Bahasa dan Budaya Sunda Pasca Pajajaran Oct 7, '08 5:58 PM
for everyone
Category:               Other
Style:          Other
Special Consideration:          Kids
Servings:               Baduy's

Description:
.
.
Pasca keruntuhan Kerajaan Pajajaran pada abad ke 16 mengakibatkan di
tatar sunda kehilangan sentra kebudayaan dan kekuasaan. Memang Banten
dan Cirebon dalam sirsilahnya masih bisa dianggap tuturus raja-raja
Sunda, namun tidak cukup kuat untuk dapat dikatakan mewakili entitas
Pajajaran. Padahal didalam babad-babad lain, Banten dan Cirebon
dianggap sekutu dan sejajar dengan Mataram.

Untuk menjadikan diri sebagai sentra kekuasaan di tatar sunda paling
tidak telah dilakukan Banten dan Cirebon dengan memboyong
simbol-simbol Pajajaran. Misalnya Banten memboyong batu batu "Palangka
Sriman Sriwacana" ke Sorasowan, demikian pula Cirebon.

Simbol pusat budaya pasundan sebenarnya pernah beralih ke
Sumedanglarang. Ketika itu Jayaperkasa dan tiga saudaranya, para
veteran prajurit Pajajaran menyerahkan Kandage Lante (simbol kekuasaan
Raja Pajajaran yang sempat diselamatkannya) kepada Prabu Geusan Ulun
(saat ini disimpan di museum Geusan Ulun). Dengan diserahkannya
Kandage Lante Pajajaran maka praktis Kerajaan Sumedang Larang menjadi
luas. Karena mewarisi sisa wilayah Pajajaran. Mungkin yang menjadi
tanda Tanya sekarang, mengapa kandage Lante tersebut tidak diserahkan
kepada Pangeran Santri, ayah dari Geusan Ulun. Dan mengapa Jayaperkasa
dan saudara-saudaranya memilih Geusan Ulun sebagai penerus tahta
Pajajaran.

Mengenai luas wilayah Geusan Ulun pasca penyerahan Kandage Lante
tersebut banyak diacu dari sumber surat Pangeran Rangga Gempol III
kepada Gubernur Jendral Belanda pada tanggal 4 Desember 1690 M,
dicatat dalam buku harian VOC pada tanggal 31 Januari 1691 M. Isi
surat tersebut menjelaskan, bahwa Sumedang pada masa Geusan Ulun
membawahkan 44 penguasa daerah yang terdiri dari 26 Kandage Lante dan
18 Umbul-umbul.

Pustaka Kertabhumi ½ memberitakan :

"Geusan Ulun nyakrawartti manadala ning Pajajaran kangwus pralaya, ya
ta sirna, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang haneng
Kutamaya ri Sumedanglarang" (Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran
yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahyangan. Keraton raja
Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang).

"Rakyan Sumanteng Parahyangan managstungkara ring sirna Pangeran
Geusan Ulun" (para penguasa di Parahyangan merestui Pangweran Geusan
Ulun).

Ketika penobatan Geusan Ulun telah terasa adanya nuansa keislaman.
Seperti memilih hari penibatannya yang dilakukan pada tanggal 18
Nopember 1580, bertepatan dengan hari jum'at legi tanggal 10 Syawal
1580 Hijriyah. Peristiwa penobatan ini sangat penting, mengingat bukan
sekedar penobatan biasa, tetapi bertujuan pula untuk memproklamirkan
kebebasan Sumedang sebagai Negara yang sejajar dengan Banten dan
Cirebon, serta mengesahkan Sumedang sebagai penerus dan kekuasaan
Pajajaran di Bumi Parahyangan. Sedangkan Mahkota dan atribut kerajaan
Pajajaran merupakan bukti dan legalitas bahwa Sumedang penerus Pajajaran.


Dari Raja menjadi Bupati Wedana
-------------------------------------------------
Tentang data Geusan Ulun menyetrahkan Sumedang menjadi bawahan Mataram
memang ada beberapa versi, yakni karena perlunya berkoalisi untuk
menghadapi Belanda serta Cirebon dan Banten, atau karena Suryadiwangsa
(putra ? Geusan Ulun dari Harisbaya) menyerah tanpa perang kepada
Mataram terkait peristiwa Madura.

Jika saja menganut versi yang pertama, tentunya sangat sulit dipahami,
mengingat sampai dengan wafatnya Geusan Ulun, pada 5 November 1608 M
(1530 S) ia masih bertindak sebagai Raja yang merdeka, bahkan dalam
peristiwa Harisbaya, Sultan Agung dari Mataram meminta kepada
Panembahan Ratu, Sultan Cirebon untuk menghentikan perang dengan
Geusan Ulun, Raja Sumedang.

Didalam buku Sejarah Jawa Barat (1984) banyak diceritakan tentang
pengganti Geusan Ulun yang menyerahkan Sumedang kepada Mataram tanpa
sarat. Hal ini berkaitan dengan posisi Suryadiwangsa sebagai putra
Harisbaya. Suryadiwangsa dikenal sebagai penakluk Sampang secara
damai. Karena posisinya sebagai putra Ratu Harsibaya, masih berdarah
Madura. Suryadiwangsa dikenal pula didalam Babad Pajajaran sebagai
Pangeran Seda (ing) Mataram.

Naskah lain yang mungkin terkait adalah "Rucatan Sajarah Sumedang".
Naskah ini menceritakan, Suryadiwangsa saking gembiranya menaklukan
Sampang melalui jalan kekeluargaan, ia sempat berseloroh kepada
Ranggagede, bahwa : "sanggup menundukan Mataram". Ceritanya ini
didengar oleh Wangsanata, lantas dilaporkannya kepada Sultan Agung.
Akibatnya Suryadiwangsa di jatuhi hukuman mati. Sehingga masa
penaklukan Sampang dengan wafatnya Suryadiwangsa sama, yakni tahun
1546 Saka. Namun ada juga kisah lainnya. Suryadiwangsa dianggap
menolak penyerbuan Sampang, karena tidak rela Harus berhadapan dengan
keluarga ibunya.

Sumedang menjadi dibawah kekuasaan Mataram efektif terjadi pada saat
Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M, dengan
statusnya sebagai 'kerajaan' dirubahnya menjadi 'kabupatian wedana'.
Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai
wilayah pertahanan Mataram dari serangan Banten dan Belanda. Sultan
Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol, putra Geusan
Ulun dari istri pertamanya, yakni Nyi Gedeng Waru beserta pasukannya
untuk memimpin penyerangan ke Sampang Madura. Sedangkan pemerintahan
untuk sementara diserahkan kepada adiknya, yakni Dipati Rangga Gede.

Budaya dan Bahasa Sunda Pasca Pajajaran
-----------------------------------------------------------------
Sejak abad ke 16 sebagaimana yang diuraikan diatas, masyarakat Sunda
praktris kehilangan pusat kebudayaan, baru bangkit sebentar,
sebagaimana yang dilegitimasikan kepada Geusan Ulun, namun ibarat
bunga Wijaya Kusumah, kuncup dan sebentar mekar lalu layu kembali.
Kemudian masa pun berganti, tatar suda berada dibawah Mataram, orang
Sunda sangat terpengaruh kebudayaan Jawa, bukan hanya pada tataran
kesenian, tapi juga administrasi pemerintahan dan bahasanya. Bahasa
tulisan menggunakan bahasa Jawa sedangkan bahasa lisan menggunakan
bahasa Sunda.

Menurut Wilde (1829) bahasa yang dipakai ulama adalah bahasa lokal,
bahkan banyak pula pemimpin lokal yang menggunakan aksara arab.
Menurut Edi S. Ekadjati (jaman itu) ditandai dengan lahirnya
naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara
Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon yang dimuali pada abad
ke-17

Pengaruh Mataram terhadap budaya Sunda sangat nampak, misalnya dalam
kesustraan Sunda yang berkembang sesuai estetika Jawa. Seperti bentuk
sajak dalam wilayah penuturan bahasa Sunda disebut dangding, yang
diadaptasi dari tembang-tembang macapat. Disisi lain, sekalipun pusat
pemerintahan berpindah ke kabupaten-kabupaten, tetapi masyarakat
diluar tradisi menak – priyayi Sunda, masih mengembangkan tradisi yang
tidak ada didalam komunitas lain di Nusantara, seperti reportoar
pantun – sajak bersuku kata delapan sejak dulu sampai sekarang, biasa
didendangkan dan dituturkan oleh para petutur pantun, serta tradisi
tulis pada daun lontar yang sudah lama berkembang.

Pada masa Belanda, sejak kedatangannya pada abad 17, sangat sedikit
yang mengetahui jika Sunda memiliki Budaya sendiri. Paradigma semacam
ini berlanjut hingga pada abad ke 19.

Sebelumnya pada tahun 1811-1816, Raffles, Gubernur Inggris di Jawa
mendorong untuk melakukan penelitian tentang sejarah dan kebudayaan
lokal. Dalam buku History of Java, Raffles masih dibingungkan, apakah
Sunda itu dialek atau bahasa yang mandiri, bahkan menyatakan bahasa
Sunda sebagai varian dari bahasa Jawa. Bahkan ada juga yang menyebut
bahasa Sunda sebagai bahasa Jawa Gunung dibagian barat.


Sunda Etnitas Mandiri
--------------------------------
Pada masa selanjutnya, saat itu para cendekiawan Belanda yang
berstatus pejabat pemerintah, swasta dan para penginjil menemukan
bahasa sunda sebagai bahasa yang mandiri. Kemudian pada abad tersebut
pemerintah kolonial bekerjasama dengan para Sarjana Belanda untuk
membagi Nusantara kedalam wilayah Budaya yang berbeda-beda, antara
lain Jawa, Sunda, Madura – masing-masing dengan bahasa mereka sendiri.
Belanda tentunya memiliki tujuan, karena masing-masing wilayah
memiliki potensi alam yang berbeda. Seperti daerah Priangan sangat
penting dari segi ekonomi, karena sebagai penghasil kopi. Belanda
mendorong para elite lokal untuk menjalankan roda admintrasinya
sendiri, serta mendorong untuk belajar pendidikan formal. Dari sini
para Bumiputra menyadari, bahwa memang ada perbedaan bahasa dan budaya
diantara mereka.

Pada tahun 1829 M, Andries de Wilde, seorang pengusaha perkebunan di
Sukabumi melakukan studi etnografi tentang daerah Priangan. Ia
berpendapat bahwa bahasa sunda merupakan bahasa tersendiri, sebagai
berikut :

Bahasa yang dituturkan diwilayah ini adalah bahasa sunda. Bahasa ini
berbeda dengan bahasa Jawa dan Melayu. Namun demikian, ada banyak
kata-kata yang pelan-pelan masuk atau diambil dari kedua bahasa yang
disebut belakangan. Aksara yang dipakai para ulama adalah Arab ;
banyak pemimpin lokal juga menegenal bahasa itu ; jika tidak memakai
aksara itu, penduduk pada umumnya memakai aksara Jawa.

Kemudian dalam revisi yang dilakukannya pada tahun 1830, ia
mengumpulkan banyak kata-kata Sunda mengenai pertanian, adat istiadat,
dan Islam.

Bahasa memang lajim disebut pertanda bangsa – Basa Ciciren Bangsa (een
volk). Pendapat ini dikemukakan pula pada tahun 1920-an oleh Memed
Sastrahadiprawira, seorang sarjana sunda. Ia mengemukakan :

"Basa teh anoe djadi loeloegoe, pangtetelana djeung pangdjembarna tina
sagala tanda-tanda noe ngabedakeun bangsa pada bangsa. Lamoen sipatna
roepa-roepa basa tea pada leungit, bedana bakat-bakatna kabangsaan oge
moesna. Lamoen ras kabangsaanana sowoeng, basana eta bangsa tea oge
lila-lila leungit"

Dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap
cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya.
Pandangan ini menyatakan bahwa : bahasa merupakan representasi,
cerminan suatu kebudayaan ; dan menentukan serta mendukung etnisitas.
Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya..

Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun
1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama
(Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di
Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur.
Sedanhkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde. Kemudian
Roorda membuat pernyataan :

Pertama-tama (kamus) ini bermanfaat, khususnya supaya bisa lebih kenal
dekat dengan bahasa yang sampai sekarang pengetahuan kita mengenainya
sangat sedikit dan tidak sempurna ; bahasa itu dituturkan di wilayah
barat pulau Jawa, yang oleh penduduk setempat disebut Sunda atau
Sundalanden, yang berbeda dari bahasa di wilayah timur pulau itu ;
bahasa itu sangat bebeda dengan yang pantas disebut bahasa jawa dan
juga melayu, yaitu bahasa yang digunakan orang-orang asing di
kepulauan Hindia Timur.

Sejarah Sunda pada abad selanjutnya, berdasarkan khasanah naskah Sunda
yang berhasil di data Edi S. Ekadjati dkk (1988), dikemukakan, bahwa
Pada abad ke 19 merupakan masa peralihan kehidupan naskah Sunda, yaitu
dari masa transisi antara lain ditandai dengan lahirnya naskah-naskah
berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta
berbahasa Jawa dan beraksara Pegon yang dimuali pada abad ke-17 kemasa
baru yang ditandai lahirnya naskah-naskah Sunda dengan menggunakan
aksara cacarakan, Pegon, dan Latin yang dimulai pada pertengahan abad
ke-19. Pada Musa itu telah ada pula penulis dan pengarang Sunda
terkenal, seperti Raden Haji Muhamad Saleh dan Raden Haji Muhamad
Musa. Tentunya Muhamad Musa terkenal dengan Karyanya "Panji Wulung".

Bagaimana dengan sekarang ?.

http://puyya.multiply.com/recipes/item/17?mark_read=puyya:recipes:17

Kirim email ke