Hi Grup Milis Yahoo Bisnis Center,
Your friend, firsty, has recommended this article entitled 'Sikap adalah 
segalanya' to you.

Here is his/her remarks:
Saya moderator Milis Bisnis Center (as volunteer). Salah satu tugas saya adalah 
menjaga traffic milis, agar tetap seperti tujuan, membangun motivasi, 
kerjasama, dan hal-hal yang positif yang sekiranya dapat mencapai tujuan milis 
tsb.

Saya melihat bahwa tulisan ini bermanfaat untuk membangun karakter milis.

Saya beranggapan tulisan ini bisa dishare ke teman atas ijin, dengan adanya 
fasilitas "send to friend" di bagian atas. Dan saya melakukan sesuai prosedur, 
dan meninggalkan jejak. :)

Terimakasih.

Regards,
Firsty Ren

Sikap adalah segalanya
Posted By Admin On October 7, 2009 (11:08 am) In Edisi 72,  Etika & 
Moralitas

Jurnal Kebebasan: Akal & Kehendak
Vol. III, Edisi no. 72
Tanggal: 07 Oktober 2009
Oleh: Nad

(Pengantar - Mengawali “comeback” saya ke dunia maya setelah absen lebih dari 3 
bulan, saya tulis tips praktis di bawah ini, yang selama ini saya terapkan bagi 
diri sendiri, dan yang saya harap berguna juga bagi Anda pembaca. Tulisan ini 
juga mengawali tulisan-tulisan saya berikutnya, yang dapat digolongkan ke dalam 
seri: praxeology in action.)

Attitude is everything. Mungkin Anda pernah mendengar kalimat tersebut.  
Padanannya dalam bahasa kita k.l.: sikap adalah segalanya.  Bahkan kadang, 
sikap adalah satu-satunya yang terpenting, the only thing. Attitude is 
everything, dan di balik sikap kita adalah perspektif yang kita pilih, sadar 
atau tidak, ataupun ketidak(mau)tahuan kita.

Di dunia kerja dan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan mendapati dua jenis 
orang yang bekerja di lingkungan yang berbeda, namun menjalankan hari demi hari 
mereka secara berbeda, dengan kinerja berbeda.

Sebut saja tokoh ini A, yang mungkin Anda kenal.  Ia sepertinya bekerja separuh 
terpaksa, bermalas-malasan, dan bahkan “merugikan” tempat/teman sekerja dengan 
mengelak dari tugas, menunda-nunda pekerjaan, memilih-milih pekerjaan yang 
lebih ringan dan menghindari tugas “ekstra”, atau sering mengeluh, kombinasi 
semua ini.

Di lain pihak, ada pula rekan sekerja seperti B, yang profesionalitasnya 
berbeda dari A.  B orang yang menerima pekerjaannya sepenuh hati; bekerja 
keras; siap menjalani tugas dan tanggung jawabnya.

Sadar atau tidak sadar, kita adalah A atau B.  Perilaku dan kinerja kita di 
tempat kerja selalu didasari oleh sesuatu—apapun itu namanya—yang berada di 
benak kita. “Sesuatu” tersebut ikut memengaruhi motivasi kerja kita.   Apapun 
itu, sesuatu tersebut “bersemayam” di  dalam diri kita.

Baik secara eksplisit dan implisit, semua ekonom dan pemikir dari mazhab 
Austria, dari Menger, Bawerk, Bawerk hingga para Misesian, menggarisbawahi 
pentingnya kewirausahaan dalam kehidupan.  Enterpreneurship adalah kunci 
kemajuan ekonomi bagi setiap individu, keluarga dan bangsa. Dan karena semua 
manusia pada hakikatnya berekonomi untuk mencapai kebahagiaan (happiness), 
dalam arti untuk  memperbaiki atau meningkatkan suatu keadaan dari keadaan 
sebelumnya, kewirausahaan adalah sesuatu kualitas yang dipentingkan.

Dalam adikarya masing-masing, baik Mises maupun Rothbard bahkan mengatakan 
bahwa kemajuan peradaban amat terkait kemampuan wirausahawan dalam memproduksi 
secara massal hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan kita.

Jadi, kalau bisa, jadilah pengusaha.  Titik.  Tapi sudah terang, tidak semua 
orang tertarik ataupun punya kemampuan menjadi pengusaha.  Kita-kita yang lebih 
suka aman—dan ini amat manusiawi—dapat menjadi pekerja, karyawan, staf pada 
perusahaan-perusahaan, yang siap membayar kita di depan, atas suatu proyeksi 
keuntungan yang baru bakal terwujud, atau gagal terwujud, kemudian.

Motivasi atau sikap kita terhadap perusahaan tempat kita bekerja pada dasar 
yang lebih dalam pastilah berdasar pada sesuatu. Ini bisa berupa ignorance 
ataupun pada suatu doktrin/stereotyping terhadap bisnis atau pengusaha.

Satu faktor penting lain adalah faktor moral.  Kita sering lupa moralitas yang 
terlibat di pasar bebas.   Semua kontrak kerja di pasar bebas adalah sesuatu 
yang win-win, tanpa paksaan.  Dengan kata lain, itu adalah sesuatu yang pada 
dasarnya moral, yang dengannya tidak ada satu pihak pun yang per definisi bakal 
dirugikan.  Tanyakan diri kita: apakah ada yang lebih bermoral daripada 
kesepakatan semacam ini?

Untuk dapat menghargai semua ini, kadang kita sebagai (calon) karyawan cukup 
membayangkan apa yang kiranya kita harapkan dari pekerja-pekerja kita 
seandainya kita berada dalam posisi majikan/pemberi kerja.

Mari lakukan yang terbaik di posisi kita masing-masing. Good luck bagi para 
pencari kerja.  Selamat bekerja bagi yang sudah di dalamnya.

Article taken from Akal & Kehendak - http://akaldankehendak.com
URL to article: http://akaldankehendak.com/?p=461



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke