Artikel Dewasa:  Saya Terbiasa Melihat Adegan Seks Sejak Kecil 
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin mengingatkan; jika Anda belum memasuki 
usia dewasa tolong jangan teruskan membacanya. Kapan pertama kali Anda 
menyaksikan agedan seks? Sesudah Anda dewasa? Saya tidak demikian. Saya sudah 
menyaksikan adegan seks sejak masih kecil. Boleh jadi sebelum saya memasuki 
usia sekolah sudah sering menyaksikannya. Adegan seks yang pertama kali Anda 
lihat itu berupa film video porno atau adegan live? Di jaman saya masih kecil, 
perangkat elektronik belum secanggih ini. Belum ada internet. Apalagi 
blackberry. Jadi, saya harus mengakui bahwa adegan seks yang sering saya lihat 
itu adalah live. Usia saya masih sangat belia. Namun hampir setiap hari saya 
menyaksikan adegan seks live. Apakah saya termasuk korban sifat narcis mereka 
yang mabuk syahwat?
 
Setelah dewasa, saya menjalani kehidupan seksual yang normal. Saya penyuka 
seks. Dan saya menjalani kehidupan seksual sebagaimana layaknya lelaki normal 
yang lain. Namun, saya masih sering terkejut dengan perilaku seksual 
orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya tidak akan membicarakan hasil 
penelitian tentang perilaku seksual remaja yang semakin mengerikan itu. Tidak 
juga membahas temuan penelitian yang menyatakan bahwa 2 dari 3 pria di Ibu kota 
berselingkuh. Tidak pula perlu untuk mengupas para perempuan yang mengaku 
pernah berhubungan intim dengan teman atau orang yang dikenal di kantornya. 
Saya hanya ingin mencurahkan kegundahan seksual yang semakin hari semakin 
mengherankan. Jika Anda tidak merasakan seperti yang saya rasakan, wajar. 
Soalnya Anda tidak seperti saya yang sejak kecil disodori oleh adegan seksual 
yang disaksikan secara langsung tanpa perlu video perekam gambar.
 
Seperti orang dewasa lainnya, saya kadang terlibat dalam pembicaraan seksual. 
Dan seperti orang dewasa lainnya,  kita sering kebablasan kalau membicarakan 
urusan seks. Sampai suatu ketika pembicaraan kami tiba kepada topik ’menaklukan 
perempuan incaran’. Jujur saja saya bergidik sendiri ketika berbicara dengan 
seorang teman tentang topik yang satu itu. Namun,jika Anda sudah dewasa, saya 
tidak ragu berbagi cerita ini kepada Anda.
 
”Kenapa sih elu mesti gangguin perempuan yang sudah punya suami?” begitu saya 
bilang. ”Bukankah masih banyak gadis-gadis lajang?”  Maaf, saya mengatakan 
begitu bukan berarti merendahkan nilai perempuan yang sudah bersuami 
dibandingkan dengan mereka yang masih gadis. Tapi, saya masih belum bisa 
mengerti; mengapa banyak lelaki lebih tertarik kepada perempuan bersuami 
daripada para gadis yang masih fresh?
 
”Elo naif banget, Dang!” begitu jawabannya. ”Justru karena dia punya suami, 
makanya gua bakal taklukin dia!” saya kembali bergidik ketika melihat ekspresi 
wajahnya saat mengucapkan kalimat itu.
”Jadi, yang elu cari itu teman kencan gratisan atau lawan untuk adu jotos 
sih?”  Sekarang Anda tahu lidah saya berbicara vulgar seperti itu.  Namun, 
kevulgaran saya dibayar dengan sebuah keterkejutan. Saya terkejut karena 
mendapatkan jawaban yang benar-benar berada di luar jangkauan imajinasi saya 
sebelumnya. 
 
Saat itu, seolah saya dibukakan kepada sebuah ’pengetahuan’ baru. Dan teman 
saya ini benar-benar memainkan perannya yang sangat baik sebagai seorang nara 
sumber kelas satu. Dia mengatakan, justru karena perempuan itu sudah bersuami; 
maka dia semakin bersemangat untuk menaklukannya. Sebab, kalau sampai ’terjadi 
apa-apa’, maka gua nggak perlu repot-repot mempertanggungjawabkannya. Begitu 
katanya. Anda yang sudah dewasa tentu faham betul apa yang dimaksud dengan 
’terjadi apa-apa’. Teman saya menambahkan, kalau hal itu terjadi pada perempuan 
lajang, maka dia akan mengejar-ngejar elu sampai ke kuburan sekalipun. ”Bikin 
gua pusing aja....” tambahnya.
 
Saya bergidik. Entah karena semakin menyadari betapa biadabnya para lelaki 
seperti saya. Atau karena saya mendapatkan ilmu baru untuk memuaskan nafsu. 
Yang jelas, pembicaraan kami hari itu semakin menegaskan dampak dari pengalaman 
menyaksikaan langsung adegan-adegan seksual yang saya alami sejak masa kecil.
 
”Elu nggak takut?”  saya bertanya dengan begitu polosnya.
”Hemh? Takut?” dia menatap mata saya. Berhenti sesaat. Lalu tertawa 
terbahak-bahak. ”Dadang...., Dadang.” begitu dia bilang seusai derai tawanya 
menghilang. ”Gua takut sama lakinya?” Saya termangu dihadapannya. ”Makanya pake 
otak elu dong Dang. Pake!” Jari telunjuknya menekan jidatnya sendiri. ”Selama 
elu nggak ketahuan, ngapain elu musti takut, sih!” Saya merasakan nada ejekan. 
Betapa bodohnya saya sehingga yang begitu saja tidak mengerti.
 
”Bagaimana elu bisa begitu yakin kalau nggak ketahuan?” balas saya. Semakin 
menunjukkan betapa tololnya diri ini.
”Mana mungkin?” dia bilang. ”Dia nggak mungkin ngomong sama suaminya, Dang.” 
lanjutnya. ”Gila aja dia. Mau dibunuh sama suamianya? Hahahaha....” tawanya 
kembali membahana. ”Percayalah Dang, dia akan mati-matian menjaga rahasia 
itu......”
 
”Yang gua takutkan bukan ketahuan suaminya....” saya berkata sungguh-sungguh.
”Hmmh? Terus apa, dong? Elu takut dia menggelayuti terus? Gampang. Elu 
tinggalin aja. Lama-lama juga dia cape sendiri. Sedangkan elu bisa menikmati 
kelezzzatan tubuh-tubuh istri-istri cantik nan seksi lainnya. 
Haaaahahahahahaaa....” Entah mengapa, saat itu saya tidak sedang berselera 
untuk ikut tertawa.
 
”Bukan itu yang aku maksudkan.”
”Terus, apa? Heh?” matanya menatap saya tajam.
Sekarang giliran saya yang menatap lurus kearah matanya. Tepat ketika mata kami 
beradu itu saya mengatakan maksud pertanyaan saya tadi ”Apakah elu nggak takut 
ketahuan, Tuhan?” Sejak pembicaraan itu, saya tidak pernah lagi bertemu 
dengannya.  Saya tahu, jika saya telah disingkirkan.   
 
Sekarang, tinggal saya sendirian. Tiba-tiba saja saya di hantui oleh 
ingatan-ingatan masa silam. Bagaimana adegan-adegan seks yang terjadi dihadapan 
saya sewaktu saya masih kecil. Sementara mereka yang mengumbar nafsu itu tidak 
menunjukkan sedikitpun perasaan iba kepada saya yang masih anak-anak. Tiba-tiba 
saja saya teringat pengalaman ketika pertama kali saya melakukan hubungan 
intim. Tiba-tiba saja saya mengingat kembali sms yang berisi rayuan gombal 
kepada para istri. Ya, para istri yang mengira bahwa lelaki yang tanpa henti 
memuji kecantikannya itu jauh lebih baik daripada suaminya sendiri.
 
Dan tiba-tiba saja saya merasa heran, mengapa para istri itu begitu mudahnya 
percaya. Mereka percaya bahwa lelaki yang setiap saat meneleponnya dengan 
sapaan mesra itu lebih romantis daripada lelaki yang telah mengikat janji suci 
bersama dirinya. Dan tiba-tiba saja bulu kuduk saya berdiri, kemudian sebuah 
kata meluncur dari bibir saya, ”Tuhan.....”.
 
Saya semakin heran lagi karena di zaman ini ternyata kata ’Sayang...’ dan ’I 
Love You’ sudah menjadi sedemikian murahnya. Sehingga setiap detik lalu lintas 
blackberry dihiasai oleh ratusan, ribuan bahkan jutaan rayuan dusta berbalut 
nafsu yang diucapkan oleh para lelaki bajingan seperti kami. Padahal, jelas 
sekali Firman Tuhan dalam kitab suci; ”DAN JANGANLAH KAMU MENDEKATI ZINA!” 
Maaf, saya tidak sedang membahas soal prostitusi. Saya sedang mengingat-ingat 
kembali betapa buruknya para lelaki memperlakukan para perempuan. Bahkan para 
istri terhormat pun tidak lepas dari tipu daya dan muslihat yang menjerumuskan. 
Dan tiba-tiba saja, hati saya berbisik kepada diri sendiri;”mengapa para 
perempuan sedemikian mudahnya ditaklukan oleh pujian-pujian yang justru 
dirancang oleh para lelaki seperti kami. Untuk bermuara kepada kenikmatan 
sesaat. Namun penuh laknat. ”
 
”Justru karena mereka punya suami, jadinya kita aman.” Duh, kalimat itu kembali 
terngiang di telinga saya. Dan tiba-tiba saja saya merindukan sesuatu. Saya 
rindu agar para istri menyadari semuanya itu. Bahwa suamimu jauh lebih baik 
daripada para lelaki yang berusaha menggodamu. Suamimu, meskipun kalah romantis 
dari para penggoda itu menerimamu seutuhnya. Sedangkan para lelaki laknat 
seperti kami hanya ingin menikmati kemolekan lekuk tubuhmu. Semakin cantik 
dirimu, semakin berselera kami mengejarmu. Semakin mulus dan halus kulitmu, 
semakin tak sabar kami mengelus dan mencumbumu. Dan semakin indah dadamu. Kami 
semakin bernafsu menaklukan dirimu.
 
Jika engkau mengira suamimu sudah tidak romantis lagi, ingatlah kembali betapa 
romantisnya dia saat berpacaran dulu. Apakah lelaki penggoda yang setiap hari 
meneleponmu itu sama romantisnya dengan pacarmu dulu? Jika engkau mengira para 
lelaki perayu itu lebih royal membelikanmu ini itu. Jam tangan. Tas. Sepatu. 
Baju baru. Ingat-ingat kembali apakah sewaktu pacaran dulu suamimu sedemikian 
pelitnya kepadamu?  Dan jika engkau mengira bahwa lelaki yang dimurkai Tuhan 
itu bisa menjadi pasangan terbaik untuk menggantikan suamimu, maka tanyakanlah; 
benarkan dia akan bisa menjadi lelaki sejati yang engkau impi-impikan itu? 
 
Tiba-tiba saja saya merindukan sesuatu; mengapa para istri dan para suami tidak 
menyadari bahwa hidup memang tentang susah dan senang. Saat pasangan kita 
sedang susah, mengapa kita harus berpaling mencari kehangatan lain? Mengapa 
kita harus mencari solusi dari lelaki pencari kenikmatan sesaat atau perempuan 
pengeruk harta? Bukankah Tuhan sudah menjamin setiap pasangan yang saling 
menjaga kesucian mahligai perkawinannya akan diberi keabadian dalam keindahan 
surgawi? Mengapa untuk mendapatkan janji Tuhan seindah itu kita merasa berat? 
Bahkan untuk sekedar menahan diri dan tetap setia kepada belahan jiwa kita 
hingga akhir hayat? Apakah keindahan syahwat laknat sesaat itu memang lebih 
menyenangkan dari janji Tuhan?
 
”Sesungguhnya Aku telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan,” 
begitu firman Tuhan yang kita dengar. Makanya, saya tidak heran jika ketika 
masih kecil sering menyaksikan adegan seks bebas yang tanpa malu-malu 
dipertontonkan oleh para pelakunya. Ayam. Kambing. Anjing. Dan bintang-binatang 
lain di tanah pertanian tempat saya dibesarkan. Semuanya. Tidak memiliki rasa 
malu untuk mengumbar nafsu syahwat dengan siapa saja. Dimana saja. Dengan cara 
apa saja. Pantaslah jika Tuhan melanjutkan firman-Nya ”Kemudian Aku hempaskan 
manusia ke tempat yang serendah-rendahnya.”  Bagaimana caranya supaya nilai 
kita dimata Tuhan tidak lebih rendah dari binatang? ”JANGANLAH MENDEKATI ZINA!” 
begitu kata Tuhan. Bagaimana caranya tidak mendekati zina? Antara lain; gunakan 
blackberry milikmu untuk  berkomunikasi tentang sesuatu yang di sukai Tuhan. 
Karena menjadikannya sebagai alat untuk mendekati perzinahan, akan menyebabkan 
derajatmu lebih
 rendah. Daripada. Binatang.
 
Dengan ini saya mendeklarasikan diri untuk insyaf. Saya bertobat. 
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman 
Writer, Trainer, and Speaker
Quality Books for All : www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com 
 
Catatan Kaki:
Suamimu, tidak akan pernah bisa memonitor perilakumu. Istrimu tidak akan 
mengetahui perbuatanmu. Tapi, adakah satu saja perbuatan buruk kita yang luput 
dari penglihatan Tuhan? Maka takutlah kepada Tuhan. 
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 

--------------------------------
Buku-buku terbaru Dadang Kadarusman sudah tersedia di toko buku atau bisa 
dipesan di http://www.bukudadang.com/


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke