Lupakan sebentar Liverpool vs MU, disampaikan sekilas info tentang lanjutan 
program Football Rivalries di ESPN. Info disampaikan dengan tambahan sana-sini 
dari Wikipedia:
   
  1.      Derby Fla-Flu:
  Brasil…negara besar yang dengan bangga menyatakan sepakbola sebagai agama. Di 
Brasil tidak ada derby yang melebihi derby Rio de Janeiro antara Flamengo vs 
Fluminense, atau dikenal sebagai Fla-Flu. Walau banyak klub Brasil lain yang 
secara prestasi akhir-akhir ini mampu melebihi Fla-Flu (sepeti Gremio, Santos), 
tetep derby Fla-Flu yang paling panas.
   
  Fluminense berdiri 21 Juli 1901. Stadion resmi mereka adalah Stadion 
Laranjeiras, yang relatif kecil (kapasitas 10-20 ribu). 
  Rivalnya, Flamengo, lahir sebagai klub dayung pada 15 November 1895. Tahun 
1911, sejumlah pemain Fluminense yang bentrok dengan manajemen gabung ke klub 
dayung Flamengo dan mendirikan klub sepakbola Flamengo. Markas Flamengo adalah 
stadion Gavea, yang juga relatif kecil.
  Latar belakang Flamengo yang merupakan pecahan Fluminense menjadikan sebutan 
bagi Fluminense sebagai “orangtua Flamengo”. 
   
  Dua klub ini sama-sama berbasis di Rio de Janeiro. Persaingan Fla-Flu, 
seperti halnya Boca vs River, banyak diwarnai perbedaan kelas diantara 
pendukungnya. Fluminense lebih banyak didukung kalangan menengah-atas Rio de 
Janeiro, sedang Flamengo merupakan “people’s club”, klubnya wong cilik. Gak 
heran, fans Flamengo ditaksir sekitar 40 juta orang diseluruh Brazil. Kenapa ya 
banyak klub yang pendukungnya dibedakan kelas menengah-atas vs wong cilik?. Di 
kita mungkin dulu Pelita Jaya kali ya yang bisa masuk kategori klub kaya tapi 
miskin pendukung.
   
  Derby Fla-Flu selalu dilakukan di Stadion Maracana, stadion sepakbola 
terbesar di dunia (maklum, stadion kedua klub kecil). Record jumlah penonton 
derby Fla-Flu terjadi tahun 1963, ketika 194.903 penonton datang memenuhi 
Maracana. 
   
  Di program Football Rivalries ini ditamplkan cuplikan sejumlah derby 
Fla-Flu….gila, atmosfir Maracana memang luar biasa. Ribuan suporter gak henti 
bernyanyi dan melompat-lompat, rasanya gak ada tuh penonton yang duduk rapi 
menikmati pertandingan. Puluhan banner raksasa menghiasi setiap sektor 
Maracana, kembang api dimana-mana.  Ada komentar sejumlah eks pemain Fla-Flu, 
intinya “sama yang lain boleh kalah, asal menang dari Fla (atau sebaliknya dari 
Flu)”.  
   
  Tampil juga cuplikan masa jaya Flamengo dimasa ada Zico (dekade 80-an), 
sampai sekarang Zico masih dijuluki King of Flamengo. Flamengo juga kembali 
jaya dimasa Romario. Lagi-lagi yang gue demen, komentator TV-nya…panjang banget 
teriakan gooooooooooool, ada kali satu menit.
   
  2.      Derby Ajax vs Feyenoord:
   
  Segmen kedua membahas derby klasik Belanda, Ajax (Amsterdam) vs Feyenoord 
(Rotterdam). Ini persaingan antara dua kota terbesar Belanda, antara kota pusat 
keuangan (Amsterdam) vs kota pelabuhan (Rotterdam). 
   
  Persaingan antara fans kadang diwarnai unsur rasis. Secara sejarah pendukung 
Ajax datang dari masyarakat Yahudi-Belanda (walaupun pemain Ajax jarang yang 
Yahudi). Pendukung Feyenoord kerap menyebut fans Ajax sebagai “hidung”, ini 
terkait bentuk fisik (hidung) orang Yahudi yang rata-rata besar. Pendukung 
Feyenoord juga sering menirukan suara desis gas yang terkait dengan kamar gas 
zaman Nazi. Sebaliknya, pendukung Ajax justru bangga dengan ke-yahudi-an 
mereka, bendera Bintang David selalu tampil di Stadion Arena. Yel-yel mereka 
juga “joden, joden” atau “yahudi, yahudi”.
   
  Sejak dekade 80-an, persaingan fans kedua klub sering diwarnai bentrok fisik. 
Konon dekade 80-an itu diwarnai tingginya pengangguran, sehingga dari kedua 
kubu banyak berkumpul hooligans yang niatnya bukan lagi nonton bola, tapi Cuma 
mau bentrok. 
   
  Bintang paling bersinar dari kedua klub adalah Johan Cruiyff. Dekade 70-an 
sukses membawa Ajax jadi jura nasional dan eropa. Awal 80-an, Cruiyff melakukan 
hal yang “mustahil”….di akhir karirnya dia nyebrank ke Feyenoord. Konon, 
langkah ini disebabkan karena Cruyff bentrok dengan manajemen Ajax, jadi 
kesannya balas dendam. Dan acara balas dendam sukses, Feyenoord jadi juara 
Belanda.
   
  Namun Ajax tetap menganggap Cruyff sebagai legenda mereka. Sejak musim 
2007-2007, Ajax mempensiunkan nomor 14 sebagai penghormatan kepada Cruyff.
   
  Demikian sekilas info….SIKAT ManUtd..:)
   
  -omar-
   
  In Rafa We Trust,
  Let the Rafalution Continues, 
  Rafa, rafa, rafael, rafael benitez.

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke