Mungkin pembaca masih ingat bagaimana warga Yogyakarta bahu-membahu
membangun kehidupan mereka kembali hanya beberapa jam setelah gempa
bumi meluluhlantakkan sebagian wilayah itu tahun 2006. Mereka memulai
bekerja dengan tangannya sendiri sampai bantuan pemerintah datang
kemudian. Kita juga semakin sering menyaksikan antrean panjang rakyat
yang rela berdiri berjam-jam demi satu jeriken minyak tanah atau satu
ember air bersih. Kalau bisa, mereka juga ingin menjerit menghadapi
impitan hidup yang makin menyesakkan. Tapi, bukankah hidup harus terus
berlanjut?

Sudah sepatutnya pemerintah berterima kasih kepada rakyat yang tetap
bangkit meski harta benda lenyap ditelan bencana. Rakyat yang tetap
berjuang meski kebijakan pemerintah membuat hidup semakin sulit.
Penghargaan itu hanya sepadan bila diwujudkan melalui penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih, rancangan kebijakan yang betul-betul
mengutamakan kepentingan rakyat, serta penegakan hukum yang tidak
diskriminatif.

Mayoritas bangsa ini juga memiliki "nasionalisme" yang kental
(terlepas bagaimana nasionalisme didefinisikan) dengan sejarah panjang
yang melatarbelakanginya. Benedict Anderson menggambarkan betapa beda
proses mewujudnya nasionalisme di Indonesia dibandingkan dengan di
Indochina pada era kolonialisme. Di Indochina tak mencuat kesadaran
bersama tentang "keindochinaan", sementara "keindonesiaan" terus
bertahan di bumi Nusantara, bahkan mengakar dengan kuat, melintasi
zaman (Imagined Community, hal 127).

Jauh sebelum gagasan Indonesia merdeka muncul, kelompok-kelompok yang
menamakan diri Jong Ambon, Jong Java, dan lainnya, rela menomorduakan
keterikatan etnis dengan tanah kelahiran mereka demi tujuan yang lebih
besar, yaitu sebuah "negara yang belum terwujud" bernama Indonesia,
dengan mengikrarkan Sumpah Pemuda sehingga ketika bahasa Indonesia
tahun 1928 diadopsi sebagai bahasa nasional, demikian Anderson, bangsa
Indonesia tak pernah lagi menoleh ke belakang.

Gagasan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan tak bermakna, tetapi
harta yang harus dirawat bersama. Inilah inti demokrasi dalam sebuah
bangsa yang heterogen. Bila "modal" bersama ini dipelihara baik dan
dikelola oleh sebuah kepemimpinan yang bersih dan bijak, bangsa ini
akan survive menghadapi tantangan apa pun.


Kirim email ke