http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/04/or/3500553.htm
Jumat, 04 Mei 2007 Bangkitnya Ksatria Terluka Awalnya AC Milan dilarang ikut Liga Champions 2006/2007 gara-gara vonis skandal pengaturan skor di Serie A. Namun, tim "Rossoneri" akhirnya melaju ke final setelah memukul Manchester United dengan agregat 5-3 di babak semifinal. Perubahan formasi pemain oleh Manajer Milan Carlo Ancelotti berpengaruh terhadap kesuksesan tim "Merah-Hitam" menumbangkan "The Red Devils". Ancelotti yang memasang formasi 4-4-1-1 di Old Trafford, dengan Kaka menjadi striker gantung di belakang ujung tombak Alberto Gilardino, ganti menampilkan 4-4-2 di San Siro. Dua striker di lini depan adalah Filippo Inzaghi dan Kaka. Sementara di lini tengah ada kuartet Gennaro Gattuso di kanan, Massimo Ambrosini di kiri, serta Pirlo dan Clarence Seedorf di tengah. Seedorf bersiaga lebih ke depan menempel duo striker, sedangkan Pirlo di belakang Seedorf. Di lini belakang, Ancelotti yang tidak memasang pemain gaek Paolo Maldini menurunkan kuartet Massimo Oddo, Alessandro Nesta, Kakha Kaladze, dan Marek Jankulovski. Milan yang mengontrol irama sejak kick off layak berterima kasih terhadap duet Seedorf-Pirlo yang tampil jitu di lini tengah. Gol Kaka pada menit ke-11 menunjukkan betapa Seedorf adalah gelandang visioner. Umpan lambung Oddo dia arahkan ke sisi Kaka berlari, yang lalu dituntaskan dengan sepakan keras. Bola meluncur ke sudut kiri gawang MU. Pengakuan Ferguson Praktis, MU tak berkutik hampir di sepanjang laga. Pengukuhan paling sahih atas dominasi Milan adalah pengakuan Manajer MU Sir Alex Ferguson seusai pertandingan tersebut. "Kami tak pernah sukses memainkan bola keluar daerah pertahanan sendiri dan para pemain Milan secara fisik lebih kuat daripada kami. MU gagal mendominasi menit-menit awal. Tekanan mengarah ke kami sehingga dituntut lebih banyak menguasai bola agar sedikit lebih tenang, tetapi ada banyak kendala untuk mewujudkan itu," ujar Fergie. Di lapangan, terbukti kawalan pemain Milan terhadap siapa pun pemain MU yang mendribel bola terlihat menjadi kendala bagi upaya bangkitnya MU. Pencapaian Ancelotti dalam Liga Champions kali ini kembali membuat miliaran pencandu bola menolehkan pandangan kepadanya. Eks pemain tim nasional Italia 1981-1991 itu dua kali berhasil membalikkan kondisi terdesak menjadi keunggulan meyakinkan. Pada perempat final, Milan ditahan seri 2-2 oleh Bayern Muenchen di San Siro, tetapi berbalik menang 2-0 dalam laga tandang di Allianz Arena, Muenchen. Padahal, ketika itu mayoritas pengamat memperkirakan Bayern Muenchen yang bakal lolos ke semifinal. Bukti kedua kesuksesan Ancelotti adalah menyisihkan MU di semifinal, dengan defisit satu gol hasil kekalahan 2-3 di leg pertama. Bermodal kematangan sebagai pemain dan pelatih, tangan dingin Ancelotti membesut Milan akan terus bersinar dengan skuad pemain senior yang memperkuat Rossoneri. Ketika hanya unggul dengan agregat 1-0 atas Celtic (Skotlandia) di perdelapan final dan kemudian ditahan 2-2 pada leg pertama perempat final oleh Bayern Muenchen, banyak yang meremehkan kualitas skuad Ancelotti. Maklum, sebagian besar pemain Milan sudah tak bisa dibilang muda lagi untuk ukuran pemain sepak bola profesional. Bek senior yang sering menjadi kapten tim Paolo Maldini, misalnya, sudah berusia 38 tahun. Seedorf sejak 1 April lalu sudah menginjak usia 31, demikian pula dengan Nesta. Beruntung masih ada beberapa pemain muda yang melapis mereka, seperti Kaka yang masih 25 tahun dan Alberto Gilardino 24 tahun. Kehadiran Milan yang akan melawan Liverpool di final Liga Champions, 23 Mei nanti di Athena, Yunani, ibarat kebangkitan seorang ksatria yang terluka. Tim asuhan Ancelotti yang awalnya tak boleh ikut kualifikasi lolos hingga final dan berpeluang menjadi juara. Satu langkah lagi Ancelotti. (ADI PRINANTYO)
