http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/15/05141618/sastra.imajinasi.dan.pendidikan.kita

                    TEROKA
                    Sastra, Imajinasi dan Pendidikan Kita
                
                
                 
        
         
      
                
        
        
                
        
        Sabtu, 15 Mei 2010 | 05:14 WIB
            
            
Oleh AGUS WIBOWO
Siapa
sangka negara-negara adidaya dengan teknologi maju ternyata memiliki
segudang sastrawan besar? Jerman, misalnya, memiliki sastrawan Goethe,
Herman Hesse, dan Heinrich Boll. Inggris memiliki Shakespeare, Robert
Frost, TS Eliot, dan Russel. Rusia memiliki Pushkin, Tolstoy,
Destoyevsky, Chekov, Pasternak, Solzhenitsyn, dan Brodsky. China
memiliki Lu Shun, Li Tai P, dan Wang Wei, sementara India memiliki
Rabindranath Tagore, RK Narayan, dan sebagainya.
Pertanyaannya,
adakah korelasi kuantitas sastrawan di sebuah negara dengan kemajuan
teknologi? Tentu saja ada. Bagi Putu Wijaya (2007), besar-kecilnya
apresiasi sastra memengaruhi kemajuan teknologi sebuah bangsa.
Apresiasi terhadap sastra, lanjut Putu Wijaya, akan membawa masyarakat
bertamasya di dunia imajinasi—yang luas tak terkira.Imajinasi
inilah yang akhirnya memberi inspirasi, sekaligus mengilhami penciptaan
berbagai peranti kehidupan, termasuk teknologi. Pendek kata, semakin
banyak sastrawan besar di sebuah negara, akan menyumbang keluasan
imajinasi, yang selanjutnya menjadi pemicu kreativitas bangsa itu.
Imajinasi
yang terlahir dari sastra menjadi amat penting. Sampai-sampai, seorang
Einstein yang dikenal sebagai bapak penemu teori relativitas
menegaskan: imagination is more important than knowledge. Ungkapan
Einstein itu tentu tidak muncul tiba-tiba, tetapi karena ia merupakan
pemain biola dan penggemar berat puisi-puisi penyair Wordsworth dan
Mary Shelley. Einstein ternyata juga mengikuti jejak Alfred North
Whitehead—seorang ahli matematika sekaligus pengarang karya monumental
Principia Mathematica (1910)—yang juga penggemar berat Wordsworth dan
Mary Shelley.
Sumber inspirasiTidak
salah jika para pemikir besar dan inovatif di berbagai disiplin ilmu
memiliki latar belakang sastra yang kuat—setidaknya penikmat sastra.
Sebut di antaranya Edward W Said, yang membongkar epistemologi
orientalisme sambil membuka pintu poskolonialisme; Michel Foucault,
yang mengadakan analisis wacana untuk melihat prawacana; atau Antonio
Gramsci, yang melihat sastra sebagai medium pembaruan moral dan untuk
mengungkapkan ideologi- ideologi kelompok sosial.
Bahkan,
beberapa ilmuwan ternama, seperti astronomer Carl Sagan, kosmolog Free
Dyson, dan rocketry Wernher von Braun, konon mengawali karier mereka
dari kegemaran membaca sastra fiksi-sains.
Seperti saat munculnya
pandangan atau teori Heliosentris (matahari sebagai pusat orbit) yang
dilontarkan Copernicus tahun 1512. Para ilmuwan kala itu bereaksi kaget
dan kagum. Anggapan mistik pun hinggap, seolah Copernicus memiliki
kemampuan supranatural, linuuwih, atau mempunyai ilmu gaib karena mampu
meramal atau meneropong masa depan (weruh sak durunge winarah).
Tentu
saja anggapan mistis itu dusta pikiran belaka. Copernicus bukan
Nostradamus atau Ronggowarsito. Ia adalah ilmuwan sejati yang ternyata,
lebih dulu dari itu, ia ternyata seorang pegelut sastra, seorang
sastrawan.
Posisi minor sastraBagaimana
dengan bangsa ini? Apakah mereka—ya kita ini—memiliki cara pandang yang
sama? Menempatkan sastra sebagai bagian integral—jika tidak
sentral—dalam upaya pengembangan kebudayaan kita? Menjadi salah satu
sumber penting perluasan imajinasi, pertumbuhan ilmu, dan pada akhirnya
penciptaan-penciptaan teknologis?
Kenyataan yang
berlaku ternyata tidak seindah gambaran di atas. Sastra bukanlah hal
penting, apalagi fundamental, dalam ritus kehidupan kita sehari-hari.
Dibanding dengan dimensi kehidupan lainnya, katakanlah politik,
ekonomi, hukum, bahkan hiburan, misal saja, sastra masih berposisi
minor. Bahkan, mungkin pegiat sastra sebagian masih dianggap memiliki
”kelainan”. Stigma yang muncul, antara lain, karena sastra tidak mampu
memberi garansi pragmatis: ia mencukupi para pegiatnya dari kebutuhan
ekonomis/finansial, sebagaimana yang menjadi tuntutan orangtua pada
anaknya. Setidaknya belakangan ini.
Bagi kebanyakan ilmuwan dan
praktisi pendidikan kita, imajinasi—yang merupakan basis
sastra—dianggap tidak bermanfaat. Beda dengan pengetahuan (knowledge)
yang merupakan basis sains. Maka, pembelajaran dari sekolah dasar
sampai perguruan tinggi hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan.
Bila
kita mau mengikuti logika Einstein di atas, sia-sialah kita mengejar
pengetahuan jika tak ada imajinasi sebagai sumber energinya, sebagai
bahan bakarnya. Dan, tambang utama untuk energi tergantikan itu tidak
lain adalah sastra. Imajinasi adalah ruang yang harus dibuka seluasnya
dalam sistem pendidikan kita.
Dalam sistem ini, pengajaran sastra
tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai sebuah ”pengetahuan” yang berisi
hafalan tentang nama sastrawan, bentuk puisi, periode sastra, atau satu
dua contoh karyanya. Pengajaran sastra yang utama adalah pengembangan
dunia imajinasi anak seluasnya demi apresiasi dan demi kreasi.
Bila
tidak, kita seperti kapal tua yang kian karam sejak negeri ini
diperintah Orde Baru. Sejak sastra dipinggirkan dan dinafikan, serta
dianggap berbahaya karena berpotensi merusak stabilitas. Imajinasi
dipangkas, apresiasi dimandulkan, dan kreasi dibuat macet. Maka,
jadilah bangsa ini sekumpulan manusia yang kering: dalam imajinasi,
pemahaman hidup, serta ide atau kreativitasnya.
Untuk itu kebebasan, setidaknya
dalam tiga hal itu (imajinasi, apresiasi, dan kreasi) harus diberi
ruang selapangnya dalam dunia pengajaran kita. Dunia simbolik,
sebagaimana sastra, menjadi dunia penting dalam sistem kognisi kita
karena di situlah sebenarnya kebudayaan dan keadaban kita ditentukan.
Dulu dan di masa datang.
Apa dunia pendidikan kita mampu menyelenggarakan itu semua? Selamanya tidak 
jika birokratnya
hanya berisi manusia yang lebih mengedepankan portofolio,
capaian-capaian pragmatis, bukan strategis, apalagi hanya berurusan
dengan mempertahankan kekuasaan. Pendidikan, generasi muda, masa lalu,
dan masa depan terlalu mewah untuk dikorbankan karena itu.
AGUS WIBOWO Pegiat Komunitas Aksara Yogyakarta


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke