<*>[Attachment(s) from Strategic Management Services included below]

(Sharing)


Si Vis Pacem, Para Bellum

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.


“A man does what he must – in spite of personal consequences, in spite of 
obstacles and dangers and pressures – and that is the basis of all human 
morality.”– John F. Kennedy, Profiles in Courage, 1955.

***

     Damai lewat kekuatan (peace through strength; a strong society being 
arguably less likely to be attacked by enemies). Maka, "if you wish for peace, 
prepare for war." Begitulah makna Si Vis Pacem, Para Bellum.

     Lalu, apa kita mau perang? Ya, begitulah… Buku klasik pemasaran dari Al 
Ries & Jack Trout (1986) pasang judul terang-terangan soal bertempur, 
Positioning: The Battle for Your Mind. Judul buku berikutnya: Marketing 
Warfare! 


     Sekedar mengingatkan saja, ada dua prinsip dalam Marketing Warfare, 
defensif dan ofensif. Dalam principles of defensivedikatakan: 1) only the 
market 

leader should consider playing defense, 2) The best defensive strategy is the 
courage to attack yourself, 3) Strong competitive moves should always be 
blocked. Sedangkan dalam principles of offensivedisebutkan: 1) The main 
consideration is the strength of the leader’s position, 2) Find a weakness in 
the leader’s strength and attack at that point, 3) Launch the attack on as 
narrow a front as possible. 

***

     Dalam ranah seni, setelah lagu ‘Rasa Sayange’ dan dulu beberapa corak 
batik 

diklaim negeri jiran sebagai heritage mereka, maka kini tari Pendet dari Bali 
disasarnya pula. Jika saat ini yang diklaim adalah tanda atau simbolnya, maka – 
jika proses pembiaran ini terus berlangsung – besok jangan heran jika yang 
diklaim adalah justru referensi tanda itu, alias teritori atau negerinya. Kasus 
Ambalat merupakan prelude saja nampaknya.

     Di ranah ekonomi, kita tahu bahwa dunia perbankan berfungsi sebagai 
intermediasi arus dana bagi para pelaku ekonomi, jadi sangat strategis. Namun 
pemberitaan baru-baru ini (misalnya Tabloid KONTAN, Minggu III, Agustus 2009) 
melaporkan bahwa Indonesia adalah surganya bank-bank asing. Di  negeri asalnya 
mereka tengah menderita, tapi di sini kinerja mereka mengkilat!

     Ambil contoh StanChart Bank, dalam laporan kinerja semester I, per Juni 
2009 bank asal Inggris ini mencatat laba bersih tahun berjalan hingga Rp.528,97 
miliar, naik 126,31% dari tahun lalu. Nilai asetnya naik 28,15%, DPK (dana 
pihak 

ketiga) naik 34,23%, dan nilai kreditnya naik 130,2%. Sementara itu, Bank of 
America (BoA)membukukan kenaikan laba bersih semester pertama sebesar 37,13% 
(dari Rp 2,37 miliar di tahun lalu, jadi Rp 3,25 miliar di tahun ini). Porsi 
kredit bank asing ini juga tumbuh berlipat ganda dari Rp 19,9 miliar menjadi Rp 
458,4 miliar, alias tumbuh dua ribu persen lebih! Citibank berkolaborasi dengan 
PT Pos Indonesia yang punya lebih dari 3500 kantor cabang di seluruh Indonesia 
sebagai kepanjangan tangannya.

***

     Di ranah lain, lantaran diskursus pendidikan kita tidak pernah menaruh 
bobot yang signifikan terhadap apresiasi seni dan budaya, maka sekarang pun 
kita 

kerap linglung dan mati-angin tatkala mesti adu strategi-kebudayaan dengan 
bangsa lain. Apa lagi dengan negeri jiran yang jauh-jauh hari telah belajar ke 
sini dan yang sekarang kerap mengundang para cerdik-cendekia, seniman-budayawan 
Indonesia untuk berkiprah di negara jiran itu. 

     Apresiasinya di sana nota bene hebat nian, sementara di negeri sendiri 
malah terjadi penelantaran yang akut. Kita masih sibuk dan terpana dengan 
banyak 

kiat praktis, cara cepat dapat duit, jalan pintas jadi selebritas. Kesibukan 
dan 

keterpanaan kita dengan yang praktis-praktis ini pada ujungnya tidak mampu 
untuk 

memahami persoalannya secara mendasar, alih-alih menawarkan solusi 
komprehensif. 

De facto, inti persoalan organisasi dan bangsa bukanlah jenis barang yang 
praktis-praktis. Ia perlu kedalaman berpikir sampai ke akar (radix). Banalitas 
dalam kebiasaan berpikir ini membuahkan kegagapan saat diperhadapkan dengan 
persoalan yang pada hakekatnya bercorak ideologis-filosofis.

***

     Jika politik luar negeri diartikan sebagai substansi hubungan luar negeri, 
maka diplomasi adalah prosesnya di mana kebijakan-kebijakan luar negeri 
dieksekusi. Konon politik luar negeri kita berprinsip: bebas-aktif, tapi kenapa 
saat ini yang lebih terasa adalah: terikat-pasif?

     Semuanya dalam keadaan bergerak-mengalir (Panta Rei), begitu ontologi 
Herakleitos. Mungkin realitas bisnis mirip juga. Jika kita lihat 4 arus utama, 
yakni: arus informasi (flow of information), arus uang (flow of money), arus 
barang (flow of goods), dan arus orang (flow of people), bagaimana situasinya 
di 

Indonesia? Observasi sepintas saja sudah cukup memberi gambaran bahwa Indonesia 
belumlah bebas-aktif, malah condong ke terikat-pasif.

     Dalam era globalisasi, di mana ruang dan waktu telah terkompresi 
sedemikian 

hebatnya, gerak diplomasi yang cerdik dan berdedikasi dari seluruh apparatus 
birokrasi jadi imperatif. Substansi politik luar negeri yang bebas-aktif mesti 
dieksekusi dengan praksis diplomasi yang persisten dan konsisten dengannya. 

     Kemerdekaan (independence) sudah kita peroleh 64 tahun lampau, namun untuk 
kebebasan (freedom) jalannya masih panjang dan berliku. Lanjutkan !


(artikel terlampir, dari Majalah MARKETING)

<*>Attachment(s) from Strategic Management Services:


<*> 1 of 1 File(s) 
http://groups.yahoo.com/group/biznett/attachments/folder/1300469662/item/list 
  <*> 09

------------------------------------

Mari bertukar informasi soal bisnis ! Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke