Istana Majapahit Belum Ditemukan
KOMPAS/INGKI RINALDI
Seorang peneliti membersihkan bagian bangunan berupa kanal air
peninggalan Kerajaan Majapahit di situs Trowulan, Mojokerto, Jawa
Timur, Rabu (6/8). Selain kanal air, ditemukan pula sumur dan sejumlah
artefak, seperti pecahan tembikar, logam, dan batu bata dalam ukuran
berbeda-beda.
/
Artikel Terkait:
* Arca Majapahit Ditemukan di Kuburan
* Pantang Menikah di Telaga Jonge
* Ekskavasi Temukan Sejumlah Peninggalan Majapahit
* Lokasi Kedaton Majapahit Dicari di Situs Trowulan
* Empat Universitas Ekskavasi Situs Trowulan
Kamis, 11 September 2008 | 09:52 WIB
KEDIRI, KAMIS Para peneliti sampai sekarang masih kesulitan
menemukan lokasi keberadaan istana Kerajaan Majapahit. "Penelitian
yang dilakukan oleh empat perguruan tinggi kemarin hanya menemukan
pusat kota dan pusat sakral zaman Majapahit. Kalau istana kerajaannya
belum ditemukan," kata Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala
(BP3) Trowulan I Made Kusumajaya di Kediri, Kamis (11/9).
Lebih lanjut dia menjelaskan, pusat kota yang ditemukan tim peneliti
dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Udayana (Unud),
Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gajah Mada (UGM) itu
adalah sebuah wilayah seluas 4 x 5 kilometer di Desa Segaran,
Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Selain itu, juga ditemukan
kawasan seluas 11 x 9 kilometer yang dianggap sebagai pusat kegiatan
sakral masyarakat di zaman Majapahit dulu.
Dalam penelitian tersebut, empat perguruan tinggi negeri terkemuka itu
juga berhasil menemukan sebuah batu kuno setebal 80 sentimeter yang
diduga merupakan pagar bangunan zaman Majapahit saat diperintah Raja
Hayam Wuruk. "Memang istana Kerajaan Majapahit itu diperkirakan ada di
sekitar Segaran, tetapi kami belum bisa memastikannya karena belum
ditemukan adanya (sisa-sisa) istana di situ," katanya menambahkan.
Made menilai, ada keunikan terkait alasan Majapahit membangun lokasi
kerajaannya di sekitar kawasan Trowulan itu. "Kalau kami teliti lebih
jauh, ternyata itu bagian dari strategi yang diterapkan Hayam Wuruk
agar tidak mudah diserang oleh musuh karena biasanya pusat kerajaan di
zaman dulu itu selalu berada di kawasan pantai yang memudahkan musuh
menyerang dengan armada lautnya," katanya.
Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh empat perguruan tinggi
itu, sampai sekarang baru mencapai 20 persen. Menurut Made, penelitian
sekarang ini difokuskan pada perilaku masyarakat Majapahit. "Para
peneliti membandingkan perilaku masyarakat Majapahit itu dengan
perilaku masyarakat Bali karena memang ada kemiripan," katanya
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/11/09520718/istana.majapahit.belum.ditemukan