Wacana melebar ke mana-mana? Betul. Dan itu merupakan satu hal tak 
terhindarkan. Justru itu inti semua paparan saya. Sepakbola oleh Peter Sheddon 
dalam Football Talk dikatakan telah menjadi satu kata yang arti dan definisinya 
tidak hanya mengacu pada satu permainan. Kata ini merambah wilayah2 ekonomi, 
budaya, politik, dan sosiologi yang luas. Richard Giulianotti dalam Football, a 
Sociology of the Global Game bilang bahwa ada satu istilah yang disebut 
soccerscape untuk menggambarkan bahwa sepakbola sudah menjadi satu wilayah 
interdisciplinary tersendiri, sama dengan sosiologi kedokteran, psikologi 
komunikasi, psikolinguistik, dsb. Artinya kemungkinan pengamatan dan analisis 
memang menjadi lebar, dan dengan begitu vonis atas satu kebenaran menjadi 
sesuatu yang sangat nisbi. 

Penulis berita mungkin tidak memikirkan imperialisme modern, pemaksaan 
ideologi, financial interest saat menulis, tapi kita tak bisa tidak mesti 
meilihat sepakbola dalm kaitannya dengan semua hal itu saat ingin memahami 
sepakbola pasca modern ini (ya, bukan sepakbola modern yang telah lewat). Kita 
harus melihat sepakbola eropa sebagai satu referen atau media pembelajaran 
secara lebih arif agar kita bisa belajar secara lebih baik, bukan hanya 
menikmatinya secara kekanak-kanakan sehingga marah tanpa juntrungan dan 
justifikasi yang rasional saat klub kesayangan dikritik.

Anton Sanjoyo di Kompas 4 Mei menyatakan bahwa fan Chelsea di Indonesia ngamuk 
waktu Kompas mengkritik Mourinho sebagai sosok yang arogan. Ini kan aneh. Kita 
kan jadi seperti sekelompok orang yang mengalami disorientasi identitas.

Satu fakta penting dari pertandingan Liverpool dan Chelsea saat itu memang gol 
Grcia yang kontroversial, sama dengan fakta penting gol tangan Tuhan Il Nostro 
Dio ke gawang Inggris tahun 86. Itu bagian dari permainan yang akan selalu 
berada di wilayah abu-abu interpretasi. Jadi, untuk apa merasa terganggu dengan 
berita yang membahas itu hingga menuduh penulis berita dengan tuduhan keji yang 
macam2? Saya tidak tahu penulis berita itu memikirkan apa, tapi yang saya tahu 
dia sama sekali buka penyuka Chelsea dan dia menganggap bahwa gol kontroversia 
itu merupakan poin penting dalam Chelsea vs Liverpool. Itu saja. Masalahnya: 
bisakah Liverpudlian Indonesia menerima itu sebagai fakta hidup yang kadang 
kala pahit? 

Salam
AL Sujanto
Firdauf Achmad Dhewata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
wacananya menarik, dan ada benarnya.. cuman sudah melebar dari 
bahasan omar. 

Mengenai imperialisme modern, pemaksaan ideologi, financial interest 
dan tulisan anda yg panjang lebar itu, apakah benar itu yg jadi 
dasar penulis menyentil "pride" beberapa rekan2 Liverpudlian ? untuk 
menyadarkan kita semua akan semua yg sudah anda tulis ? apakah yakin 
100% bahwa sebuah tulisan tidak punya financial interest juga ? 
apakah sebuah tulisan juga tidak bisa dijadikan alat untuk mendrive 
pola pikir pembaca ? 

Sebab pertanyaan apakah bung omar berhak "sebal" dgn komentar yg 
melulu mengungkit2 gol luis garcia ? Jelas dia berhak.

selebihnya mungkin bisa lebih stick to the problem, mengingat ini 
milis bola, alangkah lebih baiknya jika kita berdiskusi dgn koridor 
yg make sense dan tidak mencari justifikasi melebar kemana2

Alkaizer

---------------------------------
Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast 
with theYahoo! Search weather shortcut.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke