http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/15/04152817/pengubah.suara.jadi.teks.dari.bppt.dipasarkan

                    TEKNOLOGI INFORMASI
                    Pengubah Suara Jadi Teks dari BPPT Dipasarkan
                
                
                 
        
         
      
                
        
        
                
        
        Sabtu, 15 Mei 2010 | 04:15 WIB
            
            
Jakarta, Kompas - Teknologi
pengubah suara menjadi teks berbahasa Indonesia dengan basis operasi
komputer Linux hasil rekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
mulai dipasarkan. Pencapaian BPPT ini melalui kerja sama dengan PT
Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero).
”Pihak Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki royalti 20 persen
dari penjualan perangkat teknologi itu,” kata Kepala BPPT Marzan Azis
Iskandar, Jumat (14/5), dalam konferensi pers di Jakarta.
Marzan
mengatakan, lisensi memproduksi dan menjual diberikan kepada PT
Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) untuk jangka waktu lima tahun.
Bentuk kerja sama ini diharapkan berkembang untuk hasil-hasil riset
BPPT lainnya.
Presiden Direktur PT Inti Irfan Setiaputra
mengatakan, teknologi perisalah menggantikan peran notulis dalam suatu
rapat atau sidang. Kecepatan penulisan suara dapat diperoleh seketika
dengan tingkat keakurasian 85 persen, bisa diupayakan menjadi 100
persen melalui proses perbaikan dari hasil rekaman yang tersedia.”Berbagai 
institusi pemerintah jelas sangat membutuhkan teknologi perisalah rapat ini,” 
kata Irfan.
Penjualan
perisalah rapat tersebut dibagi menjadi sistem tunggal dengan harga Rp
200 juta per unit, sedangkan sistem multi seharga Rp 500 juta per unit.
Perbedaannya terletak pada sistem multi yang bisa untuk agenda sidang
yang tidak terbatas jumlahnya.”PT Inti sudah membayarkan di muka
Rp 2 miliar kepada BPPT untuk hak eksklusif dan lisensi produksi dan
penjualan perisalah ini,” kata Irfan.
Rekayasa teknologi
informasi ini dirintis Oskar Riandi dari Pusat Teknologi Informasi dan
Komunikasi BPPT. Menurut Oskar, pengambilan model ucapan sudah mencapai
190.000 kata dari hampir semua dialek suku bangsa yang ada di Indonesia.
”Jumlah ini sudah cukup meningkat dari sebelumnya sejumlah 60.000 kata,” ujar 
Oskar.Menurut
dia, peluncuran teknologi perisalah rapat ini direncanakan pada 19 Mei
2010 di Jakarta. Pengembangan lebih lanjut ialah pada proses
pengidentifikasian narasumber dengan memasukkan karakter suara.
Saat
ini, identifikasi narasumber bergantung pada identifikasi mikrofon yang
digunakan. ”Inovasi lebih lanjut, pada pengidentifikasian karakter
suara narasumber,” kata Oskar.Teknologi ini sudah diuji coba
untuk mengubah suara dari orasi menjadi teks secara seketika. Uji coba
dilaksanakan di beberapa instansi pemerintah, di antaranya Sekretariat
Negara, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Pimpinan Daerah, dan Kementerian
Keuangan. (NAW)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke