kalau mau dibandingkan dengan Bung Karno, olahraga kita masih tokcer di era sang Proklamator ini,
stadion termegah di Asia, Gelora Bung Karno, peringkat 4 di Asian Games 62 di Jakarta, sampai sekarang pun, nggak pernah asian games di Jakarta lagi, (cmiiw) piala thomas, era Rudy Hartono dkk bergelimang medali, pencapaian sepakbola tertinggi Indonesia ketika, Ramang cs menahan Uni Sovyet, kalau udah ada Sea Games, pasti semua diganyang sama Bung Karno, kontingen piala thomas itu kalau berangkat diantar sampai bandara dan dateng di jemput di Bandara, luar biasa,.... wassalam, Sincéres Salutations, Risky Valery "Kowoy Nich!" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 01/15/2008 11:21 AM Please respond to [email protected] To [email protected] cc Subject [BolaML] Soeharto dan Olahraga Catatan Ringan Ian Situmorang * Soeharto dan Olahraga* Bukan karena latah jika kali ini saya menurunkan tulisan seputar Soeharto. Memang pemicunya tentu karena tokoh nomor satu rezim Orde Baru itu tengah tergolek lemah menderita sakit. Berbagai polemik politik mewarnai tersingkirnya Soeharto dari kursi kepresidenan. Tudingan korupsi yang menyengsarakan rakyat pun merebak. Tuntutan hukum dan hujatan dari lawan politik membuatnya terpojok sebagai pesakitan. Benarkah Soeharto koruptor kotor? Benarkah presiden kedua Republik Indonesia ini menumpuk kekayaan hingga tujuh turunan? Mungkinkah ia menyingkirkan lawan politiknya dengan tindakan kriminal? Hingga hari ini, sebagaimana pembaca ketahui, tidak ada satu pun dugaan itu terbukti. Kenapa? Karena belum ada kata akhir dari meja hijau ditinjau dari sudut hukum. Semua masih berada di wilayah abu-abu. Seperti apa akhir kisah Panglima Besar Indonesia ini, kita sama-sama tak memiliki jawaban. Sebagai tokoh besar yang memegang tampuk kekuasaan selama 32 tahun, tentu banyak ragam cara menilainya. Ada yang pro dan tidak sedikit yang menempatkannya sebagai musuh bangsa. Saya menghindar dari pergulatan dan pertengkaran politik. Biar bagaimanapun, idiom yang menyebutkan bahwa panggung politik tidak mengenal teman abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. *** Pembaca, saya tidak tahu apa kali ini kita memiliki kesamaan pandangan. Dalam konteks olahraga, menurut saya Soeharto adalah tokoh yang pantas ditempatkan pada posisi terdepan. Lepaskan dulu dari pikiran bahwa kepeduliannya membangun olahraga mengandung agenda politik dan kepentingan pribadi atau tidak. Yang jelas, saat Soeharto memegang tongkat Presiden RI, prestasi olahraga Indonesia sangat menonjol. Keberhasilan kita dapat dibuktikan lewat dominasi atlet-atlet nasional di arena Asia Tenggara. Di era Soeharto, Indonesia berpartisipasi dalam pesta olahraga dua tahunan bernama SEAP (Southeast Asian Peninsular) Games. Setelah kita masuk, nama SEAP berubah menjadi SEA Games sejak tahun 1977. Hebat. Pertama kali berpartisipasi, Indonesia langsung berada pada posisi terdepan dalam urusan pengumpulan medali menggeser dominasi Thailand. Demikianlah sukses itu terus berlanjutnya. Periode kepemimpinan Soeharto tercatat Indonesia 11 kali ambil bagian sejak 1977 hingga 1997. Hanya dua kali posisi nomor wahid diganggu Thailand saat Negeri Gajah Putih itu menjadi tuan rumah pada 1985 di Bangkok dan 1995 di Chiang Mai. Pergesekan politik merebak. Soeharto lengser dari kursi presiden. Era Reformasi datang menggantikan Orde Baru. Perekonomian, keamanan, budaya, politik, hingga olahraga hancur. Kegagahan atlet Indonesia di panggung internasional terjun bebas. Bukti kemerosotan prestasi itu terlukis tatkala posisi Indonesia langsung tergeser ke posisi ketiga pada SEA Games Brunei 1999. Dua tahun berikutnya di Kuala Lumpur, posisi kita merosot lagi ke urutan ke-4 dan itu berulang di Hanoi 2003. Rekor terburuk tercipta di Manila 2005 dengan posisi ke-5. Ternyata keinginan menjadi lebih baik dari yang sudah-sudah hanyalah retorika. Energi dan dana tersedot dan melayang ke wilayah yang tak dapat dilukiskan. Perebutan kekuaasaan elite politik mengakibatkan perhatian di bidang olahraga semakin jauh. Alhasil, prestasi atlet remuk karena kurang perhatian dari pemerintah. Setelah era Soeharto, tercatat empat presiden pengganti, yaitu B.J. Habibi, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Yang lebih menyakitkan adalah hilangnya Kementerian Olahraga saat Gus Dur dan Megawati menjadi presiden. Setelah SBY tampil sebagai orang nomor satu negeri, kepedulian akan prestasi olahraga mulai mendapat perhatian kembali. Kementerian Olahraga dihidupkan dengan Adhyaksa Dault ditunjuk sebagai menteri. Ada perbaikan, tapi belum dapat disebutkan sudah berhasil mengembalikan pamor Indonesia ke tempat yang dulu menjadi langganan juara. *** Prestasi olahraga tak mungkin dapat berkembang pesat jika tidak ditunjang dengan dana memadai. Namun, apalah artinya dana jika tidak ditopang *political will* dari pemerintah. Kepedulian dan dukungan pemerintah itu terbukti efektif seperti dilakonkan Soeharto. Slogan "Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat" diangkat menjadi tema dan menetapkan 9 September menjadi Hari Olahraga Nasional, yang dicetuskan pada 1983. Momentum seperti ini membawa dampak sangat positif. Hampir seluruh lapisan masyarakat dan kantor-kantor pemerintah tergerak untuk turut ambil bagian. Gerakan serempak dan menjadi gerakan nasional ini semakin mematri dominasi Indonesia di Asia Tenggara. Pemerintahan terkini di bawah Presiden SBY mencoba membangkitkan semangat yang sempat kendor. Langkah itu dimulai dengan keluarnya Undang-Undang Keolahragaan yang diyakini sebagai jembatan untuk menyeberang ke lahan subur. Memandang Soeharto memang tidak bisa secara hitam putih. Namun, bagi masyarakat olahraga, tokoh yang suka bermain golf itu setidaknya meninggalkan *legacy* bagaimana membuat citra Indonesia harum lewat gerbang olahraga. Mampukah SBY mengatrol prestasi Indonesia kembali ke posisi terhormat? Berat memang, tapi itulah amanah! [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
