bro Hari Baru, D Kadarusman & BC-er

demikian singkat siklus hidup laron2 pencari cahaya tersebut

Siklus Tikus , hanya 2 bulanan
Siklus Anjing, hanya 10-15 tahunan
Siklus kuda hampir sma dgn manusia, 50-100 tahunan
Siklus penyu, up 2 ratusan tahun

Siklus manusia di negara maju, diatas 80 tahunan
Siklus manusia di negara terbelakang/berkembang dibawah 70 tahunan

Kemana energi (cahaya kehidupan) tersebut setelah itu?
ber "reinkarnasi" kah, atau hangus ditelan kelam?
Siapa moderator "siklus kehidupan" tersebut?

Nga lama lagi kita mo tinggalken 2008,
Selamat hari raya qurban, bagi para pemeluknya



Salute, 
Ch



|> [email protected] <YM : BroerCharlie>
|> http://www.new.facebook.com/group.php?gid=29114734425



^
  ----- Original Message ----- 
  From: dkadarusman 
  Perjalanan Menuju Kesejatian
  Hore,
  Hari Baru!
  Teman-teman.

  Setiap manusia dewasa tentu pernah merindukan sebuah pencerahan. Apakah 
pencerahan itu dalam konteks spiritualitas, maupun dalam kerangka pengembangan 
diri. Orang-orang yang mampu menjaga kerinduannya akan pencerahan mempunyai 
kesempatan untuk secara konsisten membawa dirinya menuju kepada kesejatian 
hidup. Yaitu; menjadi manusia yang bisa mewujudkan tujuan atas penciptaannya. 
Ngomong-ngomong; apakah sesungguhnya tujuan pencipataan kita ini?

  Dimusim hujan seperti ini banyak laron beterbangan menjelang malam 
  tiba. Ketika mahluk sejenis ngengat itu sudah mencapai titik tertentu 
  dalam perkembangan siklus hidupnya, dia dianugerahi penciptanya 
  dengan sepasang sayap. Sayap itu memungkinkan dirinya untuk terbang 
  menuju suatu tempat yang jaraknya sering teramat jauh. Mereka keluar 
  dari tempat persembunyian disisa-sisa kayu dan pepohonan mati. 
  Kemudian terbang menuju satu titik yang pasti, yaitu; sumber cahaya. 
  Ditempat itu, mereka bertemu dengan laron-laron lainnya, sehingga 
  pertemuan itu bagaikan sebuah konferensi besar para pencari cahaya.

  Adakah para laron itu ingin menyampaikan sebuah pesan? Kelihatannya 
  memang demikian. Melalui apa yang dilakukannya, para laron 
  mengingatkan kita betapa pentingnya menghadapkan diri kearah sumber 
  cahaya. Karena, menuju cahaya adalah sebuah fitrah bagi setiap 
  manusia. Didalam diri kita, ada sisi gelap. Dan ada pula sisi terang. 
  Jika kita tidak pernah menambahkan cahaya kedalamnya, maka sisi gelap 
  kita akan menjadi semakin banyak. Sedangkan, sisi terang akan semakin 
  berkurang. Untuk menjadi gelap; kita tinggal berdiam diri saja. 
  Karena cepat atau lambat dunia kita pasti menjadi gelap. Sedangkan 
  untuk mendapat terang, kita harus melakukan usaha-usaha yang sepadan. 
  Karena menanti dengan berdiam diri tidak memberikan jaminan datangnya 
  cahaya terang.

  Bagi sang laron, menuju sumber cahaya adalah langkah paling akhir 
  misi hidupnya. Sedangkan bagi manusia, seberkas cahaya didalam 
  dirinya menyala melalui setiap perilakunya yang terpuji. Seperti 
  ketika mereka menghitung langkah satu, dua, tiga, dan empat; semuanya 
  berjalan membentuk sebuah untaian proses pencerahan jiwa. Kemudian, 
  tepat pada hitungannya yang kelima; mereka melakukan langkah terakhir 
  dalam hidupnya untuk menuju sang pemilik cahaya sesungguhnya. 
  Ditempat itulah kemudian mereka, berkumpul dengan para pencari cahaya 
  lainnya. Duduk bersimpuh disebuah lapangan luas, untuk mendekatkan 
  diri kepada sang pemilik cahaya sejati.

  Setelah sampai disumber cahaya itu, tunailah sudah misi hidup seekor 
  laron. Dan setelah tiba disumber cahaya sejati itu; tunailah sudah 
  perjalanan panjang seorang manusia. Karena, ketika itu; kita bisa 
  menjelma menjadi manusia yang tercerahkan oleh cahaya kesejatian. 
  Seseorang yang berhasil melakukan perjalanan itu sesuai dengan 
  panggilan sang pemilik cahaya akan memasuki babak baru dalam siklus 
  hidupnya, yaitu; menjadi manusia sejati. Manusia yang memiliki 
  kematangannya secara spiritualitas, maupun fungsi sosial 
  kemasyarakatan. Sedangkan, mereka yang hanya matang secara spiritual, 
  tetapi tidak berfungsi secara sosial belum benar-benar mencapai 
  kesejatian itu. Sebaliknya, mereka yang secara fungsi sosial matang 
  tetapi melupakan kematangan spiritual adalah orang-orang yang hanya 
  bagus dimata sesama manusia. Namun, dihadapan Tuhannya; nilainya 
  layak dipertanyakan.

  Bagi seekor laron, menuju cahaya adalah sebuah perjalanan sekali 
  seumur hidup. Oleh karena itu, seekor laron; mengerahkan semua yang 
  ada dialam dirinya untuk perjalanan suci itu. Dan ketika cahaya telah 
  memenuhi dirinya; dia menanggalkan sayap-sayapnya. Perlambang apakah 
  ini bagi kita? Sang laron tengah mengajari kita bahwa jika sudah 
  sampai kepada sumber cahaya, maka kita harus meneguhkan hati untuk 
  menutup segala kemungkinan yang bisa membawa kita kembali menuju 
  kegelapan. 

  Jika sayap itu masih dipeliharanya; maka cepat atau lambat, dia akan 
  tergoda untuk terbang menuju gelap. Dengan menanggalkannya, sang 
  laron menutup semua kemungkinan itu, supaya dia bisa memberikan 
  totalitas dirinya didalam terang itu. Meski untuk mendapatkannya, dia 
  harus mengorbankan sepasang sayap yang dimilikinya. Manusia tengah 
  diseru oleh sang laron, untuk juga melakukan pengorbanan yang sama. 
  Yaitu pengorbanan untuk membuang nafsu-nafsu yang sering menyeretnya 
  kepada sifat buruk. Dan menanggalkan sifat-sifat tak patut didalam 
  dirinya. Sehingga, ketika kita kembali pulang; kita benar-benar hanya 
  membawa cahaya putih lagi bersih. Sebersih jiwa seorang bayi yang 
  baru saja dilahirkan.

  Hore,
  Hari Baru!
  Dadang Kadarusman
  http://www.dadangkadarusman.com/ 

  Catatan Kaki: 
  Keutuhan pribadi seseorang ditandai dengan kesediaannya untuk 
  membangun nilai dimata sesama melalui tindakannya, dan dimata 
  Tuhannya melalui kepasrahannya.

Kirim email ke