Itu bagian yg mengaji pakai tape, sdh hampir semua masjid dan mushollah 
kayaknya. Hanya beberapa tempat saja yg saya temukan tidak menggunakan tape. 

Kebiasaan spt itu secara tdk langsung mengurangi jumlah pembaca quran, dan bagi 
yg bisa baca quran jadi gak PD kalo dibandingkan qary kasetan entah tilawah 
atau murattal.

:) selamat siang ah

Tabe'ki di 
http://bisot182.blogspot.com

-----Original Message-----
From: deNun <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 1 Sep 2010 23:13:40 
To: id-BlackBerry-Mks<[email protected]>; 
blogger_makassar<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [blogger_makassar] Catatan Tarwih Malam Ke-23 [edisi spesial ha ha ha]

Di hari ke-22 puasa ini, bersama anak kedua saya Khalid Adam, Sofia dan
ibunya, kami buka puasa di satu warung di jalan poros Pallangga. Sebelumnya
kami meninggalkan rumah pukul 17.50 menit Wita. “Kita buka puasa di jalan
saja,” Kataku. Tadi siang, tiba-tiba saja saya ingin shalat tarwih di Mesjid
Nurul Hakim bersama keluarga dan kerabat di sana. Ah, ini adalah edisi
spesial Ramadhan...ha ha ha

Shalat isya di mulai pukul 19.40 wita. Hanya ada dua baris shaf. Pada shaf
kedua, lebih banyak anak-anak. Rupanya di mesjid ini juga dilanda sindrom
deklinasi paruh kedua Ramadhan. Di mesjid selebar 12 meter itu jamaah memang
sedikit. Ini adalah malam tarwih ke-23. Menurut saya, ini malam ramadhan
yang sunyi di Mesjid Nurul Hakim Kampung Jempang, Desa Kalukuang, Kecamatan
Galesong.

Saya sebut sunyi karena anak-anak tidak seriuh di Komplek perumahan kami di
Tamarunang.* “Malam ini tidak ada ceramah,”* Kata Ilyas, sang protokol.
Ilyas adalah adik kelas saya di SMP Galesong. Dia bicara menggunakan bahasa
Makassar.

Menurut Ilyas, karena kemarin malam mesjid ini telah diramaikan selama 1,5
jam oleh ceramah dari ustadz keliling kiriman dari Pemkab Takalar sehingga
malam ini sepertinya kita diberi keringanan untuk tidak duduk terlalu lama.
Puluhan tahun lalu juga begitu, selalu saja ada penceramah yang
mengatasnamakan utusan dari Kabupaten.

Yang membuat saya tertegun sekaligus bangga karena menurut Ilyas, dana yang
terkumpul melalui celengan dan sumbangan warga telah terkumpul Rp, 5,5 Juta
sejak malam pertama Ramadhan hingga saat ini. Saya bandingkan di mesjid kami
yang tidak lebih banyak dari sumbangan mereka.

Selama mendengarkan pengantar dari Ilyas saya terkenang saat saya masih SD
dan banyak menghabiskan waktu di mesjid ini, utamanya saat menunggu buka
puasa. Juga pengalaman kerjsama warga. Dahulu, warga bahu membahu mengambil
pasir di sungai Tambakola untuk menimbun lantai mesjid yang memang rendah.
Tidak ada kontraktor atau pekerja yang dibayar sebagaimana yang banyak
dijumpai saat ini.

Saya mengembara ke memori saat merasakan kedekatan dan kerjasama sosial di
Jempang. Ketika puluhan warga mulai dari kanak-kanak hingga kakek-nenek
silih berganti mondar mandir dari lokasi masjid ke batang sungai *Tambakola
*untuk menambang pasir dan mengangkatnya ke bagian dalam bangunan masjid*.*

Jarak* *sungai*-*masjid* *hanya dua ratusan meter. Perkampungan tanpa
listrik. Yang tampak hanya pelita, kilatan dan cahaya petromaks, suluh
bambu, hingga lampu minyak dari kaleng susu bekas yang dipasang warga di
sepanjang jalur sungai-masjid.

Pada akhir tahun 70-an, listrik belum terpasang di dusun kami. Namun, warga
dengan suka cita bahu membahu bekerja malam hari. Ibu-ibu menyiapkan
penganan, minuman a la kadarnya untuk menyemangati para pekerja. Satu minggu
lebih, lantai masjid sudah rata dan siap untuk diratakan dengan pasir dan
semen. Lantai masjid rampung, pengurus hanya perlu menyiapkan dana untuk
pembelian semen. Wargalah yang mengerjakannya. Bahkan mereka pun patungan
untuk membeli beberapa sak semen tambahan.

Lekatnya kerjasama warga saat itu tidak lepas dari peran tokoh lokal. Adalah
Husain Daeng Lewa, veteran perang yang juga kepala dusun Jempang, saat itu
masih bernama Desa Pa’rasangan Beru, Kecamatan Galesong Utara. Dia sangat
berperan penting. Adanya tokoh panutan sekaligus penganjur kegiatan
keagamaan menjadi warna tersendiri bagi warga Kampung Jempang.

Setiap menjelang magrib, anak-anak bersama warga dewasa menyesaki masjid
kecil itu. Sore harinya, pengajian rutin dan bimbingan bagi anak-anak untuk
terampil berbicara di *podium* juga diajarkan. Kampung menjadi istimewa
kegiatan sosial begitu rupa dan mengesankan. Setiap Ramadan, anak-anak
kampunglah yang mengaji dengan penuh percaya diri melalui *loudspeaker*masjid.

Hingga beberapa masa kemudian, kebiasaan ini memudar. Kaset-kaset pengajian
mulai dibagikan oleh pihak luar. Pengajian dan ceramah yang kerap dibawakan
oleh anak-anak muda mulai tergantikan oleh lengkingan suara ustas dari *tape
recorder*. Tinggal tekan tombol *play*, pita kaset berputar, dan
simbsalabim… ceramah agama menyebar. Semua serba otomatis, ustadz di pita
kaset bisa berceramah berulang-ulang, tanpa lelah.

***

Malam ini, seperti malam-malam yang kerap saya lalui nun dahulu setiap
hendak berdiri untuk shalat tarwih, seseorang dari baris depan akan
berteriak*,”ushalli sunnatatarwih rakaataini ma’muman lillahi taala,
“*dengan suara keras lalu yang lain mengikutinya. Serentak.

Juga, saat selesai tarwih (delapan rakaat) dan saat hendak melanjutkan
witir, dia mulai lagi dengan menyebut, “assalatasunnata witir
salasarakaataini ma’muman lillahi ta’la”, lalu dia melanjutkan, “*angnganre
danniari ngasengki sinampe nakiparrang ammuko saggenna karueng,*” yang
artinya,* makan sahurlah sebentar dan bertahan besok hingga sore*. Anak-anak
biasanya akan menjawab,”*Iyyeeee…”*

Lalu jamah pun berdiri melaksanakan shalat witir. Saat witir rakaat ketiga,
doa qunut dilafdzkan oleh imam, kami mengikutinya, sesuatu yang tidak kami
lakukan di Tamarunang atau mungkin juga di mesjid anda?.

Tamarunang, 01092010



-- 
_____________
www.denung.wordpress.com
www.denun.net

Kirim email ke