* * SUKSES Inter Milan memastikan predikat campione d'inverno membuat Massimo Moratti mulai berpikir seribu kali untuk melego klub kesayangannya tersebut. Padahal, delapan bulan lalu, hampir saja dia membuat keputusan melepas status kepemilikannya bersama Inter.
Pengakuan mengejutkan itu diungkapkan secara blak-blakan oleh Moratti kepada majalah L'Espresso. Presiden sekaligus penyokong dana Inter Milan itu mengatakan hampir saja melego klubnya pada April lalu. Nerazzurri (julukan Inter Milan) saat ini adalah kandidat kuat perebut scudetto musim ini. Tapi, di mata Moratti, kondisi sekarang sangat jauh berbeda dibandingkan delapan bulan lalu. Saat itu, Moratti dilanda frustrasi hebat karena harus menerima kenyataan pahit tim binaannya lagi-lagi gagal merebut scudetto. "Pada saat itu (April) saya sudah hampir membuat keputusan akhir untuk melepas status kepemilikan saya di Inter Milan. Terus terang, saya bosan karena terus-terusan gagal. Kami harus mengakhiri kompetisi dengan posisi terbaik hanya pada peringkat kedua. Karena itu, saya sempat mengundang beberapa bankir untuk melakukan proses penjualan Inter," tutur baron minyak tersebut. Rencana penjualan tersebut ternyata mendapat dukungan penuh dari keluarga Moratti. "Mereka sangat mendukung. Sebab, mereka tidak ingin melihat saya terus didera stres gara-gara memikirkan urusan klub yang sangat ruwet," lanjutnya. Perubahan besar-besaran yang terjadi setelah terkuaknya skandal Calciopoli membuat Moratti menangguhkan rencananya. "Setelah situasinya berubah, saya memilih wait and see. Saya ingin mempelajari bagaimana kisah ini berakhir," tuturnya. Keputusan Moratti untuk tetap bertahan ternyata memang tepat. Inter Milan secara kontroversi mendapat limpahan gelar scudetto dari Juventus karena klub asal Turin itu divonis terlibat skandal Calciopoli. Itu adalah gelar scudetto pertama yang berhasil direbut Inter semenjak periode pertama kepemimpinan Moratti yang dimulai pada 1995. Selama kemudi dipegangnya, Inter benar-benar kering gelar. Dengan investasi besar-besaran dalam hal pemain dan pelatih, hanya satu trofi Piala UEFA serta dua mahkota Coppa Italia yang pernah mampir ke markas Nerazzurri. Total, Moratti telah menghabiskan sekitar USD 400 juta (sekitar Rp 3,6 triliun) untuk belanja pemain dan pelatih. Tapi, scudetto tak kunjung diraih, begitu pula dengan mahkota Liga Champions. Dari sinilah guyonan kalau Massimo Moratti seperti kena "kutukan" muncul. Catatan itu sangat kontras dengan apa yang diraih sang ayah, Angelo. Di bawah Angelo, Inter menjadi kekuatan besar, terutama pada era 1960an. Gelar domestik, Eropa, bahkan hingga interkontinental dikantongi Inter selama masa kepemimpinan Angelo. Nah, meski akhirnya berhasil merebut scudetto, Moratti tampaknya belum benar-benar puas. Apalagi gelar itu ada embel-embel buangan. Karena itu, Moratti mengambil keputusan all out pada musim ini. Namun, keputusan Moratti setelah mimpinya itu tercapai masih penuh misteri. Termasuk apakah dia bakal tetap bertahan atau melanjutkan rencana melego Inter. Kita tunggu saja! (roq) [Non-text portions of this message have been removed]
