Sekolah Bersejarah
Nasib Sariputra dan Sekolah-sekolah Inggris-China... 


Iwan Santosa

Ribuan alumnus menyemut bergantian datang ke Sekolah Sariputra di tepi Jalan 
Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6). Mereka berfoto bersama, gembira 
bertemu kawan lama sekaligus sedih karena hari itu sekolah yang menggelar 
pendidikan TK hingga SMA itu mengakhiri kegiatan untuk selamanya. 

Sekolah itu mengakhiri kegiatannya setelah melalui tiga zaman: penjajahan 
Belanda, pendudukan Jepang, dan Republik Indonesia. 

Sekolah yang tutup itu memiliki sejarah panjang, seperti sejumlah sekolah 
Tionghoa di masa lalu, yakni Ba Hua dan Hua Zhong. 

Sebagai catatan, sedemikian tinggi mutu pendidikan sekolah Tionghoa di Batavia 
pada awal abad ke-20 sehingga sekolah serupa di Malaya dan Singapura didirikan 
dengan mengadopsi model Batavia. 

Sekolah jenis ini menghasilkan tenaga profesional di Asia Tenggara pada awal 
abad ke-20. Pada periode tersebut, aktivis pergerakan nasional antikolonialisme 
seperti Tan Malaka pun sempat mengajar di sekolah Tionghoa di Singapura. 

Seorang sesepuh Tionghoa Pancoran, Tian Li Tang, menjelaskan, bahasa pengantar 
pendidikan adalah Inggris dan guru-guru terbaik didatangkan. Sebagian besar 
alumni sekolah Tionghoa berkurikulum Inggris itu melanjutkan pendidikan 
perguruan tinggi di Singapura, Australia, bahkan Britania Raya! 

Riwayat Sariputra berawal pada tahun 1932, didirikanlah Batavia English School 
di bilangan Mangga Besar. Bodhiwan (66), mantan guru dan Kepala Sekolah SMA 
Sariputra tahun 1969-1999 menjelaskan, sekolah selanjutnya pindah ke kawasan 
Jalan Jayakarta sebelum masa kemerdekaan. 

"Memasuki masa republik, sekolah itu pun pindah ke Jalan Hayam Wuruk di lokasi 
sekarang dan berganti nama menjadi Sariputra. Sariputra adalah murid terbaik 
Sang Buddha. Para siswa sekolah itu pun diharap mampu meneladani kecerdasan dan 
kebaikan Sariputra," kata Bodhiwan. 

Belasan ribu orang telah mengenyam pendidikan di Sariputra. Wirya Kalyana (62), 
mantan Kepala Sekolah SMP Sariputra dan guru Elektronik serta Agama Buddha, 
menjelaskan, pada awal tahun 1980-an jumlah seluruh siswa TK-SMA mencapai 1.800 
orang. 

"Waktu tahun 1980-an jadi masa keemasan Sariputra. Alumni kami tersebar di 
pelbagai bidang. Salah satu yang berhasil adalah Ibu Siti Hartati Murdaya. 
Banyak keluarga turun-temurun bersekolah di sini," kata Wirya dengan mata 
menerawang. 

Sepanjang siang, alumni yang berusia separuh abad hingga menjelang 20 tahun 
berdatangan menyalami para mantan guru mereka. Jabat tangan dan pelukan tidak 
kuasa menahan kesedihan sekolah yang bagi sebagian alumninya adalah lembaga 
yang mendidik kakek-nenek, orangtua, kakak-adik mereka. 

Angel (19), alumnus SMA Sariputra tahun 2006, merasa sedih karena sekolah 
tercintanya ditutup. "Kami saling dekat. Apalagi pada tahun 2000-an jumlah 
siswa satu angkatan hanya puluhan orang. Bahkan, angkatan saya waktu lulus 
hanya 12 orang," kata Angel. 

Bodhiwan menjelaskan, pihak pengurus yayasan akhirnya menutup sekolah tersebut 
untuk selamanya. Jumlah siswa yang terus turun seolah lesu darah dan akhirnya 
tutup, sebuah akhir yang tragis bagi sebuah lembaga pendidikan! 

Sekolah tersebut juga memiliki keunikan karena keberadaan wihara dengan relief 
perjalanan hidup Sang Buddha, dan yang terutama adalah relik atau bagian tubuh 
suci berupa rambut Sang Buddha yang diberi oleh umat Buddha Sri Lanka. 

Relik itu terletak di atas altar utama bersama patung Sang Buddha. Selebihnya, 
terdapat altar berikut meja abu Banthe dan keluarganya. Bodhiwan menambahkan, 
wihara tersebut merupakan wihara berelief pertama yang didirikan tahun 1953. 

Nasib serupa terlebih dahulu menimpa Ba Hua dan Hua Zhong, yang terletak di 
bilangan pecinan Glodok-Pancoran dan kawasan Jayakarta. Belasan sekolah 
Tionghoa berbahasa pengantar Inggris harus tutup pada periode akhir 1940-an 
hingga 1950-an. Pemerintah yang ultranasionalis kala itu menutup. 

Kini yayasan penerus sekolah Hua Zhong masih dapat ditemui di Jalan Bandengan 
Utara. Para sopir angkutan umum pun masih menyebut daerah di sekitar sekolah 
itu dengan sebutan "Huacung". 

Dadu sudah bergulir, belum jelas kelak menjadi apa Sekolah Sariputra. Satu per 
satu bekas chinese-english school surut pamornya. Apakah nasib malang yang 
menimpa gedung Chandranaya (Sin Ming Hui) yang digempur kepentingan komersial 
dan kini dikepung pertokoan akan terulang di Sariputra? 
. 
 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke