Di hari ke-22 puasa ini, bersama anak kedua saya Khalid Adam, Sofia dan ibunya, kami buka puasa di satu warung di jalan poros Pallangga. Sebelumnya kami meninggalkan rumah pukul 17.50 menit Wita. “Kita buka puasa di jalan saja,” Kataku. Tadi siang, tiba-tiba saja saya ingin shalat tarwih di Mesjid Nurul Hakim bersama keluarga dan kerabat di sana. Ah, ini adalah edisi spesial Ramadhan...ha ha ha
Shalat isya di mulai pukul 19.40 wita. Hanya ada dua baris shaf. Pada shaf kedua, lebih banyak anak-anak. Rupanya di mesjid ini juga dilanda sindrom deklinasi paruh kedua Ramadhan. Di mesjid selebar 12 meter itu jamaah memang sedikit. Ini adalah malam tarwih ke-23. Menurut saya, ini malam ramadhan yang sunyi di Mesjid Nurul Hakim Kampung Jempang, Desa Kalukuang, Kecamatan Galesong. Saya sebut sunyi karena anak-anak tidak seriuh di Komplek perumahan kami di Tamarunang.* “Malam ini tidak ada ceramah,”* Kata Ilyas, sang protokol. Ilyas adalah adik kelas saya di SMP Galesong. Dia bicara menggunakan bahasa Makassar. Menurut Ilyas, karena kemarin malam mesjid ini telah diramaikan selama 1,5 jam oleh ceramah dari ustadz keliling kiriman dari Pemkab Takalar sehingga malam ini sepertinya kita diberi keringanan untuk tidak duduk terlalu lama. Puluhan tahun lalu juga begitu, selalu saja ada penceramah yang mengatasnamakan utusan dari Kabupaten. Yang membuat saya tertegun sekaligus bangga karena menurut Ilyas, dana yang terkumpul melalui celengan dan sumbangan warga telah terkumpul Rp, 5,5 Juta sejak malam pertama Ramadhan hingga saat ini. Saya bandingkan di mesjid kami yang tidak lebih banyak dari sumbangan mereka. Selama mendengarkan pengantar dari Ilyas saya terkenang saat saya masih SD dan banyak menghabiskan waktu di mesjid ini, utamanya saat menunggu buka puasa. Juga pengalaman kerjsama warga. Dahulu, warga bahu membahu mengambil pasir di sungai Tambakola untuk menimbun lantai mesjid yang memang rendah. Tidak ada kontraktor atau pekerja yang dibayar sebagaimana yang banyak dijumpai saat ini. Saya mengembara ke memori saat merasakan kedekatan dan kerjasama sosial di Jempang. Ketika puluhan warga mulai dari kanak-kanak hingga kakek-nenek silih berganti mondar mandir dari lokasi masjid ke batang sungai *Tambakola *untuk menambang pasir dan mengangkatnya ke bagian dalam bangunan masjid*.* Jarak* *sungai*-*masjid* *hanya dua ratusan meter. Perkampungan tanpa listrik. Yang tampak hanya pelita, kilatan dan cahaya petromaks, suluh bambu, hingga lampu minyak dari kaleng susu bekas yang dipasang warga di sepanjang jalur sungai-masjid. Pada akhir tahun 70-an, listrik belum terpasang di dusun kami. Namun, warga dengan suka cita bahu membahu bekerja malam hari. Ibu-ibu menyiapkan penganan, minuman a la kadarnya untuk menyemangati para pekerja. Satu minggu lebih, lantai masjid sudah rata dan siap untuk diratakan dengan pasir dan semen. Lantai masjid rampung, pengurus hanya perlu menyiapkan dana untuk pembelian semen. Wargalah yang mengerjakannya. Bahkan mereka pun patungan untuk membeli beberapa sak semen tambahan. Lekatnya kerjasama warga saat itu tidak lepas dari peran tokoh lokal. Adalah Husain Daeng Lewa, veteran perang yang juga kepala dusun Jempang, saat itu masih bernama Desa Pa’rasangan Beru, Kecamatan Galesong Utara. Dia sangat berperan penting. Adanya tokoh panutan sekaligus penganjur kegiatan keagamaan menjadi warna tersendiri bagi warga Kampung Jempang. Setiap menjelang magrib, anak-anak bersama warga dewasa menyesaki masjid kecil itu. Sore harinya, pengajian rutin dan bimbingan bagi anak-anak untuk terampil berbicara di *podium* juga diajarkan. Kampung menjadi istimewa kegiatan sosial begitu rupa dan mengesankan. Setiap Ramadan, anak-anak kampunglah yang mengaji dengan penuh percaya diri melalui *loudspeaker*masjid. Hingga beberapa masa kemudian, kebiasaan ini memudar. Kaset-kaset pengajian mulai dibagikan oleh pihak luar. Pengajian dan ceramah yang kerap dibawakan oleh anak-anak muda mulai tergantikan oleh lengkingan suara ustas dari *tape recorder*. Tinggal tekan tombol *play*, pita kaset berputar, dan simbsalabim… ceramah agama menyebar. Semua serba otomatis, ustadz di pita kaset bisa berceramah berulang-ulang, tanpa lelah. *** Malam ini, seperti malam-malam yang kerap saya lalui nun dahulu setiap hendak berdiri untuk shalat tarwih, seseorang dari baris depan akan berteriak*,”ushalli sunnatatarwih rakaataini ma’muman lillahi taala, “*dengan suara keras lalu yang lain mengikutinya. Serentak. Juga, saat selesai tarwih (delapan rakaat) dan saat hendak melanjutkan witir, dia mulai lagi dengan menyebut, “assalatasunnata witir salasarakaataini ma’muman lillahi ta’la”, lalu dia melanjutkan, “*angnganre danniari ngasengki sinampe nakiparrang ammuko saggenna karueng,*” yang artinya,* makan sahurlah sebentar dan bertahan besok hingga sore*. Anak-anak biasanya akan menjawab,”*Iyyeeee…”* Lalu jamah pun berdiri melaksanakan shalat witir. Saat witir rakaat ketiga, doa qunut dilafdzkan oleh imam, kami mengikutinya, sesuatu yang tidak kami lakukan di Tamarunang atau mungkin juga di mesjid anda?. Tamarunang, 01092010 -- _____________ www.denung.wordpress.com www.denun.net
