Wilujeng tepang taun ka Kota Bogor, 527 taun nu katukang... Siliwangi ngahijikeun deui Karajaan Sunda Pakuan Pajajaran anu tadina kabagi dua kapisahkeun ku Walungan Citarum. Ibukota Karajaan Sunda pindah deui ka Bogor. Arti Bogor teh ceuk Pa Eman Sulaeman mah tangkal kawung / AREN anu ku Prabowo keur di gembar gembor keun ayeuna... eta tangkal alus pisan sakabehna aya mangfaatna keur kahirupan timimiti buahna keur cankaleng keur pas buka puasa, inyukna keur hateup imah, tangkal kaina keur tiang imah, dauna oge bisa keur lalab oge keur hateup... lahangna bisa dijieun gula aren tea... loba mangfaatna keur kasehatan diantara sabage Natural Diet Sugar ... Originally made by USA = Urang Sunda Ajiiiib ;)).... dari pada ngadahar gula buatan Made In USA (Amrik) monsanto anu geus puguh loba mudharatna katimbang manfaatna.
Wilujeng tepang taun... mugia makna / hakekat BOGOR = Tangkal Kawung teh bisa dilarapkeun ka sakumna urang Bogor/ Sunda oge Urang Indonesia oge Masyarakat Dunya yen HIRUP teh kudu mere mangfaat ka batur ulah hayoooh weh nguruskeun jang ka imah. Salam Baktos, New KAsep Tea Rabu, 3 Juni 2009 | 03:40 WIB Hari ini, Rabu (3/6), Kota Bogor genap berumur 527 tahun. Hari jadi Kota Hujan ini mengacu pada peristiwa penobatan Raja Pajajaran Prabu Siliwangi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 3 Juni 1482 di ibu kota Kerajaan Pajajaran Pakwan, di tempat yang kini menjadi Kota Bogor. Sebagai kota tua, Bogor bertabur situs sejarah dan bangunan cagar budaya, mulai dari zaman Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran yang Hindu sampai zaman kolonial Belanda. Salah satu peninggalan zaman kolonial adalah bangunan bekas rumah Asisten Residen Bogor. Bangunan itu terletak di Jalan Juanda, di sebelah sekolah Regina Pacis, persis di seberang Istana Bogor. Pengamat sejarah Prambodo Prayitno dalam blog Djawa Tempo Doeloe menulis, sejak pertama dibangun, sekitar 130 tahun lalu, bangunan ini hanya mengalami beberapa perubahan kecil, seperti di bagian atap, tangga, serta pada pernik-pernik pintu dan jendelanya. Gedung itu dibangun pada tahun 1870 atau sebelumnya sebagai rumah dinas Asisten Residen Buitenzorg, nama Bogor pada zaman Belanda. Seperti gedung-gedung lain yang dibangun Belanda pada akhir abad ke-19, bangunan ini juga bergaya arsitektur neoklasik. Bagian depan dan kedua sisinya dihias pilar-pilar bulat dan deretan jendela berbentuk busur. Konstruksinya kuat, dengan dinding setebal sampai 50 cm. Pada masa itu, bangunan umumnya dibuat hanya satu lantai, tetapi gedung ini dibangun bertingkat dua. Lantai dasar dipakai sebagai kantor, sementara lantai atas difungsikan sebagai tempat tinggal. Serambi depan di lantai dua sampai sekarang masih berfungsi sebagai ruang tamu yang menyuguhkan pemandangan ke arah halaman Istana Bogor yang luas dan asri. Pernah jadi kantor Setneg Gedung megah ini, yang berlokasi dekat Hotel Salak, sejak tahun 2000 dipakai sebagai Kantor Koordinasi Wilayah Bogor II, wilayah Provinsi Jawa Barat yang mencakup wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Cianjur. Sebelumnya, antara tahun 1928 dan 1976, gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pembantu Gubernur Jawa Barat. Namun, sebelumnya lagi gedung ini juga pernah dipakai sebagai kantor Sekretariat Negara atau Algeemen Secretarie Pemerintah Hindia Belanda. Maklum, sejak zaman Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), para gubernur jenderal Belanda lebih sering tinggal di Bogor, di Istana Buitenzorg yang merupakan tempat kediaman resminya. Foto yang menyertai tulisan ini menggambarkan kondisi rumah Asisten Residen Bogor kira-kira seabad lalu, sekitar tahun 1900. Bentuk fisik bangunan memang masih tak banyak berubah hingga sekarang. Hanya saja, Bogor pada masa itu tampaknya masih sangat hijau. Pemandangan pepohonan lebat di bagian belakang gedung kini sudah tidak ada lagi. Halaman depannya juga masih rindang ditumbuhi berbagai jenis pohon. Pria yang berfoto dengan tiga perempuan di jalan masuk lebar di halaman depan kemungkinan besar adalah asisten residen yang berkuasa di Bogor pada masa itu. Tiga perempuan yang juga ada dalam gambar mungkin anggota keluarga asisten residen. Seperti dirinya, wanita-wanita itu tampaknya bukan lagi orang Belanda asli, tetapi Indo. Hal ini bisa dilihat dari busana kain kebaya yang dikenakan perempuan yang duduk di kursi dan tampak paling terhormat. Ia kemungkinan adalah istri sang asisten residen sendiri. (MULYAWAN KARIM)
