PENGALAMAN MENDIRIKAN
MINI MARKET
Oleh : Shauman
Shaladin

Saya cuma ingin membagi
pengalaman saya mendirikan mini market. Meskipun masih beberapa bulan
berjalan dan belum ketahuan untungnya. Namun langkah -langkah
mendirikan mini market memberikan banyak pengalaman untuk saya dan
semoga perlahan dapat menambah lapangan kerja bagi orang lain.

Berawal di bulan Juli,
saya dan isteri yang sedang berjalan melihat-lihat sekitar toko
peralatan rumah tangga kami, kebetulan saat itu kami memerlukan
beberapa kebutuhan bahan pokok dan toiletries, selang beberapa lama
kami berjalan, tak satupun kami jumpai toko yang cukup representative
yang menjual kebutuhan yang kami perlukan. Umumnya hanya toko biasa
yang menjual keperluan terbatas dengan penataan yang terbatas selain
beberapa bengkel motor dan warung makan.

Dari kesulitan kami yang
ada, kami melihat ada peluang bagus untuk mendirikan sebuah toko
layaknya minimarket di wilayah tersebut. Untuk menambah keyakinan,
iseng-iseng ngobrol dengan para pelanggan toko, penduduk sekitar
maupun pemilik warung makan dan bengkel, mengenai kenapa ngga ada
toko layaknya sebuah minimarket disekitar mereka, menanyakan respon
gimana jika ada mini market disini. 
Dari jawaban yang didapat
saya bisa tarik kesimpulan awal jika mereka sebenarnya menginginkan
adanya toko yang representative yang memudahkan mereka berbelanja
kebutuhan sehari-hari tanpa harus pergi ke pasar yang tentu
memerlukan biaya angkot maupun bensin.

Asumsi dasar tersebut
memantabkan saya untuk mencoba membuka usaha toko layaknya minimarket
di lokasi tersebut. Berhubung saya sangat awam mengenai bisnis ini,
langkah awal untuk mendirikannya adalah mencari informasi awal
tentang apa itu mini market. Hal-hal apa yang harus dipenuhi,
bagaimana cara menjalankannya, peralatannya. Beruntung saya
mendapatkan buku yang bagus karangan Hadi Hartono, SE, "Sukses
Mengelola bisnis mini market" di Gramedia. Buku tipis namun
memberi banyak informasi yang relevan dengan kebutuhan.

Dari buku tersebut, saya
mendapat gambaran hal-hal apa yang diperlukan untuk mendirikan toko
tersebut. Saya buat list kebutuhan awal dan di kolom kanan saya
cantumkan keterangan dimana saya mesti cari infonya. Mengingat saya
berada diluar jawa, kebutuhan akan peralatan tentulah dicari
disekitar kita minimal di ibu kota propinsi. Beruntung saya memiliki
yellow pages. Ambil daftar perusahaan yang menjual untuk perangkat
utama seperti lemari, rak, etalase de el el. Lalu hunting satu per
satu sambil cari-cari apakah ada yang menjual barang tersebut secara
second.

Software Point of Sales
saya dapatkan setelah browsing di internet. Saya coba beli satu
license yang resmi agar mendapatkan buku panduan dan layanan purna
jual yang baik termasuk info-info contact perusahaan supplier yang
bisa menyediakan barang.

Di bulan Agustus,
informasi perangkat dasar sudah saya dapatkan termasuk total biaya
yang dikeluarkan untuk pembeliaannya. Namun ada hal lain yang
ternyata perlu dipertimbangkan, lokasi dan desain. Mengingat biasa
sewa ruko yang cukup mahal belum termasuk interiornya. Saya putuskan
menyulap toko alat rumah tangga menjadi mini market sementara
peralatan rumah tangga saya tempatkan dilantai 2. Untuk gudang dengan
senang hati saya korban satu kamar di rumah saya. Kalo dilihat
konsepnya menjadi perpaduan mini market dan peralatan rumah tangga.
Lumayan nambah2 item produk.

Mengenai desain interior,
beruntung ada majalah info franchise yang bisa memberikan sedikit
gambaran mini market sekelas alfamart dan Indomaret serta circle K.
walaupun tidak menyontek habis namun memberikan inspirasi mengenai
permainan warna dan penerangan termasuk desain ruangan. Biar tampak
beda, warna ruangan di dominasi oleh warna kuning sementara bagian
luar toko di dominasi warna orange. Cukup membedakan karena di kanan
kiri ruko lain lebih di dominasi warna hijau dan krem.

Mendapatkan Modal
Setelah saya kalkulasi
untuk perangkat,dasar ternyata modal yang diperlukan cukup besar.
Hampir 35 juta. Yaitu untuk AC, computer Point of sales, Pintu
alumunium, etalase, kamera CCTV, rak snack, renovasi ruko. showchase.
Untungnya saya masih punya rak kayu dari usaha alat rumah tangga.
Karena di kantong Cuma ada 10 juta , mau tak mau mesti putar otak.
Untuk AC 1 pk saya ambil
dari perusahaan kredit selama 1.5 tahun sehingga saya Cuma bayar
kurang lebih 400 rb per bulan, untuk pintu alumunium dan etalase
seharga 12 juta saya negosiasikan dengan pemiliknya untuk dibayar
secara mencicil 6 bulan dengan tambahan para karyawan dan pemilik
toko tersebut didaftarkan sebagai member dan mendapatkan harga
khusus. Kebetulan pemilik toko tersebut sudah kenal baik karena saya
sering memesan etalase dari mereka.
Kamera CCTV dan rak snack
saya beli dengan kartu kredit. Tambahan modal saya dapatkan dengan
mengagunkan 2 Bpkb motor ke leasing sebesar 13 juta dan digunakan
untuk membeli computer point of sales dan renovasi. Sisa dana yang
ada menjadi tambahan modal untuk barang jualan.

Modal untuk barang
Sebagian modal barang
jualan saya dapatkan dengan menawarkan proposal ke teman-teman yang
berniat invest ke minimarket saya. Caranya satu investor hanya boleh
untuk investasi satu klasifikasi produk seperti soft drink,
toiletries, makanan dll. Saya buatkan kode khusus klasifikasi di
Software Point of Sales agar traffic dari barang yang diinvestasikan
bisa dimonitor termasuk stock akhir dan jumlah yang terjual.
Pembagian persentase keuntungan berdasarkan barang yang laku.
Rencananya uang hasil penjualan juga akan dipisahkan berdasarkan
klasifikasi tersebut dan dilaporkan ke investor setiap bulan. Dari
cara ini saya mendapatkan suntikan modal dari 3 orang teman saya.
Cukup kompleks tapi berhubung modal pas-pasan. Resiko ini saya ambil
dulu. 

Berburu barang
dagangan
Ternyata mendapatkan
barang yang bagus dengan harga kompetitif merupakan hal yang tidak
mudah. Beruntung saya sudah punya supplier alat rumah tangga yang
dengan senang hati memberi info dimana tempat yang bagus mencari
barang yang dijual. Jawabannya sederhana, kalo mo cari barang untuk
minimarket, cari aja di daerah pergudangan. Disana banyak distributor
resmi. Bisa tanya-tanya tentang barang dan cara pembeliannya. 

Daerah pergudangan
dimaksud ternyata luas dan saya mendatangi gudang distributor satu
persatu, berbicara dengan para sales termasuk minta list produk
mereka untuk dipilah-pilah. Cara yang sering saya gunakan, saya
katakan ke satpam bahwa saya ingin membuka minimarket dan ingin
bertemu dengna contact person-nya. Mereka (para satpam) akan senang
hati mengenalkan kita ke para salesnya. Dan umumnya mereka dengan
senang hati menginformasikan dimana letak distributor produk
tertentu.
Saya jalankan proses ini
satu minggu dan malamnya hari dilanjutkan dengan membuat list apa
saja yang akan kita beli untuk tahap awal. Ada kelemahan di pembelian
di pergudangan adalah tidak bisa mencampur varian produk. Kendala ini
saya siasati dengan membeli di grosir besar. Biar terlihat bervariasi
dan lebih banyak setiap varian produk cukup 3 item saja. Alasan
karena saya belum tau mana saja yang diminati oleh calon konsumen.
Hal yang baik jika membeli di kompleks pergudangan, jika kita dinilai
bagus dari pembayaran dan selalu membayar cash selama beberapa waktu,
mereka akan menawarkan kemudahan pembayaran hingga jatuh tempo dua
minggu bahkan lebih. 

Strategi pemasaran
Sejak awal saya melihat
sulit mendapatkan pelanggan yang loyal di category retail. Untuk
menyikapinya, software point of sales yang saya beli sudah dilengkapi
dengan system keanggotaan sehingga saya sedikit mengadopsi konsep
membership. Dimana saya lebih meningkatkan pelayanan untuk member
dengan harapan dapat menemukan atau mendapatkan pelanggan yang loyal.
Agar lebih menarik
konsumen menjadi member, saya coba menggunakan harga khusus member
dan umum. Saya membuat list rencana promosi setiap bulannya dan hanya
dibagikan kepada member. Selain itu agar lebih mengenalkan, saya
memanfaatkan radio local untuk iklan. Strategi yang saya rencanakan
ini akan saya uji cobakan hingga beberapa bulan. Jika ternyata
didapati masih perlu perbaikan, informasi dari majalah swa, Mix dan
marketing akan menjadi referensi yang bagus.

Persiapan pembukaan
Pesiapan pembukaan yang
cukup menyita waktu adalah input stock awal ke computer. Setiap
produk yang kita beli harus di pilah dan diklasifikasikan kemudian di
scan dan didata berdasarkan barcode. Kadang ada produk yang tidak
menggunakan barcode sehingga kita coba buat kode sendiri (kebanyak
peralatan rumah tangga produk china , bahan kue dan roti local). Agar
lebih menyakinkan semua produk yang telah dimasukan kemudian ditata
di rak dan dihitung ulang. Process ini memerlukan perhatian lebih dan
ketelitian karena jika lupa bisa salah menempatkan harga dan stok
awalnya. Dari hampir seribu item yang ada, diperlukan waktu dua
minggu untuk pendataan. Cukup melelahkan namun puas jika sudah
diselesaikan.

Pembukaan 
Setelah menutup toko
hampir beberapa lama, akhirnya persiapan awal selesai. Saya
meresmikan toko berkonsep minimarket di hari Minggu, 23 september
2007. Agar lebih cepat dikenal dan tidak menghilangkan kesan toko
rumah tangga, saya gunakan nama "NADINE MART". Mohon doa
restu semoga toko yang baru ini bisa terus menghidupi dan menjadi
sumber penghasilan orang lain.


      

Kirim email ke