Hal di atas mungkin bisa dibilang sangat "kurang ajar" dan
"melecehkan" jika dilihat dari sisi nasionalisme. Namun dibalik itu
semua, sisi rasional dan kondisi terkini bukan tidak mungkin menjadi
pilihan yang sangat bijak untuk menerapkan naturalisasi.
Sebenarnya isu ini bukan barang baru, karena sempat terhembus beberapa
tahun lalu tatkala Dejan Gluscevic (striker Bandung Raya dan Mastrans
Bandung Raya) pernah menyatakan diri untuk menjadi bagian dari timnas
Indonesia. Namun saat itu nyaris tidak ada respon. Pongahnya,
Indonesia menolak dengan keras rencana tersebut. Memang di satu sisi
naturalisasi mungkin sangat irasional mengingat dari 210 juta penduduk
di negeri kita ini, masak sih mencari 23 orang terbaik saja  (susunan
lengkap satu tim) tidak bisa.
Namun kepongahan tersebut bisa jadi malah menyerang balik Indonesia.
Meski mungkin saja unsur nasionalisnya kurang terlihat, namun apa yang
dilakukan Singapura dan Filipina, terlepas dari unsur uang, ternyata
sangat menjanjikan. Bayangkan timnas mereka saat ini mampu berkembang
sangat cepat. Kuncinya?ya itu tadi, konsep naturalisasi sesuai dengan
standar persepakbolaan mereka.
Di Indonesia sendiri, prinsip tersebut sepertinya memang kurang arif.
Namun sebenarnya sangat positif jika memang pemain yang akan
dinaturalisasikan memiliki kriteria yang berada dua atau tiga level di
atas pemain timnas Indonesia sendiri. Sangat sulit memang, namun ini
juga sekaligus menjadi pekerjaan rumah yang tentunya bakal menguras PSSI. 
Di Liga Indonesia sendiri sebenarnya banyak contoh yang mungkin bisa
menjadi spirit tersendiri. Aksi Cristian Gonzales, Julio Lopez, Ronald
Fagundez bahkan dulu sempat ada Emmanuel de Porras tentu sangat
mencolok dan sudah pasti berada di atas pemain timnas sekalipun.
Hebatnya, mereka justru menawarkan diri untuk memiliki kewarganegaraan
 Indonesia.
Secara teknis, pengetatan kategori tentu menjadi satu tindakan yang
harus secara cermat dilakukan. Misalnya saja usianya tidak bisa lebih
dari 30 tahun, memiliki tingkat skill tinggi, tidak egois dan harus
mampu memberikan contoh dalam banyak hal ke pemain Indonesia. Nah
aspek tersebut tentu menjadi filter ampuh sebelum benar-benar ada
pemain yang dinaturalisasi. Catatannya, jika memang tidak ada yang
masuk kualifikasi ya jangan coba-coba untuk dipaksakan, apalagi hanya
demi kepentingan sesaat saja.
jadi naturalisasi?oke juga.....

Kirim email ke