(Sharing)

Mending Calo Properti atau Broker Profesional

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


  Pada dasarnya, usaha perantara (pialang/makelar/broker) adalah menjalankan 
fungsi penghubung antara penjual dengan pembeli, atau sebaliknya antara pembeli 
dengan penjual. Maka modal utama dari bisnis ini adalah relasi. Relasi untuk 
mencari barang dan jasa yang akan dijual dan relasi pembeli yang akan membeli 
barang atau jasa mereka. Dalam hal ini, komoditi yang DIjalankan adalah rumah 
(properti).

  Oleh karena ini adalah bisnis berdasarkan relasi, maka faktor-faktor yang 
memperkuat relasi itulah yang perlu
 dibangun terus, seperti misalnya ‘data-base’ 
atau kumpulan informasi tentang rumah yang akan dijual, dan kumpulan informasi 
tentang daftar nama calon pembeli (orang-orang yang sedang mencari rumah). Dan 
relasi itu bisa terbangun di atas dasar saling-percaya. Inilah aset utama yang 
perlu dijaga. 

  Biasanya, broker/pialang properti profesional (seperti misalnya Century21, LJ 
Hooker, Ray White, Coldwell-Banker, dll.) menawarkan ‘data-base’ dan sistem 
manejemen (yang dikemas dalam paket merek/brand dari waralaba/franchise 
mereka). 
Oleh karena itu, jika Ibu Shania memutuskan untuk bergabung (artinya membeli 
hak 
waralaba/franchise) dengan salah satu dari broker/pialang profesional itu, 
tentunya ada keuntungannya, tapi juga ada konsekuensi/kewajiban yang perlu 
Dipatuhi. 

  Keuntungan yang paling jelas ya tentu tidak perlu repot-repot lagi untuk 
membangun sistem manajemen unit usaha
 dalam jual-beli properti, juga basis data 
yang mereka miliki bisa DIakses. Sehingga kemungkinan (probability) untuk 
mendapat peluang bisnis bisa lebih tinggi dibanding dengan menggali potensi 
dari 
‘data base’ pribadi yang kita miliki. Untuk ini Anda bertindak sebagai pemilik 
(business owner), dan oleh karena itu mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk 
merekrut tenaga-tenaga pemasaran properti demi mencapai tingkat kinerja 
penjualan tertentu. Di sini Anda perlu menetapkan target pendapatan, karena di 
sisi lain ada kewajiban pembayaran (iuran/royalti) yang perlu Anda penuhi 
kepada 
pemilik merek/brand waralaba itu.

  Kalau pilihan sebagai tenaga pemasaran mereka, tentunya Anda tidak 
berkewajiban untuk membayar hak waralaba/franchise-nya. Penghasilannya 
semata-mata dari komisi yang didapat berdasar kinerja Anda sendiri, tentunya 
setelah dipotong biaya administrasi (karena memakai sistem manajemen
 mereka) dan 
juga royalti (karena bisnis ini tetap dipayungi oleh merek waralaba mereka).

  Kalau Anda memilih untuk tetap menjadi broker tradisional, bukan berarti Anda 
tidak bisa mengembangkan usahanya. Anda tetap bisa berkembang terus dengan 
membangun organisai Ibu sendiri. Misalnya dengan mulai merekrut staf marketing 
sendiri dan menyusun sistem administrasi sederhana yang efektif. Perhitungkan 
betul biaya telepon, internet/email dan biaya marketing lain (komisi untuk 
staf, 
transportasi, kartu nama, foto-foto rumah, komputer lap-top, dll), jangan 
sampai 
besar pasak dari pada tiang.  Bermodalkan relasi dan nama baik Ibu Shania 
selama 
ini, yakinlah peluang untuk terus berkembang akan tetap ada.



(twitter: @andrewenas)
-----------------------------------------------------
artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email:
 [email protected]

Kirim email ke