On 5/2/07, smith jacks <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Masalah menyuarakan pendapat media, ini saya kira perlu diluruskan. > Dalam media mana pun ada yang namanya media gatekeeper. Seorang reporter > atau wartawan tidak punya wewenang dan keleluasaan 100% dalam menyuarakan > pendapatnya di media. Ada desk editor, co-managing editor, managing editor, > copy editor, hingga sidang redaksi. Jadi, agak absurd jika dikatakan bahwa > ybs. punya media untuk menyuarakan pendapatnya. Bahkan jikapun Si Wiwid ini > bisa melewati internal gatekeepers tadi, masih ada aspek eksternal yang > mesti dipertimbangkan: media lain, masyarakat luas, pengiklan, religious > leaders, bahkan kita semua, para pembaca. Jadi menurut saya, satu pendapat > ya mesti disikapi sebagai satu pendapat, tanpa caci maki berlebihan. >
[rudy] Saya memang tidak pernah bekerja di media, tapi tulisan di sebuah media oleh seorang jurnalis jelas-jelas adalah sebuah output dari hasil pemikirannya. [/rudy] Selain itu, pemikiran dan pengetahuan manusia sudah berkembang ke satu arah > di mana secara umum orang sudah menyadari bahwa obyektivitas bukan sesuatu > yang sakral dan mutlak ada. Subyektivitas adalah sesuatu yang tak > terpisahkan dari pengetahuan. Subyektivitas adalah bagian tak terpisahkan > dari kebenaran. Keberadaan kebenaran obyektif sudah diragukan. Jadi pendapat > memang pasti akan bersifat subyektif. Itu bukan satu hal yang hina dina > dalam kerangka pengetahuan saat ini. Di dunia ini, tak ada satu pun media > yang obyektif dan netral. > [rudy] Kita berbicara media di Indonesia kan? Klo subjective dalam mendukung Sepakbola Indonesia sich ga masalah bung(karena semua pembaca adalah orang Indonesia), tapi klo sudah berbicara tentang sebuah object di luar sana(baca Sepakbola Eropa) di mana pembacanya terdiri dari berbagai macam "latar belakang", subjectivitas yang didasari dari kebencian penulis terhadap pihak tertentu akan membuat mereka tidak disukai bahkan oleh kaum "objective", apalagi oleh kaum yang merasa terpojokkan dengan tulisan mereka. [/rudy] Para tifosi tidak bisa berbuat banyak? Pernyataan ini juga absurd. Maaf > saja, tapi menurut saya para tifosi Milan (ataupun tim Eropa mana pun) di > Indonesia tidak berhak berbuat apa pun soal klub Eropa. Mereka tidak lebih > dari sekadar pasar dalam kerangka strategi pemasaran global klub Eropa. > Mereka tidak bisa dirugika sedikitpun dalam kaitannya dengan Milan, > misalnya, karena hubungan dengan klub Eropa adalah hubungan ilutif, hasil > eksploitasio terhadap ilusi akibagt dari diktum "tanpa batas" khas > globalisasi ekonomi. Jangankan suporter sepakbola Eropa di Indonesia, > suporter "beneran" di Eropa sana pun mulai berteriak-teriak karena ada > upaya-upaya sistematis dari beberapa kekuatan ekonomi untuk memisahkan > suporter dari klubnya. Memisahkan? Ya, fakta bahwa klub saat ini menjelma > menjadi "badan usaha" yang profit-oriented membuat para pengelola menjadi > pragmatis dan cenderung mengabaikan aspirasi dan kepentingan suporter > "sejati" yang merupakan stakeholder historis. > [rudy] Anda terlalu berorientasi ke Inggris bung, mungkin anda adalah salah satu korban eksploitasi klub-klub Inggris itu. Saya penggemar Milan, dan sampai sekarang saya banyak mendapat kesenangan dari Milan tanpa harus membayar sepeserpun... Untuk mendapat komentar2 pemain Milan saya hanya perlu register ke situs Milan dan GRATIS. Untuk mendapatkan video pertandingan, saya juga bisa mendownload-nya dengan gratis. [/rudy] Terima kasih > Salam sepakbola cerdas > [rudy] Cerdas di sini perlu anda definisikan lebih detail... Saya sendiri tidak pernah merasa sebagai seorang yang cerdas, karena saya selalu beranggapan bahwa kalau saya cerdas saya sudah mampu meraih NOBEL sekarang. [/rudy] -- Cavaliere AC Milan atau tidak sama sekal! FORZA INDONESIA >> Tak pernah berhenti berharap Indonesia bisa tampil di Piala Dunia. [Non-text portions of this message have been removed]
