(Sharing)
Yes we can! Bersama (Obama) kita bisa! Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA. (Twitter: @andrewenas) “Men decide far more problems by hate, love, lust, rage, sorrow, joy, hope, fear, illusion, or some other inward emotion, than by reality, authority, any legal standard, judicial precedent, or statute.” (Marcus Tullius CICERO). *** Tema penerawangan tahun 2009 dari UBS Wealth Management (UBS Global Outlook, December 2008) jelas memberi caveat (peringatan dini): ‘2009 Proceed with caution’. Untuk aspek ekonomi, secara umum diperkirakan dunia masih akan tergelincir ke dalam resesi lebih dalam. Sedangkan di beberapa pasar surat berharga dunia yang baru muncul (emerging markets) diyakini rapuh terhadap pelambatan ekonomi berkepanjangan. Beberapa fenomena bisnis dan politik dunia yang terjadi akhir-akhir ini menarik untuk dicermati. *** Pada akhirnya : perusahaan yang paling dikagumi, Toyota Motor Corporations – setelah sekian lama – untuk pertama kalinya harus membukukan kerugian. Ini tentu berdampak juga terhadap operasinya di Indonesia di mana merek Toyota masih memimpin pasaran otomotif. Lotte Group (asal Korea) diberitakan semakin menancapkan eksistensinya di pasar Indonesia lewat rencana investasi sebesar 9 trilyun rupiah demi mengakuisisi rantai hyperstore Makro (untuk dijadikan Lotte-Mart). Rencana investasi sebesar itu untuk membangun 26 toko baru, sehingga pada akhir 2013 nanti jaringan Lotte-Mart bakal berjumlah 45 hyperstore yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia telah menempatkan dirinya sebagai pesaing utama Carrefour yang sampai saat ini ‘cuma’ dapat gigitan kecil dari para pesaing yang relatif ‘kurang sebanding’. Realitas globalisasi telah membawa akibat yang berbeda bagi kedua pemain global ini. Yang satu mengakibatkan kerugian, yang lainnya malah ekspansi. Dalam menyikapi realitas globalisasi sebagai struktur sosial, setiap agensi bisa mempunyai narasi yang berbeda di benaknya masing-masing. Di dalam instalasi realitas serta kenyataan hegemonik tertentu, responsnya bisa berbeda, yang pada akhirnya mengakibatkan emergent-reality yang berbeda pula. *** Dalam kancah politik internasional, juga ada dua fenomena menarik. Konflik Israel-Palestina dan momen pelantikan Obama sebagai presiden Amerika Serikat ke-44. Isu Israel-Palestina sepertinya tidak pernah kehabisan bahan bakar untuk memanasi bumi – yang tanpa itu pun – bumi ini telah di bakar polusi serta kerusakan lingkungan akut. Dalam narasi Amos Oz (How To Cure A Fanatic, 2002), sejatinya persoalan Israel-Palestina bukan soal ideologis, melainkan semata-mata rebutan kapling tanah! Dalam pemahaman sastrawan besar yang nyeleneh ini, konflik ini, “…is not a religious war, not a war of cultures, not a disagreement between two traditions, but simply a real-estate dispute over whose house this is.” Keduanya – katanya – mesti belajar kompromi untuk hidup berdampingan secara damai, matang dan realistis. Kita sedih dengan kematian sia-sia rakyat Palestina dan Israel yang innocent. Kedua ‘pejuang’ bangsa itu tentu berjuang demi kebenarannya masing-masing, yang mesti diwariskan ke anak-cucu. Namun yang bisa kita pastikan: selama keduanya saling bunuh, tidak bakal ada warisan, dan juga tidak bakal ada anak-cucu, mereka sudah habis terbantai! Kebenaran realitas unik Palestina-Israel ini memang tidak nyaman. Bolehlah kita meminjam judul film-presentasinya Al Gore: Inconvenient Truth, namun demikian – paling tidak sampai saat ini – itulah realitasnya. Koeksistensi-damai sesunguhnya adalah tuntutan seluruh manusia yang terdiri dari pelbagai individu yang unik, namun toh mesti menjalani hidupnya di atas landasan prinsip-prinsip yang universal, bisa diterima semuanya. *** Ketika Cicero bertanya kepada Tiro sang juru tulisnya, “Bagaimana generasi mendatang akan menilai kita, eh, Tiro?” Sesungguhnyalah ia telah mengajukan satu-satunya pertanyaan abadi bagi seorang negarawan (pemimpin). Dua puluh satu abad kemudian, seorang kandidat presiden kulit hitam di sebuah negara yang mayoritasnya kulit putih berseru kepada rakyatnya, “Yes we can!” Lalu saat dilantik, ia bilang “…Let it be said by our children’s children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God’s grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.” (Barack Husein Obama, pidato inagurasinya). Horison pemikiran seorang pemimpin seyogianya menembus jarak pandang jamannya. Bersauh ke sejarah yang panjang dan merentang ke generasi demi generasi di depannya! Hati-hati, utamanya Anda para business-leaders, jangan sampai keputusan diambil semata-mata cuma dilandaskan perasaan dan opini (hate, love, lust, rage, sorrow, joy, hope, fear, illusion, or some other inward emotion) yang bisa menipu. Ram Charan dan Larry Bossidy secara hiperbola pernah menyerukan: Confronting the brutal facts! Itulah juga yang jadi kiat di tahun 2009, jujur menatap kenyataan, apa adanya, dan hidup otentik. Gong Xi Fatchai, selamat tahun baru imlek! Dan selamat merayakan hari kasih sayang, Valentine day. Semoga tatanan dunia semakin adil. (twitter: @andrewenas) ------------------------------------------------- artikel dari Majalah MARKETING STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES Email: [email protected]
