Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


http://www.detikinet.com/read/2009/10/15/153418/1222160/328/2015-terjadi-ledakan-teknologi-komunikasi

Kamis, 15/10/2009 16:00 WIB 

2015 Terjadi 'Ledakan' Teknologi Komunikasi     
Fajar Widiantoro - detikinet

Jakarta - Nokia Siemens Network (NSN) memperkirakan di tahun 2015, akan terjadi 
'ledakan' teknologi komunikasi. Pasalnya sebanyak 5 miliar penduduk dunia bakal 
disatukan oleh teknologi komunikasi tersebut.

Efeknya, banyak diantara pengguna yang akan menikmati konektivitas broadband, 
sehingga mereka dapat menggunakan berbagai macam layanan, dimanapun mereka 
berada. Seiring ledakan tersebut, terjadi pula perkembangan layanan data yang 
kaya, mulai dari Mobile TV, hingga
 interaktivitas yang lebih maju.

Hal tersebut diungkapkan oleh Mike Adam, NSN APAC Broadband Connectivity dalam 
acara bertajuk NSN-Juniper Soulution Day, di Hotel Shangrila Jakarta, Kamis 
(15/10/2009).

"Pertumbuhan data ini berlangsung sangat cepat dari tahun ke tahun, dengan 
makin meningginya konektivitas internet. Apalagi hal ini dibarengi dengan 
peningkatan pengguna internet untuk mengakses situs macam MySpcae, YouTube, 
Facebook, Google dan sebagainya," ujar Mike.

"Rata-rata kini tiap orang menyaksikan sekitar 3 video streaming/hari. Apalagi 
hal itu dibarengi dengan tren penggunaan gadget seperti iPhone," tambahnya.

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa saat ini peningkatan keuntungan dari layanan 
data membantu mengatasi penurunan ARPU (Average Revenue Per User) dalam layanan 
suara. Menurut data dari Global Mobile, angka ARPU keseluruhan meningkat di 
seluruh bidang pada kuartal II 2007 di 30 grup operator terbesar
 dunia. Hal ini terjadi di negara berkembang maupun negara maju.

Lalu bagaimana dengan kesiapan para operator Indonesia sekarang ini? Apakah 
mereka telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi 'ledakan' ini? 
Jangan sampai peningkatan layanan justru merugikan konsumen.   
(       fw      /       faw     )       


http://www.detikinet.com/read/2009/10/14/155509/1221403/398/6-kunci-peningkat-daya-saing-industri-ti

Rabu, 14/10/2009 18:31 WIB 

6 Kunci Peningkat Daya Saing Industri TI        
Ardhi Suryadhi - detikinet
Jakarta - Rangking Indonesia yang kurang memuaskan dalam indeks daya saing 
industri TI menurut Economist Intelligent Unit (EIU), dianggap bukan menjadi 
jalan buntu.

Sebab, ada banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah, pelaku industri, serta 
masyarakat guna mengkatrol posisi 59 yang diperoleh Indonesia pada hasil riset 
tersebut.

Dijelaskan Claro Parlade, Software Policy Director Business Software Alliance 
(BSA) Asia Pasifik, ada 6 faktor yang bekerja sama menciptakan lingkungan yang 
baik bagi sektor TI di setiap negara.

Yaitu terkait ketersediaan tenaga kerja yang terampil, budaya yang mendukung 
inovasi, infrastruktur teknologi yang bertaraf dunia, hukum yang memberi
 perlindungan atas HaKI, ekonomi yang stabil, serta kepemimpinan pemerintah 
yang seimbang.

Negara-negara yang menjalankan keenam peningkat daya saing ini dengan baik, 
diyakini umumnya adalah negara maju yang industri TI-nya juga melesat. 

Namun selain itu, lanjut Claro, ada faktor penting lainnya yang dapat 
meningkatkan daya saing TI di suatu negara. Yaitu penetrasi jaringan broadband. 

"Kesenjangan daya saing ini bisa semakin lebar bagi negara yang lemah dalam 
mengadopsi jaringan broadband," tukasnya dalam jumpa pers di Hotel The Sultan, 
Jakarta, Rabu (14/102009).

Donny A. Shyeputra, Kepala Perwakilan BSA Indonesia menambahkan, untuk urusan 
jaringan broadband ini, Indonesia sebenarnya telah memiliki jalan keluar 
mujarab. Yaitu dengan hadirnya mega proyek Palapa Ring yang akan meliputi lebih 
dari 30 ribu desa di Tanah
 Air.

"Tapi sayangnya proyek ini masih belum jalan, tapi kalau sudah berjalan pasti 
penetrasi broadband di Indonesia juga akan semakin melonjak," pungkasnya.
(       ash     /       faw     )       


http://www.detikinet.com/read/2009/07/07/135954/1160580/398/pekerja-it-di-indonesia-kurang-peduli-sertifikasi

Selasa, 07/07/2009 17:35 WIB 

Pekerja IT di Indonesia Kurang Peduli Sertifikasi       
Andrian Fauzi - detikinet

Jakarta - Pekerja IT di Indonesia yang memiliki sertifikasi profesi masih 
sedikit. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya kesadaran kompetensi. Padahal 
sertifikasi bukan hanya memberikan keuntungan bagi pekerja tapi juga kepada 
perusahaan tempat bekerja.

Hal tersebut dikatakan oleh Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, 
Dimitri Mahayana saat berbincang dengan detikINET, Selasa (7/7/2009). 
Menurutnya pekerja IT di Indonesia masih memikirkan manfaat sertfikasi hanya 
bagi dirinya sendiri bukan keuntungan yang akan didapatkan oleh perusahaan 
dengan adanya sertifikasi tersebut. 

"Separuh dari responden kami beranggapan bahwa sertifikasi tidak mempengaruhi
 kompetensi. Pola pikirnya masih melihat diri sendiri, bukan perusahaan 
keseluruhan," paparnya. 

Padahal, lanjutnya, secara global berdasarkan hasil survey TechRepublic.com 
pada 2008, menunjukkan bahwa 64 persen responden menilai sertifikasi sangat 
mempengaruhi kompetensi pribadi apalagi perusahaan. 

Dari survei yang dilakukan oleh Sharing Vision terungkap bahwa 71,4 persen dari 
3.267 responden pekerja TI di Indonesia belum memiliki sertifikasi. Hal ini 
sejalan dengan jawaban responden yang menyebut manfaat terbesar yang dirasakan 
yaitu mampu meningkatkan kolaborasi dengan manajemen, berdampak positif ke 
finansial perusahaan, serta meningkatkan kredibilitas perusahaan. 

"Di sisi lain, perusahaan sendiri belum memperlakukan layak pemegang 
sertifikasi. Mayoritas manajer TI masih lebih
 memperhatikan latar belakang kompetensi, terutama pendidikan terakhirnya," 
tandas pria yang juga berprofesi sebagai dosen Sekolah Teknik Elektro dan 
Informatika ITB ini menjelaskan.
(       afz     /       faw     )       

http://www.detikfinance.com/read/2009/10/15/165323/1222219/4/industri-kreatif-belum-disentuh-perbankan

Kamis, 15/10/2009 16:53 WIB
Industri Kreatif Belum Disentuh Perbankan
Suhendra - detikFinance 
Jakarta - Hingga detik ini dukungan perbankan terhadap sektor industri kreatif 
belum ada tanda-tanda yang menggembirakan. Padahal sektor ini sangat potensial 
untuk tumbuh pesat dikemudian hari.

Menanggapi hal ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengusulkan adanya 
pendanaan modal ventura untuk mengembangkan sektor industri kreatif. Modal 
ventura tersebut bisa diperoleh dari alokasi pendapatan negara bukan pajak 
(PNBP) yang per tahunnya mencapai Rp 7 triliun dari sektor telematika.

"Mengenai UKM telematika, misalnya ada ICT fund. dialihkan dari PNBP yang 
sebesar Rp 7 triliun. Ini sebagai salah satu contoh saja, untuk mencari jalan 
keluar pendanaan industri kreatif,"  kata Wakil Ketua Kadin Anindya Bakrie di 
kantor Kadin, Kamis (15/10/2009).

Ia menambahkan di era perkembangan
 industri telematika generasi kedua, seharusnya sektor industri kreatif 
berbasis usaha kecil dan menengah (IKM) bisa berkembang. Sehingga perlu 
dukungan modal yang memadai di luar perbankan, agar pemain baru di sektor 
kreatif bisa berkembang.

"Karena memang otak atau ide itu tidak bisa dijamin, sehingga perlu modal 
ventura," katanya.

Sementara itu Ketua Umum Kadin MS Hidayat menambahkan kalau saat ini perbankan 
benar-benar tidak bisa berbuat banyak terhadap industri kreatif. Hal ini tidak 
terlepas dari masalah jaminan, mengingat sangat sulit memberikan jaminan dalam 
industri kreatif.

Ia menyayangkan mengenai kondisi demikian, karena dari informasi yang ia 
peroleh ada beberapa insan kreatif Indonesia yang justru mengembangkan 
produknya di Singapura karena mendapat pinjaman bank di negeri Singa tersebut.

"Saya takutnya bank asing yang mau ngambil," ucap Hidayat.

Seperti diketahui  sejak tahun 2008 lalu pemerintah
 telah menggalakan sektor industri kreatif, dengan telah memetakan 14 sektor 
termasuk membuat cetak biru industri kreati. Beberapa sektor industri kreatif 
antara lain perfilman, musik, animasi, game, software dan lain-lain.

(hen/dnl) 






      


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke