Catatan Ringan
Ian Situmorang
*
Soeharto dan Olahraga*

Bukan karena latah jika kali ini saya menurunkan tulisan seputar Soeharto.
Memang pemicunya tentu karena tokoh nomor satu rezim Orde Baru itu tengah
tergolek lemah menderita sakit.

Berbagai polemik politik mewarnai tersingkirnya Soeharto dari kursi
kepresidenan. Tudingan korupsi yang menyengsarakan rakyat pun merebak.
Tuntutan hukum dan hujatan dari lawan politik membuatnya terpojok sebagai
pesakitan.

Benarkah Soeharto koruptor kotor? Benarkah presiden kedua Republik Indonesia
ini menumpuk kekayaan hingga tujuh turunan? Mungkinkah ia menyingkirkan
lawan politiknya dengan tindakan kriminal?

Hingga hari ini, sebagaimana pembaca ketahui, tidak ada satu pun dugaan itu
terbukti. Kenapa? Karena belum ada kata akhir dari meja hijau ditinjau dari
sudut hukum. Semua masih berada di wilayah abu-abu.

Seperti apa akhir kisah Panglima Besar Indonesia ini, kita sama-sama tak
memiliki jawaban. Sebagai tokoh besar yang memegang tampuk kekuasaan selama
32 tahun, tentu banyak ragam cara menilainya. Ada yang pro dan tidak sedikit
yang menempatkannya sebagai musuh bangsa.

Saya menghindar dari pergulatan dan pertengkaran politik. Biar bagaimanapun,
idiom yang menyebutkan bahwa panggung politik tidak mengenal teman abadi,
yang ada adalah kepentingan abadi.

***


Pembaca, saya tidak tahu apa kali ini kita memiliki kesamaan pandangan.
Dalam konteks olahraga, menurut saya Soeharto adalah tokoh yang pantas
ditempatkan pada posisi terdepan.

Lepaskan dulu dari pikiran bahwa kepeduliannya membangun olahraga mengandung
agenda politik dan kepentingan pribadi atau tidak. Yang jelas, saat Soeharto
memegang tongkat Presiden RI, prestasi olahraga Indonesia sangat menonjol.

Keberhasilan kita dapat dibuktikan lewat dominasi atlet-atlet nasional di
arena Asia Tenggara. Di era Soeharto, Indonesia berpartisipasi dalam pesta
olahraga dua tahunan bernama SEAP (Southeast Asian Peninsular) Games.
Setelah kita masuk, nama SEAP berubah menjadi SEA Games sejak tahun 1977.

Hebat. Pertama kali berpartisipasi, Indonesia langsung berada pada posisi
terdepan dalam urusan pengumpulan medali menggeser dominasi Thailand.
Demikianlah sukses itu terus berlanjutnya.

Periode kepemimpinan Soeharto tercatat Indonesia 11 kali ambil bagian sejak
1977 hingga 1997. Hanya dua kali posisi nomor wahid diganggu Thailand saat
Negeri Gajah Putih itu menjadi tuan rumah pada 1985 di Bangkok dan 1995 di
Chiang Mai.

Pergesekan politik merebak. Soeharto lengser dari kursi presiden. Era
Reformasi datang menggantikan Orde Baru. Perekonomian, keamanan, budaya,
politik, hingga olahraga hancur. Kegagahan atlet Indonesia di panggung
internasional terjun bebas.

Bukti kemerosotan prestasi itu terlukis tatkala posisi Indonesia langsung
tergeser ke posisi ketiga pada SEA Games Brunei 1999. Dua tahun berikutnya
di Kuala Lumpur, posisi kita merosot lagi ke urutan ke-4 dan itu berulang di
Hanoi 2003. Rekor terburuk tercipta di Manila 2005 dengan posisi ke-5.

Ternyata keinginan menjadi lebih baik dari yang sudah-sudah hanyalah
retorika. Energi dan dana tersedot dan melayang ke wilayah yang tak dapat
dilukiskan. Perebutan kekuaasaan elite politik mengakibatkan perhatian di
bidang olahraga semakin jauh. Alhasil, prestasi atlet remuk karena kurang
perhatian dari pemerintah.

Setelah era Soeharto, tercatat empat presiden pengganti, yaitu B.J. Habibi,
Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Yang lebih
menyakitkan adalah hilangnya Kementerian Olahraga saat Gus Dur dan Megawati
menjadi presiden.

Setelah SBY tampil sebagai orang nomor satu negeri, kepedulian akan prestasi
olahraga mulai mendapat perhatian kembali. Kementerian Olahraga dihidupkan
dengan Adhyaksa Dault ditunjuk sebagai menteri. Ada perbaikan, tapi belum
dapat disebutkan sudah berhasil mengembalikan pamor Indonesia ke tempat yang
dulu menjadi langganan juara.

***


Prestasi olahraga tak mungkin dapat berkembang pesat jika tidak ditunjang
dengan dana memadai. Namun, apalah artinya dana jika tidak ditopang *political
will* dari pemerintah.

Kepedulian dan dukungan pemerintah itu terbukti efektif seperti dilakonkan
Soeharto. Slogan "Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat"
diangkat menjadi tema dan menetapkan 9 September menjadi Hari Olahraga
Nasional, yang dicetuskan pada 1983.

Momentum seperti ini membawa dampak sangat positif. Hampir seluruh lapisan
masyarakat dan kantor-kantor pemerintah tergerak untuk turut ambil bagian.
Gerakan serempak dan menjadi gerakan nasional ini semakin mematri dominasi
Indonesia di Asia Tenggara.

Pemerintahan terkini di bawah Presiden SBY mencoba membangkitkan semangat
yang sempat kendor. Langkah itu dimulai dengan keluarnya Undang-Undang
Keolahragaan yang diyakini sebagai jembatan untuk menyeberang ke lahan
subur.

Memandang Soeharto memang tidak bisa secara hitam putih. Namun, bagi
masyarakat olahraga, tokoh yang suka bermain golf itu setidaknya
meninggalkan *legacy* bagaimana membuat citra Indonesia harum lewat gerbang
olahraga.

Mampukah SBY mengatrol prestasi Indonesia kembali ke posisi terhormat? Berat
memang, tapi itulah amanah!


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke