>
> ._,_._,___
>
*Siapa di Balik Naiknya Harga Minyak?*

Jakarta (ANTARA News) - Siapa tak kenal *T. Boone Pickens*? Di pasar energi
global dan lingkungan pasar modal Wall Street di Amerika Serikat (AS), nama
T. Boone Pickens terkenal sebagai spekulan minyak kelas atas paling penting.

"Saat ia berbicara, orang-orang menyimaknya. Bahasanya mudah dimengerti
siapa pun. Ketika menyebut harga minyak bakal mencapai 150 dolar AS per
barel akhir 2008 nanti, semua orang mengamininya, " kata Todd Benjamin,
Redaktur Keuangan CNN International.

Kalangan pasar keuangan global memang melihat Boone sebagai jago memprediksi
harga minyak dan pandai mengeksploitasi kekuatan logikanya yang cemerlang
untuk menghubungkan fakta dan kecenderungan harga dengan psikologi pasar.

"Sebanyak 85 juta barel adalah total produksi minyak yang bisa dihasilkan
dunia sehari, padahal permintaan minyak dunia sehari 87 juta barel," kata
Pickens, saat mengungkapkan alasan mengapa harga minyak dunia bakal terus
naik.

Tak ayal, asumsinya mendorong pelaku pasar keuangan --diantaranya lembaga
investasi Goldman Sachs-- membuat prediksi provokatif tentang harga minyak
dunia dengan asumsi bahwa keadaan riil di mana dunia sulit memenuhi
kebutuhan minyaknya memang bakal terjadi.

Harga minyak pun merangsek tanpa bisa dihentikan siapa pun. Seluruh dunia
bimbang, sementara para pemimpin banyak negara was-was karena situasi itu
membatasi pilihan mereka dalam menyelamatkan keuangan negara.

Pihak yang kerepotan adalah negara-negara di mana pemerintahnya enggan
menempuh langkah berani, yaitu memotong insentif komunitas kaya yang walau
populasinya sangat kecil namun menguasai sistem pembiayaan kekuasaan dan
denyut aorta keuangan mesin-mesin politik.

Langkah mereka pun klise, memotong subsidi publik. Mereka menyadari langkah
itu bakal menyakitkan rakyat, namun pergerakan harga minyak dunia yang liar
belakangan ini telah membunuh kreativitas mereka dalam menghasilkan jalan
keluar yang aman secara sosial.

Tak hanya negara-negara berkembang, negara maju layaknya AS pun tak tahan
dengan keadaan tersebut. Para pejabat AS malah menuduh segelintir orang
tamak telah membuat ekonomi berdarah-darah dan memaksa sumber keuangan AS
terpompa ke luar negeri hanya untuk mendapatkan minyak.

"Rakyat bingung karena permintaan minyak tidaklah segila seperti
diperkirakan, tetapi mengapa harga minyak terus menggila?" tanya Senator
Herb Kohl, seperti dikutip Washington Post edisi 22 Mei 2008.

Tak hanya pejabat politik, eksekutif perusahaan-perusaha an minyak juga
menuduh spekulan dan pengelola dana sebagai biang kesulitan global ini.
Sebagian lainnya memperluas tuduhan ke Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC)
yang disebut sengaja menyempitkan kapasitas produksi minyaknya agar harga
minyak terus meninggi.

OPEC balik menyerang dengan menunjuk para spekulan harga, para penimbun
minyak di AS dan kebijakan politik Washington yang sembrono justru aktor
dibalik malapetaka harga tersebut.

Tidak ada yang mengetahui pasti apa faktor terkuat yang membuat harga minyak
terus merangsek hingga mempersulit kehidupan manusia seluruh dunia, namun
sejumlah kalangan menilai kapasitas produksi minyak dunia sudah tak lagi
bisa menjawab ekspansi permintaan. Apalagi, negara seperti RRC dan
Indiaagresif memburu minyak karena ekonominya semakin haus energi.

Koran Christian Science Monitor edisi 2 Mei 2008 menyebutkan, di dekade
1980an dan 1990an, meningkatnya permintaan pada minyak bisa dijawab dengan
memacu ladang-ladang minyak baru untuk berproduksi. Tetapi kemampuan itu
meluntur belakangan ini.

Ladang minyak baru memang bermunculan, seperti di Brazil dan Afrika Barat,
namun butuh waktu lama untuk sampai bisa berproduksi.

Saat bersamaan, era ekstraksi minyak secara murah nan mudah sudah berakhir,
sementara risiko justru meningkat termasuk depresiasi dolar AS yang memotong
potensi untung produsen minyak. Akhirnya, produsen pun menaikkan harga.

Di periode terdekat lalu, negara-negara non-OPEC, terutama setelah Uni
Soviet runtuh untuk memunculkan Rusia dan Laut Kaspia sebagai produsen
penting minyak dunia, maka masyarakat dunia memperoleh alternatif baru dalam
mendapatkan minyak.

Namun, beberapa alasan, diantaranya ongkos produksi yang mahal dan kebijakan
nasionalis sehingga modal asing enggan masuk, maka negara-negara itu sulit
menggenjot produksi. Kapasitas produksi minyak mereka pun terkunci pada 50
juta barel per hari atau 60 persen dari total suplai minyak dunia, padahal
mereka bisa mencapai lebih dari itu.

Di kawasan lain, ladang-ladang minyak sedang mendekati tahap jenuh.
Kapasitas produksi minyak Norwegia misalnya, turun 25 persen dan Inggris
terpangkas 43 persen. Ladang Laut Utara di mana Inggris dan Norwegia
menambang minyak, kini memang dalam kondisi sekarat. Situasi serupa terjadi
di Teluk Prudhoe, Alaska, di mana ladang minyak terbesar AS berada.

"Dunia tak kekurangan minyak, yang ada adalah kapasitas produksi yang
menurun," kata Robin son West, kepala PFC Energy, sebuah perusahaan
konsultan energi di Washington.

Meksiko yang adalah eksportir terpenting AS, juga sulit meningkatkan
produksinya yang pada dua tahun terakhir menyusut sembilan persen atau 300
ribu barel per hari. Seperti Indonesia sekarang, lima tahun lagi, Meksiko
diprediksi berubah menjadi importir netto minyak.

Ironisnya, Rusia yang kapasitas produksinya 10 juta barel per hari, malah
enggan menutup kekurangan stok minyak dunia ini. Meski cadangan wilayah
minyaknya melimpah, Rusia tidak mau gegabah memacu produksi minyaknya.

Langkah Rusia itu malah diikuti OPEC yang cadangan minyaknya mencapai 70
persen dari total cadangan minyak dunia dan ekspornya 40 persen dari total
ekspor dunia. OPEC juga malas menaikkan pagu produksi minyak. Akibatnya,
kapasitas produksi dan suplai minyak dunia stagnan, padahal permintaan
meningkat.

Situasi pelik ini membuat sejumlah negara berupaya keras mencari
ladang-ladang baru hingga ke tengah samudera dan agresif mengonversi sumber
non fosil menjadi bioenergi.

Masalahnya, mengutip Badan Energi Internasional (IEA), investasi untuk
mencari ladang-ladang baru dan ekspansi bioenergi itu tidak bisa menutup
kekurangan suplai energi dunia, selain jumlahnya terlalu besar.

Dibutuhkan 5,4 triliun dolar AS untuk menutup kekurangan produksi minyak
sampai 2030, sementara bolong kapasitas produksi minyak dunia baru teratasi
mulai 2015, demikian IEA.

*"Menurut teori ekonomi normal dan sejarah perminyakan, kenaikan harga
minyak akan berdampak pada dua hal besar yaitu tertekannya permintaan dan
bertambahnya suplai," *kata Fatih Birol, kepala ekonom IEA. Sayang, klaim
ini tak berlaku sekarang.

Alhasil, analisis pakar mengenai semakin senjangnya kapasitas produksi dan
permintaan minyak dunia tak bisa mencegah orang sejagat untuk tetap
mengarahkan telunjuknya ke para spekulan yang didakwa telah berdosa
mempermainkan harga minyak.

*"Fundamental pasar yakni keseimbangan permintaan dan suplai memang sedang
bermasalah. Tetapi faktor spekulasilah yang membuat harga minyak
melonjak,"*demikian analisis Cambridge Energy Research Associates.

David Kelly, kepala analis pasar J.P. Morgan Funds, bahkan menyatakan
pertumbuhan konsumsi minyak dunia tidak setinggi diklaim kalangan pasar
energi.

"Ada bukti sangat kuat bahwa spekulasi skala luarbiasa besar telah membuat
harga minyak meningkat tajam," klaim Senat AS dalam laporan bertajuk The
Role of Market Speculation in Rising Oil and Gas Prices tertanggal 27 Juni
2006. (*)

Kirim email ke