Jumat, 11 Mei 2007

Misteri Tim Nasional Spanyol

Nama-nama besar seperti Alfredo di Stefano, Emilio Butragueno, Andoni
Zubizarreta, Fernando Hierro, Raul, David Villa, dan Fernando Torres
adalah sejumlah nama bintang yang pernah dan masih menjadi tulang
punggung tim nasional Spanyol.

Spanyol memiliki klub terbaik dunia, Real Madrid dan Barcelona, dua
klub yang bermaterikan pemain-pemain terbaik, lokal maupun
internasional. Klub lain, seperti Sevilla, Atletico Madrid, dan
Valencia, juga tak kurang melahirkan talenta.

Tim yunior klub-klub itu, contohnya Real Madrid Castilla, selalu
menyetor bintang kepada tim utama karena mengikuti kompetisi ketat di
"Segunda Division". Sayangnya, prestasi timnas Spanyol tak segemerlap
klub-klubnya meski dari segi materi tak pernah kekurangan.

Sejak keikutsertaan tim "Matador" pertama kali di Piala Dunia 1934
hingga terakhir tahun 2006, prestasi terbaik hanyalah menduduki posisi
keempat pada Piala Dunia 1950.

Gelar internasional yang pernah diraih barulah juara Piala Eropa 1964,
medali emas Olimpiade 1992, dan juara FIFA World Youth Championship
1999. Spanyol tampil pada 12 kali Piala Dunia, empat kali gagal
kualifikasi, dan dua kali absen. Total pertandingan yang telah mereka
mainkan sebanyak 49 kali dengan 22 kali menang, 12 kali imbang, dan 15
kali kalah. Gawang Spanyol tercatat dibobol 57 kali dan memasukkan 80
gol. Penampilan terakhir adalah di Piala Dunia 2006 Jerman.

Pelatih Spanyol saat ini, Luis Aragones, menyebut kekhawatiran
terbesar Spanyol pada setiap Piala Dunia bukanlah kehebatan
lawan-lawan mereka, tetapi bagaimana mengatasi ketakutan pada diri
mereka sendiri. Sebagai pemain bintang, tuntutan untuk selalu bermain
bagus dari para pendukung menjadi beban yang akhirnya terlalu berat
dipikul tim "Matador".

Beberapa pemain lain bahkan percaya dengan adanya mitos "kutukan
perempat final". Pada lima Piala Dunia terakhir, tiga kali Spanyol
mencapai babak perempat final. Hanya saja, mereka selalu gagal
melewati tahapan ini, yakni pada Piala Dunia 1986 Meksiko, Piala Dunia
1994 Amerika Serikat, dan Piala Dunia 2002 Jepang-Korea.

Pada wawancara dengan stasiun televisi La Sexta sebelum Piala Dunia
2006, Luis Aragones menyebutkan, karena selalu gagal melewati partai
perempat final itulah, para pemain akhirnya percaya bahwa itu adalah
kutukan. Meski Aragones yakin mampu mengatasi kutukan itu, Spanyol
kembali terpuruk setelah disingkirkan Perancis di perdelapan final
Piala Dunia 2006.

Sejumlah hal dikemukakan mencari sebab terpuruknya timnas Spanyol,
termasuk yang irasional, seperti mitos "kutukan perempat final".
Beberapa di antaranya masuk akal, seperti tiadanya kebersamaan tim
akibat ego masing-masing bintang.

Tidak hanya Spanyol, tim bertabur bintang lain, seperti Inggris,
Belanda, dan contoh di level klub Real Madrid, beberapa tahun terakhir
juga gagal bersinar.

Persaingan Real Madrid dan Barcelona yang terbawa hingga ke timnas
juga dinilai menjadi salah sebab. Penduduk wilayah Castile dan
Catalunia, tempat dua klub tersebut berasal, selalu berseteru dalam
hal politik dan budaya dan itu terbawa pada persaingan dua klub yang
dianggap mewakili warga.

Untuk mengakali hal itu, pada Piala Dunia 2006, Luis Aragones
memanggil lebih banyak pemain dari klub di luar dua seteru itu.
Kebetulan, banyak bintang Spanyol yang bersinar di klub seperti
Arsenal, Liverpool, Atletico Madrid, dan Valencia.

Untuk memompa semangat, Aragones menghalalkan segala cara. Hal
terakhir ini merusak reputasi Aragones sebagai pelatih berjuluk "El
Sabio", sang bijak. Pada suatu sesi latihan menjelang Piala Dunia
2006, Aragones terekam kamera televisi mengucapkan kalimat rasis
terhadap Thierry Henry saat menyemangati Jose Antonio Reyes, rekan
se-klub Henry di Arsenal waktu itu.

Lagi-lagi, ramuan dan "jampi- jampi" terakhir Aragones tidak
membuahkan hasil. Para bintang Spanyol pulang sebagai tim pencundang.
Terpuruknya tim "Matador" masih menjadi misteri yang tak terpecahkan.

(Prasetyo Eko P)

Kirim email ke