Arsenal, Bukan Hasil Kerja Semalam
Arya Perdhana a2s - detikcom

Jakarta, Arsenal kini jadi klub terkaya di Inggris. Mereka melewati 
hegemoni klub-klub yang tradisinya lebih kuat seperti MU dan 
Liverpool. Buah dari proses bertahun-tahun.

Pengumuman Arsenal bahwa mereka memperoleh pemasukan lebih dari 200 
juta poundsterling dan keuntungan 51,2 juta pounds memang cukup 
mengejutkan. Tapi sudah seharusnya fakta itu tidak dilihat sebagai 
sebuah upaya yang selesai dalam semalam.

Arsenal adalah klub dengan tradisi yang kuat. Mereka tidak dibangun 
dengan gelontoran uang nyaris tak terbatas dari seorang konglomerat 
dari Eropa timur. Mereka tidak pernah jor-joran dalam membeli pemain 
bintang. The Gunners lebih suka membeli pemain muda berharga murah. 
Di saat yang sama mereka menjual bintangnya dengan harga mahal. 
Berhemat sekaligus berinvestasi.

Arsene Wenger berperan amat besar dalam kesuksesan Arsenal. Manajer 
yang datang ke London pada tahun 1996 inilah yang merevolusi Arsenal 
di dalam lapangan. Gaya permainannya atraktif. Ia juga suka memakai 
pemain-pemain muda, klop dengan kebijakan irit klub.

Saat The North Londoners memutuskan membangun stadion baru, 
kebijakan pengiritan makin menjadi. Stadion di kawasan Ashburton 
Grove itu menyedot kas Arsenal hingga 430 juta pounds.

Banyak fans mulai jengah. Skuad Wenger benar-benar kedodoran 
dibanding rival-rivalnya. Di saat para kompetitor membeli pemain 
berharga jutaan pounds, Arsenal sepertinya sudah cukup bahagia 
membeli pemuda tak terkenal dari negeri di pelosok Afrika.

Tapi kalangan yang dulu kesal dengan politik transfer Arsenal 
bolehlah kini menjilat ludahnya. Stadion bernama Emirates Stadium 
berubah menjadi profit center The Gunners. Kapasitasnya yang 
mencapai 60.000 kursi atau dua kali lipat Highbury membuat income 
dari tiket mengalir deras.

Dari dalam lapangan, prestasi para pemain muda itu tidak 
mengecewakan. Wenger mengantar skuadnya tiga kali juara Premiership, 
empat kali jawara Piala FA dan satu kali runner-up Liga Champion 
Eropa.

Dalam tiga tahun terakhir, Arsenal memang gagal jadi juara Liga 
Inggris. Chelsea dengan kekuatan uangnya dua kali menjadi jawara. 
Lantas tahun lalu, giliran MU yang juara. 

Terlalu dini bila dikatakan kesabaran Arsenal dalam mendidik pemain 
muda telah menuai hasil. Tapi setidaknya, musim ini diawali dengan 
sangat baik. Para pemain yang awalnya masih hijau itu mulai matang. 
Cesc Fabregas dkk menduduki puncak klasemen sementara Premiership. 
16 poin dari enam gim, mencetak 15 gol dan hanya kemasukan enam.

Terakhir, masih dengan bekal young guns, Arsenal maju ke babak IV 
Piala Carling. Dengan menurunkan pemain lapis kedua mereka 
membungkam perlawanan full team Newcastle United 2-0 di babak III, 
Rabu (26/9/2007) dinihari WIB.

Sebuah perjalanan menuju kesuksesan lain tampaknya sedang dirintis 
The Young Gunners.

Kirim email ke