Catatan Pinggir Majalah Tempo, 16 Februari 2009

Darwin

Senin, 16 Februari 2009

Darwin, lelaki pemalu itu, tak ingin membunuh Tuhan. Ini agaknya yang
sering dilupakan orang sampai hari ini, ketika dunia memperingati 200
tahun hari lahirnya, 12 Februari.

Menjelang akhir hidupnya, ia hanya mengatakan bahwa ia "harus puas
untuk tetap jadi seorang agnostik." Teori evolusinya yang
mengguncangkan dunia pada akhirnya bukanlah penerang segala hal.
Ketika ditanya mengapa manusia percaya kepada Tuhan, Darwin hanya
mengata­kan, "Misteri tentang awal dari semua hal tak dapat kita
pecahkan."

Dia sendiri pernah jadi seorang yang alim, setidaknya jika dilihat di
awal perjalanannya mengarungi laut di atas kapal HMS Beagle dari tahun
1831 sampai 1836. Pemuda­ berumur 22 tahun itu, yang pernah dikirim
ayahnya un­tuk­ jadi pastor (setelah gagal bersekolah dokter), dan di
penjelajahan itu diajak sebagai pakar geologi, amat gemar­ me­ngutip
Alkitab. Terutama untuk menasihati awak ka­pal yang berfiil "buruk".
Selama belajar di Christ's College di Cambridge, sebuah sekolah tua
yang didirikan pada abad ke-15, Darwin memang terkesan kepada bu­ku
seperti Eviden­c­es of Christia­nity karya William Paley, pemikir yang
gigih membela ajar­an Kristen pada zaman ketika rasio­nalitas dan
otonomi manusia dikukuhkan tiap hari.

Tapi Darwin pelan-pelan berubah pan­dang­an. Otobiografinya
mengatakan, ketika ia me­nulis karyanya yang termasyhur, On the Origin
of Species, yang terbit pada 1859, ia masih seorang "theis". Sampai
akhir ha­yatnya ia tak pernah jadi atheis. Namun, setelah lima tahun
penjelajahan menelaah kehidupan satwa liar dan fosil, ditanggalkannya
argumen Paley.

Bagi seorang apologis, segala hal di alam semesta ada­lah hasil desain
Tuhan yang mahasempurna. Tapi Darwin menemukan bahwa tak ada satu
spesies pun yang bi­sa dikatakan dirancang "sempurna"; makhluk itu
ber­ubah dalam perjalanan waktu, menyesuaikan diri dengan kondisi
tempatnya hidup.

Darwin juga menemukan hal yang lain. Ia tak hanya me­nyiasati hidup
alam di pantai Amerika Selatan dan ceruk Pulau Galapagos. Ia memandang
juga ke dunia manusia di zamannya, dan bertanya: bagaimana desain
Tuhan dikatakan sempurna bila ketidakadilan begitu menyakitkan hati?
Darwin melihat kejamnya perbudakan. Ia, yang pernah bersahabat dengan
seorang bekas budak dari Guyana yang mengajarinya teknik taksidermi
ketika ia bersekolah kedokteran di Edinburgh, menganggap perbudakan
sebagai "skandal bagi bangsa-bangsa yang ber­agama Kristen". Dalam
perjalanan dengan HMS Beagle itu ia juga menyaksikan nestapanya
manusia yang jadi pribumi Tierra del Fuego.

Tak bisa diterangkan dengan cara Paley mengapa Tuhan yang adil dan
maha-penyayang menghasilkan desain yang melahirkan keadaan keji itu.
Tentu ia bisa menemukan tema ini dalam kisah kesengsaraan Ayub dalam
Alkitab, tapi bagaimana "keadilan" Tuhan di situ bisa diterima
seseorang yang berpikir kritis dan tak takut?

Bagi Darwin, apologia ala Paley gagal. Darwin tak me­lihat ada desain
dalam keanekaragaman makhluk hidup dan kerja seleksi alamiah.
Lingkungan hidup yang me­ngontrol nasib kehidupan di alam semesta
bekerja tak konsisten dan tanpa tujuan. Alam memecahkan problemnya
dengan cara yang berantakan dan tak optimal, dan tiap penyelesaian
tergantung pada keadaan ketika itu.

Mau tak mau, pandangan itu merisaukan. Darwinisme adalah bagian dari
sejarah yang ikut menenggelamkan apa yang disebut penyair Yeats
sebagai "ceremony of innocence"—yang terutama dijunjung oleh lembaga
agama. Di Amerika Serikat, lebih banyak orang tak percaya kepada teori
evolusi. Di sana pula, para pengkritik Darwin mengibarkan teori
tentang adanya "desain yang pintar" di alam semesta. Mereka
mengatakan, ada "kecerdasan" yang datang dari luar alam yang campur
ta­ngan ke kancah hidup di sini, hingga, misalnya, bakteria bisa
berpusar pada flagellum yang strukturnya begitu rumit hingga tak
teruraikan.

Tapi kaum penerus Darwin bisa menunjukkan ada ribuan jenis flagella
yang terbangun dari protein yang sebagian besar berbeda, dan jejak
evolusi tampak jelas di dalamnya. Sebagian besar komponen yang
membentuk flagella diperkirakan sudah ada dalam bakteria sebelum
struktur yang dikenal kini muncul. 

Artinya, tak ada desain, kata para pe­nerus Darwin. Teori evolusi
menunjukkan ketidaktetapan dan kontingensi: hal ihwal selamanya
berubah, meskipun tak terus-menerus, dan perubahan itu bergantung pada
konteks yang ada, dan konteks itu pun terbangun tanpa dirancang.
Bahkan terjadi karena koinsidensi. Stephen Jay Gould mengiaskannya
sebagai spandrel, satu bagian dari plengkung dalam gereja gothis yang
tak dirancang oleh arsitek tapi terjadi secara kebe­tulan ketika, dan
karena, plengkung yang direncanakan itu rampung dibangun.

Memang dengan demikian tak ada lagi narasi besar. Ki­ta hidup dengan
apa yang dalam bahasa program komputer disebut kluge, himpunan yang
kacau dari macam-macam anasir yang terjadi dalam proses menyelesaikan
satu masalah. Tak ada flow-chart yang bisa segalanya dan lengkap, tak
ada resep yang akan siap. 

Itulah sejarah: dibangun dari praxis, laku, keputus­an setelah
meraba-raba, dan mungkin juga loncatan ke dalam gelap di depan. Tapi
tak semuanya gagal. Alam pe­nuh dengan perabot yang ganjil dan
awut-awutan, tapi makhluk hidup juga punya keterampilan dan
kreativitas di tengah keserbamungkinan itu. "Nature is as full of
contraptions as it is if contrivance," kata Darwin.

Mungkin Tuhanlah yang menyiapkan itu, mungkin juga Ia tak ada. Mungkin
tak ada apa pun sebelumnya. Bagi Dar­win itu bukan persoalan. Yang
penting adalah mengakui pengetahuan kita yang guyah, rumus kita yang
coba-coba, tapi pada saat yang sama kita bilang "ya" kepada hidup.

Orang beragama akan menyebutnya syukur. Juga ta­­wakal.

Goenawan Mohamad


Kirim email ke