** Merasa Tak Ditakdirkan untuk Menjadi Besar di Sepak Bola DI USIA yang baru 18 tahun, harapan besar itu sudah disematkan kepada Sebastian Deisler yang saat itu masih berkostum Borussia Moenchengladbach: ini dia anak muda yang akan kembali mengangkat prestasi Jerman.
Kala itu, 1998, Jerman memang mulai khawatir dengan masa depannya di lapangan hijau. Bukan semata karena mereka terjegal di perempat final Piala Dunia 1998 di Prancis. Tapi karena tim Piala Dunia 1998 itu didominasi para pemain karatan macam Jurgen Klinsmann, Oliver Bierhoff, dan Andreas Koepke. Tak ada anak muda yang diharapkan bisa bersinar di masa mendatang. Nah, di saat-saat seperti itu, Deisler datang memamerkan skill-nya. Passing bagus, kedua kaki hidup, punya mobilitas dan visi, serta tahu cara mencetak gol. Benar-benar gelandang dengan kemampuan lengkap, sesuatu yang jarang ditemukan di persepak bolaan Jerman yang selama ini selalu memuja efisiensi. Di usia 19 tahun, seragam Der Panser mulai dikenakan pemain kelahiran 5 Januari 1980 itu. Namun, di saat itu pula masalah mulai menghampiri lututnya sebelah kanan. Dia pun harus melakoni operasi pertamanya. Inilah awal bencana itu: hingga menyatakan pensiun pada 16 Januari lalu, total sudah lima kali dia harus naik meja operasi. "Melihat serangkaian masalah yang membelit saya, saya sadar bahwa saya memang tidak ditakdirkan untuk sepak bola. Pada akhirnya saya merasa kosong. Saya merasa tua. Saya lelah," kata Deisler kepada Tagesspiegel am Sonntag yang dilansir kemarin. Deisler lelah karena terus berada di antara dua himpitan besar itu: di satu sisi, dia punya segalanya sebagai pemain: skill, dukungan publik, dukungan klub, dan timnas. Tapi di sisi lain, fisiknya sangat tak mendukung. Salah satu yang paling mengguncangnya adalah cedera yang menderanya di uji coba melawan Austria jelang Piala Dunia 2002. Dia pun gagal berangkat ke Korea Selatan-Jepang. Saking kecewanya, depresi pun melilitnya dan Deisler pun harus menghabiskan waktu di rumah sakit jiwa. "Sepak bola mengambil terlalu banyak dari saya. Saya tak punya waktu untuk tumbuh. Saya bahkan tak punya waktu untuk melakukan kesalahan," kata Deisler, seperti dikutip Associated Press. Tak hanya di timnas himpitan itu dirasakannya. Di klubnya, Bayern Munchen, dilema juga membelitnya. Klub raksasa Jerman itu sangat sayang kepada Deisler. Mereka memberinya keleluasaan untuk menyembuhkan cederanya. Dan begitu sudah fit, tempat di line up inti selalu menunggu. Tapi justru itu yang membuat pemain yang mencatat 28 caps bersama Der Panser itu tertekan secara moral. Dia memang pernah mencetak gol dari jarak 70 meter untuk Bayern di sebuah laga Bundesliga. Gol spektakuler karena dicetak lewat tembakan keras yang membuat sarung tangan kiper lawan sobek jadi dua ketika berusaha menghadangnya. Tapi, mungkin hanya itu yang bisa dikenangnya sebagai memori indah selama 4,5 tahun berkostum FC Hollywod. Selebihnya adalah cedera, cedera, cedera. Termasuk jelang Piala Dunia 2006. Deisler kembali absen dari Timnas Jerman. Bayern menolak membeli gelandang baru karena yakin dia akan pulih. Tapi, 16 Januari lalu Deisler segera sadar: dia memang tak ditakdirkan untuk menjadi besar. Pemain yang dipuji General Manager Bayern Uli Hoeness sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Jerman itu pun memilih mundur. "Sudah terlalu lama saya berperang melawan diri saya sendiri. Saya terus berperang sampai saya tidak tahan lagi. Itu sebabnya saya memilih mengalah," tegas pemain yang hanya mencetak delapan gol bagi Bayern dari hanya 62 pertandingan itu. (ali) sumber:indopos [Non-text portions of this message have been removed]
