Kumaha mun dibalikkeun "Ancaman Indonesia keur Obama " ?....Naha Kang
saidiman teu ngabandingkeun Arab Saudi jeung Amrik ?

On 12/18/08, Rahman <[email protected]> wrote:
>
>   18/12/2008
> Ancaman Obama untuk Indonesia
> Oleh Saidiman
>
> Latar belakang Obama sebagai minoritas akan membuatnya lebih bisa
> menyadari akan adanya keragaman. Masing-masing orang memiliki nalar
> dan kebajikannya sendiri. Nilai kebenaran tidak pernah tunggal,
> melainkan beragam. Obama akan lebih mudah merayakan keberagaman,
> ketimbang mencurigainya. Inilah keistimewaan kalangan minoritas yang
> berhasil menjadi pemimpin.
> Artikel ini telah dipublikasikan sebelumnya di Sinar Harapan, 1
> Desember 2008
>
> Pemerintah Indonesia patut mewaspadai Barack Obama yang berhasil
> unggul dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, 4 November 2008.
> Kewaspadaan itu perlu mengingat perbedaan yang mungkin muncul antara
> cita-cita politik Obama dan haluan kebijakan pemerintah Republik
> Indonesia.
>
> Kemenangan Semua Golongan
>
> Memang banyak warga negara Indonesia yang menginginkan senator ini
> memenangkan pemilihan. Para pendukungnya menganggap Obama akan menjadi
> presiden yang memperhatikan kepentingan Indonesia dalam politik
> internasional. Pengalaman pernah tinggal di Indonesia diyakini akan
> membuka mata Obama tentang realitas masyarakat dunia yang beragam.
>
> Dengan pemahaman seperti itu, Obama tampil sebagai kandidat yang
> mengusung nilai-nilai liberalisme dan pluralisme. Dalam pidato
> kemenangannya, Obama tigak segan menyapa semua warga Amerika: yang
> berkulit putih maupun hitam, yang perempuan maupun laki-laki, para
> agamawan, kaum gay maupun lesbian, para difable, dan seterusnya. "Kita
> semua adalah warga Amerika Serikat," tegas Obama.
>
> Dengan cara pandang semacam ini, tampak bahwa Obama tidak akan memberi
> toleransi terhadap praktik-pratik diskriminasi dalam bentuk dan dengan
> latar belakang apapun. Dia tidak akan mudah melakukan praktik yang
> sebetulnya selalu menjadi ancaman bagi eksistensinya sebagai kelompok
> minoritas kulit hitam Amerika. Latar belakang semacam ini penting
> untuk membangun kesadaran mengenai pluralitas.
>
> Yang membedalan pemerintahan Bush dan Obama adalah bahwa Bush
> menerapkan cara pandang dualisme: di mana dunia di luar Amerika
> dianggap sebagai objek yang harus diubah sesuai dengan cara pandang
> masyarakat Amerika. Dunia ini, bagi Bush, harus di"adab"kan, apapun
> caranya, dan itu adalah sesuatu yang baik.
>
> Latar belakang Obama sebagai minoritas akan membuatnya lebih bisa
> menyadari akan adanya keragaman. Masing-masing orang memiliki nalar
> dan kebajikannya sendiri. Nilai kebenaran tidak pernah tunggal,
> melainkan beragam. Obama akan lebih mudah merayakan keberagaman,
> ketimbang mencurigainya. Inilah keistimewaan kalangan minoritas yang
> berhasil menjadi pemimpin.
>
> Paradigma Diskriminatif Pemerintah Indonesia
>
> Terlalu dini jika kemudian kita simpulkan bahwa dengan bekal
> pengetahuan mengenai realitas Indonesia, Obama kemudian akan
> mengeluarkan kebijakan yang mendukung kebijakan pemerintah negeri ini.
> Pemerintah Indonesia justru seharusnya waspada kepada Obama mengingat
> beberapa kebijakan dalam negeri yang belum sesuai dengan garis haluan
> cita-cita Obama untuk menghapus diskriminasi.
>
> Dalam banyak kasus, Indonesia terlihat belum cukup memuaskan dalam
> penanganan isu-isu penghapusan diskriminasi. Beberapa kasus besar
> pelanggaran hak azasi manusia yang melibatkan rezim pemerintah masih
> terlalu jauh dari penyelesaian: kasus pembantaian anggota PKI 1960-an,
> represi Orde Baru terhadap kelompok Islam, kekerasan Timor Timur,
> pelanggaran HAM di Aceh dan Papua, penculikan dan pembunuhan aktivis
> di akhir 1990-an, pembunuhan aktivis HAM Munir, kekerasan terhadap
> kelompok minoritas Ahmadiyah, pemenjaraan dan kekerasan terhadap
> tokoh-tokoh agama minoritas seperti Lia Eden, Yusman Roy, Madi, dan
> sebagainya.
>
> Pemerintah Indonesia tidak hanya lalai dalam menjamin hak warga negara
> minoritas untuk hidup dan berekspresi sebagaimana warga negara pada
> umumnya, pemerintah bahkan tidak mampu membendung semangat untuk
> memberlakukan pelbagai aturan diskriminatif. Pelbagai peraturan daerah
> silih berganti muncul untuk membatasi aktivitas warga. Tiga pembantu
> presiden bahkan menandatangani larangan terhadap penganut ajaran
> Ahmadiyah untuk menyebarkan keyakinannya. Pemerintah tampak masih
> sangat tunduk kepada aspirasi kelompok mayoritas tetapi mengabaikan
> hak-hak minoritas. Dewan Perwakilan Rakyat bahkan mensahkan Rancangan
> Undang-undang Pornografi yang mendeskreditkan budaya beberapa kelompok
> masyarakat.
>
> Pemerintah Indonesia tidak hanya melakukan pembiaran terhadap praktik-
> praktik diskriminasi, melainkan juga acapkali terlibat sebagai pelaku
> diskriminasi itu sendiri. Menangkap orang-orang yang dianggap
> menyimpang dalam hal keyakinan agama benar-benar adalah bentuk
> diskriminasi. Sebab paradigma menyimpang hanya berdasar kepada
> pendapat kelompok mayoritas. Sementara argumentasi dan aspirasi
> kelompok minoritas tidak mendapat perhatian sama sekali. Dari kacamata
> minoritas, yang menyimpang justru adalah kelompok mayoritas.
>
> Pada aspek pembangunan, pemerintah Indonesia jelas melakukan
> diskriminasi pembangunan. Pemerintah seolah tertutup pintu hatinya
> untuk memfokuskan pembangunan pada masyarakat Indonesia bagian Timur
> yang sejak lama tidak bisa menikmati akses pembangunan. Masyarakat
> Indonesia bagian Timur dibiarkan tenggelam dalam keterbelakangan dan
> kebodohan. Akibatnya, seluruh paradigma berpikir pemerintah selalu
> terpaku pada cara pandang masyarakat Indonesia bagian Barat.
>
> Pelbagai kasus diskriminasi ini terjadi karena tidak adanya kesadaran
> mengenai keragaman. Seolah-olah dunia ini adalah satu dan seragam.
> Keragaman adalah sesuatu yang benar-benar nyata dan tak mungkin
> dipungkiri. Adonis, pemikir besar Libanon, mengemukakan bahwa asal
> muasal keragaman itu ada pada penciptaan awal. Tidak benar, menurut
> Adonis, penciptaan ini berasal dari sesuatu yang tunggal. Fakta
> keragaman membuktikan bahwa semuanya berasal dari yang beragam.
> Keragaman adalah esensi kehidupan. Oleh karenanya, menghargai dan
> merayakan keragaman adalah sesuatu yang semestinya. Mereka yang ingin
> memberangus keragaman justru adalah mereka yang ingin keluar dari
> logika alamiah itu sendiri.
>
> Paradigma diskriminatif itu pasti bertolak belakang dengan paradigma
> yang terus menerus dijadikan bahan utama bagi kampanye Obama. Dengan
> demikian, jika pemerintah Indonesia tidak mau mengubah paradigma
> diskriminatifnya, maka bukan simpati Obama yang akan datang, melainkan
> ancaman.
>
> Selamat datang, Obama!
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke