(Sharing)


Demokrasi Pasar di Republik Facebook

Oleh : Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


“Seperti dalam judo, cara terbaik melayani gerakan lawan bukanlah dengan 
langkah 
surut, tapi dengan mengiringi gerakannya itu, memanfaatkannya demi keuntungan 
sendiri, persis seperti rehat sejenak sebelum menempuh tahap selanjutnya.” -  
Michel Foucault.

***

  Siapa di antara Anda yang belum punya account di Facebook? (atau di 
Friendster, LinkedIn, dll.).  Kalau belum, yang nggak apa-apa juga, Anda tidak 
akan ditangkap KPK atau petugas pajak yang akhir-akhir ini amat-sangat-aktif 
kejar target. Hanya saja
 – virtually speaking – you’re out of the new-world’s 
orbit!

  Utamanya sebagai pebisnis, Anda bisa kehilangan kontak dengan salah satu 
indikator denyut nadi komunitas pasar yang sedang berkembang pesat sekali. 
Konon, pengguna FB di Indonesia sudah menembus 1 juta! Inilah bentuk republik 
(virtual) yang paling demokratis di dunia! Setiap kita bebas menentukan, mau 
partisipasi (add/confirm) atau keluar (remove/delete) dari “negara kota” 
(polis) 
ini.

***

  Ketika Thomas Friedman (The World is Flat, 2005) melansir 10 kecenderungan 
“perataan dunia” (world flatteners) kita diingatkan kembali akan apa yang dulu 
pernah diwanti-wanti Alvin Toffler (triloginya: Future Shock, Third Wave & 
Power 
Shift) tentang 3 change-drivers yang bakal memicu dan memacu perubahan: 
teknologi, ekonomi, dan sosial. Tatkala terjadi intervensi teknologi maka ia 
akan mendorong perubahan
 ekonomi (oikos-nomos, pengaturan rumahtangga) dan ini 
pada gilirannya akan mendorong perubahan sosial, gaya hidup (lifestyle). Dan 
bagi para pebisnis, perubahan gaya hidup berarti perubahan pasar!

  Kesepuluh trend itu: robohnya tembok berlin (serentak dengan munculnya 
teknologi Windows oleh Microsoft); go public-nya Netscape yang menandai 
merebaknya internet sampai menembus titik “critical-mass”; teknologi 
workflow-software; opensourcing; offshoring; supply-chaining; insourcing; 
in-forming; dan the steroids, yaitu semacam pil doping yang mengakselerasi 
kesembilan trend tadi, bentuknya: digitalisasi-mobilisasi-personalisasi-
virtualisasi. Mereka saling bereaksi kimia satu sama lain dan tadaaa….. 
lahirlah dunia baru, a whole new world!

***

  Pemikir marketing Indonesia, Yuswohady (bukunya: Crowd, Marketing Becomes 
Horizontal, Gramedia, 2008), secara cerdik “mengadopsi”
 formula Einstein untuk 
menggambarkan betapa dahsyatnya dampak kerumunan komunitas virtual yang  
difasilitasi platform Web 2.0. Dengan mengajukan rumus: E=wMC^2 ia ingin 
mengatakan bahwa energi marketing  (E) yang dahsyat (bahkan sedahsyat bom 
nuklir) bisa diperoleh jika mampu memanfaatkan word of mouth (wM) atau 
rekomendasi pelanggan, yang dilipatgandakan oleh customer dan community (C^2) 
baik offline maupun online.

  Dengan semakin terfasilitasinya customer untuk saling berinteraksi “langsung” 
satu sama lain secara pribadi maka efek saling mempengaruhi menjadi sangat 
tinggi. Dan para pemasar tahu persis bahwa referral adalah senjata promosi 
terampuh untuk mengubah opini pelanggan.

  Ada 11 manifesto dalam pasar yang semakin horisontal seperti ini: 1) Net 
telah 
melepaskan potensi kekuatan pelanggan yang ada dalam jejaring, 2) pelanggan 
Anda 
adalah evangelist, relawan yang
 siap membantu, 3) your core competence is 
connecting your customers, 4) perlakukan pelanggan Anda sebagai member, temukan 
identitas kolektif mereka, juga purpose and passion-nya, 5) orang butuh 
mengomunikasikan dirinya dan mengekspresikan aspirasinya, dan di atas Web 2.0 
pasar jadi makin “manusiawi” lantaran bisa memfasilitasi hasrat narsisistik 
setiap orang, 6) Anda adalah fasilitator bagi para pelanggan Anda dalam rangka 
memenuhi kebutuhan (dan keinginan) mereka, 7) otentisitas adalah differentiator 
Anda, hal yang bisa terus menerus membuat Anda bisa tampil beda, jadilah diri 
sendiri, 8) your Brand is a Cult, create Ideology around it and spread to your 
believers, 9) your product and services should be contagious, mesti ada bakat 
untuk diperbincangkan pelanggan karena keunikannya, 10) trust is the real 
currency, diskursus mesti berlandas kejujuran,  alih-alih menolak members 
memperbincangkan dan
 mengaduk-aduk isi perut organisasi, kita malah mesti 
berpartisipasi dan memelihara dialog jujur dan transparan demi membangun 
kepercayaan (the strongest currency in the new world!), 11) libatkan pelanggan 
yang paling passionate untuk bersama Anda menciptakan solusi. Komunitas 
pelanggan semakin luas dan terfragmentasi adalah sumber mata air ide-ide produk.

***

  Berhadapan dengan teknologi, seolah kita ada dalam dilema: di satu sisi ia 
membongkar kebudayaan termasuk nilai-nilai dan tradisi etis, namun di sisi lain 
kita sekarang – de facto – tidak bisa hidup tanpa teknologi. Prof. Franz 
Magnis-Suseno (Teknologi dalam Tayangan Filosofis, 2005) menegaskan, karena 
tanpa teknologi modern, kita tidak dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dasar 
seluruh masyarakat. Juga, karena teknologi bagaimanapun juga tidak dapat 
ditolak, kemenangan budaya berdasarkan teknologi sudah tidak dapat digagalkan 
lagi.

  Sehingga, mengikuti alur pikiran Michel Foucault di atas, seperti dalam 
pertandingan judo, tak ada lagi pilihan selain masuk sepenuhnya dalam 
teknologi, 
mempelajarinya dan menguasainya lalu memanfaatkannya dalam banyak bidang 
kehidupan demi memecahkan pelbagai masalah di depan kita.

  Demokrasi pasar di Republik Facebook ini menembus batasan ruang (kamar tidur, 
café, kantor, domestik, internasional) dan waktu (365/7/24). Maka, hai para 
laggards teknologi komunikasi bertobatlah! segeralah kembali ke “jalan yang 
benar”. 


(twitter: @andrewenas)
------------------------------------------------
artikel dari Majalah MARKETING


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke