setelah membaca artikel "Misteri Angka Nol" ini kok saya agak bingung ya?...ada 
beberapa hal di dalam artikel ini yang membingungkan dan menurut saya ngawur, 
apa mungkin proses penyaduran dari tulisan aslinya gak sempurna?
adapun hal-hal yang membingungkan dalam artikel ini, menurut saya antara lain:

Paragraf ketiga
“Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada”

Tanggapan:
saya gak paham sama maksud tulisan ini.     a x 0 = tidak ada, apa pengertian 
yang dimaksud dari “tidak ada”, karena a x 0 = 0, jika maksudnya 0 adalah 
sesuatu yang tidak ada..ya bener dong…apapun  dikalikan sama yang tidak ada ya 
menghasilkan tidak ada..kecuali maksud tulisannya a x 0 = ≈ (≈ adalah lambang 
matematika untuk “tidak terhingga”)..kalo ini maksudnya, jelas tulisan diatas 
adalah salah.



 Paragraf 4
“Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5 dan 5*0=5 juga”

Tanggapan:
5 *0=5 adalah pernyataan yang salah, karena 5 x 0 = 0 bukan 5
Lima kali nol  (kita cenderung mentransformasikan ke dalam penjumlahan dengan 
pernyataan limanya ada no,l padahal dalam bahasa inggris five times zero yang 
artinya nolnya lima kali atau 0 nya ada lima) so..maksudnya adalah 5 x 0 sama 
aja dengan 0+0+0+0+0  yang hasilnya sudah pasti 0 bukan 5.

“Memang demikian aturannya, karena nol dalam perkalian merupakan bilangan 
identitas yang sama dengan 1”

Tanggapan:
Ngawur banget.. bilangan berapapun dikali 0 hasilnya 0 (lagipula kalimat diatas 
bertentangan dengan kalimat dalam paragraf 3 yang telah dibahas sebelumnya 
yaitu “Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak 
ada”)..mungkin maksudnya pangkat bukan perkalian…karena bilangan berapapun 
pangkat 0 hasilnya 1 (kalo yang ini saya gak bisa jelaskan, bukannya terlalu 
njelimet..tapi karena saya juga ndak paham konsepnya kenapa bisa 
begitu....mungkin yang lain bisa bantu?)



Paragraf 6
“seseorang jika berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang lebih 
besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin 
juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat? 
Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar terus-menerus 
ia akan sampai kembali ke Eropa?”

Tanggapan:
Suatu penyederhaan logika yang aneh dan gak mendasar..saya gak paham dengan 
maksud penulisnya..maksudnya apa sih?..mo nyamain ilmu geografi ama matematika? 
Kok disamain ama bumi yang jelas bentuknya bulat..kalo diputerin dengan garis 
lurus ya pasti balik lagi ke titik awal…kenapa gak disamain ama benda yang 
bentuknya persegi panjang, jajaran genjang..or apapun selain benda yang 
berbentuk bulat..atau itu si Columbus..gak berlayar pake perahu or kapal laut, 
tapi punya kendaraan yang bisa nembus bumi..tahan lahar dan gak terpengaruh 
sama gravitasi pusat bumi..jadi dia nembus bumi di satu titik  lurus terus 
hingga keluar lagi dari bumi di satu titik yang lain..gimana kalo gitu, gak 
mungkin balik lagi ke tempat semula kan?..(maap pake logika ngawur..abis 
pernyataannya juga ngawur sih..he he he). Analogi menggunakan parameter yang 
gak identik sama gak bisa dijadikan kesimpulan.



Paragraf 8
“Jadi, seseorang tidak pernah bisa berangkat dari angka nol menuju angka 4. 
Kita harus berangkat dari angka 1”

Tanggapan:
Jelas angka 0 adalah titik awal bukan angka 1..jika kita berdiri di suatu 
tempat atau titik..lalu disuruh melompat lurus dengan arah konstan sebanyak 4 
lompatan (asumsi 1 lompatan = 1 meter)..jelas kita akan berada pada posisi 4 
meter dari tempat awal kita berdiri..karena titik awal tempat kita berdiri 
merupakan titik 0..hasilnya akan sangat membingungkan jika titik awal kita 
berdiri dianggap sebagai angka 1..jadi setelah 4 lompatan kita akan berada 5 
meter dari titik semula?..atau ternyata untuk mencapai 4 meter hanya diperlukan 
3 lompatan?..aneh kan?



Paragraf 10
“Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik dari persamaan 3x+7y = 
25. Ani berpikir bahwa untuk mendapatkan garis itu diperlukan dua buah titik 
dari ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung, ternyata cuma ada satu 
titik yang dilewati garis itu, yakni titik A(6, 1), untuk x=6 dan y=1. Sehingga 
Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang guru mengingatkan supaya menggunakan 
bilangan nol. Ya, itulah jalan keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh 
x=(25-0)/3=8 (dibulatkan), merupakan titik pertama, B(8,0). Selanjutnya berikan 
x=0 diperoleh y=(25-3.0)/7=4 (dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis 
BC, adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang guru, karena garis 
itu tidak melalui titik A. Jadi, garis BC itu salah”

Tanggapan:
Matematika adalah ilmu pasti, suatu kondisi yang dikatakan rumus harus berlaku 
umum..tanpa pengecualian..anehnya dalam rumus 3x + 7y = 25 yang melewati titik  
A(6,1)..si murid menyelesaikan dengan menggunakan pembulatan  (x,y) = (8,0) dan 
(0,4)…yang kalo dimasukin ke rumus 3 (8) + 7 (0) = 24 bukan 25…dan 3 (0) + 7 
(4) = 28 bukan 25..jelas titik acuan yang diambil salah, gak sama sama dengan 
rumus 3x + 7y = 25, lalu kenapa itu guru harus protes kalo gak melalui titik  
A(6,1)..ya jelas enggak akan nyambunglah



Paragraf 13
“Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena sebenarnya tidak ada satu 
garis pun yang benar. Bukankah dalam persamaan 3×1+7×2=25 hanya ada satu titik 
penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan 3×1+7×2 itu hanya berbentuk 
sebuah titik? Bahkan pada persamaan 3×1+7×2=21 tidak ada sebuah titik pun yang 
berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis PQ dalam sistem bilangan bulat, 
sebenarnya tidak ada. Aneh, bilangan nol telah menipu kita. Begitulah 
kenyataannya, sebuah persamaan tidak selalu berbentuk sebuah garis.”

Tanggapan
Dhuaarr…ini yang paling bikin bingung..makin gak paham deh…kenapa di paragraf 
13 ini muncul koordinat (1,2) yang berarti x=1 dan y=2 ? (koordinat 1,2 
tercantum dalam tulisan penulis 3x1 + 7x2 dimana rumus awal adalah 3x + 7y)
Pada paragraf sebelumnya (paragraf 12) ditulis, konsultan membantu dengan 
menggunakan rumus 3x + 7y = 21 yang melalui (0,3) dan (7,0) dari kedua titik 
tersebut ditarik garis lurus dan diberi nama garis PQ…lalu ditarik garis 
sejajar melalui titik  A(6,1) yang di beri nama garis P1Q1 (inilah garis yang 
dicari semula oleh si murid yang diwakili rumus 3x+7y=25, atau dalam paragraf 
10 disebut juga garis BC)..trus kenapa tuh guru nanyain koordinat (1,2)?..apa 
hubungannya koordinat (1,2) sama garis PQ dan P1Q1? Gak nyambung dong
Ditambah dengan pernyataan penulis yang ini “Bukankah dalam persamaan 
3×1+7×2=25” hanya ada satu titik penyelesaian yakni titik A …ini rumus yang 
mana sih?..udah jelas 3x1 + 7x2 = 17 bukan 25, jadi koordinat (1,2) gak mungkin 
ada digaris P1Q1 yang rumusnya 3x+7y=25
Trus kalimat yang ini juga “Bahkan pada persamaan 3×1+7×2=21 tidak ada sebuah 
titik pun yang berada dalam garis PQ”, ini juga rumus yang mana ya? 3x1 + 7x2 = 
17 bukan 21, jadi jelas koordinat (1,2) juga gak akan ada di garis PQ yang 
rumusnya 3x+7y=21.
Dan pernyataan “bilangan 0 telah menipu kita”..sangat provokatif dan tidak 
mendasar sehingga patut untuk diduga merupakan upaya pembunuhan terhadap 
karakter angka 0 (kampanye hitam), hal ini masuk akal sehubungan dengan 
memanasnya suhu politik menjelang pemilu 2009..lho kok?..apa hubungannya?..ya 
engga ada hubungannya sih…ha ha ha ha



Paragraf 16
“Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan yang kita 
pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua bilangan selalu ada 
bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi 
dengan syarat harus melompati terlebih dahulu ke bilangan desimal yang 
terdekat, bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum sampai ke 
bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 
1/2 karena masih ada bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu 
ada bilangan yang lebih dekat… yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, …, 0,000001. 
demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan 
angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap saja nol. 
Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada,
maka Anda tidak pernah bisa melompat ke bilangan 2?”

Tanggapan:
Mungkin saya yang lemot tapi saya susah memahami maksud paragraf 13 ini.
Gimana sih? Untuk dari angka 1 ke angka 2 kok harus melewati ½, atau melewati ¼ 
atau melewati 0,1 dan 0,000001. Angka ½, ¼ atau 0,1 atau 0,01 atau 0,000001 
terletak sebelum angka 1 bukan antara angka 1 dan 2 tapi diantara angka 0 dan 
1,  (lebih jelasnya liat interval 0 sampai dengan 2 dibawah)..orang mo lompat 
dari angka 1 ke angka 2 yang jelas2 arahnya kekanan…kok dibandingin sama ½ atau 
¼ atau desimal berapapun yang notabene ada di arah kiri angka 1, ya enggak 
nyambung dong.

        0       ¼       ½       ¾       1                               2

Atau mungkin maksud si penulis bahwa “melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2” 
bukan berarti dari angka 1 ke angka 2 melainkan dari suatu bilangan ke bilangan 
selanjutnya, bisa aja 500 ke 600, 1000 ke 2000 atau berapapun yang pasti dari 
bilangan yang lebih kecil ke bilangan yang lebih besar  tapi berapapun 
angka-angka yang dipilih untuk mewakilinya, angka ½ atau ¼ atau 0.1 atau 0.01 
atau 0.0001 memang berada di posisi sangat dekat setelah angka 0..gak 
berpengaruh sama sekali dengan angka berapapun yang dipilih.

Okelah, mungkin yang dimaksud angka ½ atau ¼ atau 0.1 atau 0,001 atau 0,000001 
adalah angka yang harus dilalui setelah angka yang lebih kecil ke angka yang 
lebih besar..contoh kita pilih angka 6254 ke 6255,  ada angka yang harus 
dilalui, antara lain 6254 ½ (catatan: angka 6254 ½  bukan dimaksudkan 6254 x ½, 
tapi 6254 lebih ½ ), atau 6255 ¼ atau 6254,1 atau 6254,001 atau 6254,000001. 
Logika ini benar..tapi berarti gak bisa dong kalo koma 0 nya makin banyak serta 
merta kita persamakan dengan angka 0, yang ada makin banyak koma 0 nya, ya 
makin deket sama angka yang lebih kecil, yang dalam hal ini kita gunakan 6254, 
jadi untuk melompat  dari suatu bilangan (dalam hal ini 6254) ke suatu bilangan 
selanjutnya (dalam hal ini 6255) harus melewati angka-angka lain atau desimal 
lainnya, tapi jelas gak ada hubungannya sama posisi angka 0 yang jauh sekali 
lokasinya dari angka awal 6254.

Akhir kata, semua pendapat saya diatas terhadap tulisan “Misteri Bilangan Nol” 
hanyalah pendapat saya pribadi, yang namanya pendapat ya bisa aja salah..wong 
yang bikinnya juga manusia kok…dan mohon maaf kalo pendapat saya juga ternyata 
ambigu, gak jelas dan sulit dipahami..maklum amatiran, dan mohon maaf juga kalo 
ada kata-kata yang gak enak dibaca..gak ada maksud apapun, itu hanyalah 
kebodohan saya yang ndak bisa nemuin kata yang lebih tepat untuk menyampaikan 
pendapat saya dengan cara yang lebih enak dan bijak.

debt collector on bonjer atu
________________________________________
From: [email protected] [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ISTAJAM 
QOMARUDIN [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, November 05, 2008 11:41 AM
To: Bayu Wira Nugraha; [email protected]; IMAM BAHRUDIN; RAHMAT 
SUTARMAN; ABDUL GHOFIR; [EMAIL PROTECTED]; MOH. HUSAINI; Nur Agustin
Subject: [bonjersatu:620] Sebuah Rahasia...

Misteri Bilangan 
Nol<http://10.4.4.215/index.php?option=com_content&view=article&id=654:misteri-bilangan-nol&catid=10:tahukah-anda&Itemid=3>
    [http://10.4.4.215/images/M_images/pdf_button.png] 
<http://10.4.4.215/index.php?view=article&catid=10%3Atahukah-anda&id=654%3Amisteri-bilangan-nol&format=pdf&option=com_content&Itemid=3>
      [http://10.4.4.215/images/M_images/printButton.png] 
<http://10.4.4.215/index.php?view=article&catid=10%3Atahukah-anda&id=654%3Amisteri-bilangan-nol&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content&Itemid=3>
   [http://10.4.4.215/images/M_images/emailButton.png] 
<http://10.4.4.215/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovLzEwLjQuNC4yMTUvaW5kZXgucGhwP29wdGlvbj1jb21fY29udGVudCZ2aWV3PWFydGljbGUmaWQ9NjU0Om1pc3RlcmktYmlsYW5nYW4tbm9sJmNhdGlkPTEwOnRhaHVrYWgtYW5kYSZJdGVtaWQ9Mw==>
User 
Rating:[http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png]
 / 2
PoorBest
Written by banjariz
Friday, 31 October 2008 01:25

Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 
2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang 
bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0, bukti 
sejarah hanya memperlihatkan bahwa bilangan 0 ditemukan pertama kali dalam 
zaman Mesir kuno. Waktu itu bilangan nol hanya sebagai lambang. Dalam zaman 
modern, angka nol digunakan tidak saja sebagai lambang, tetapi juga sebagai 
bilangan yang turut serta dalam operasi matematika. Kini, penggunaan bilangan 
nol telah menyusup jauh ke dalam sendi kehidupan manusia. Sistem berhitung 
tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran bilangan nol, sekalipun bilangan nol 
itu membuat kekacauan logika. Mari kita lihat.

Nol, penyebab komputer macet

Pelajaran tentang bilangan nol, dari sejak zaman dahulu sampai sekarang selalu 
menimbulkan kebingungan bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan masyarakat 
pengguna. Mengapa? Bukankah bilangan nol itu mewakili sesuatu yang tidak ada 
dan yang tidak ada itu ada, yakni nol. Siapa yang tidak bingung? Tiap kali 
bilangan nol muncul dalam pelajaran Matematika selalu ada ide yang aneh. 
Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada. 
Mungkinkah 5*0 menjadi tidak ada? (* adalah perkalian). Ide ini membuat orang 
frustrasi. Apakah nol ahli sulap?

Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5 dan 5*0=5 juga? Memang 
demikian aturannya, karena nol dalam perkalian merupakan bilangan identitas 
yang sama dengan 1. Jadi 5*0=5*1. Tetapi, benar juga bahwa 5*0=0. Waw. 
Bagaimana dengan 5o=1, tetapi 50o=1 juga? Ya, sudahlah. Aturan lain tentang nol 
yang juga misterius adalah bahwa suatu bilangan jika dibagi nol tidak 
didefinisikan. Maksudnya, bilangan berapa pun yang tidak bisa dibagi dengan 
nol. Komputer yang canggih bagaimana pun akan mati mendadak jika tiba-tiba 
bertemu dengan pembagi angka nol. Komputer memang diperintahkan berhenti 
berpikir jika bertemu sang divisor nol.

Bilangan nol: tunawisma

Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada titik awal 
adalah bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya. Bilangan yang 
lebih besar di sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri. 
Semakin jauh ke kanan akan semakin besar bilangan itu. Berdasarkan derajat 
hierarki (dan birokrasi bilangan), seseorang jika berjalan dari titik 0 
terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan 
yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 
kembali. Bukankah dunia ini bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan 
bahwa kalau ia berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?

Lain lagi. Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak mungkin sampai ke 
bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang 
lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan seseorang bisa berangkat dari titik 
nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah titik nol sesuatu titik yang tidak ada? 
Aneh dan sulit dipercaya? Mari kita lihat lebih jauh.

Jika di antara dua bilangan atau antara dua buah titik terdapat sebuah ruas. 
Setiap bilangan mempunyai sebuah ruas. Jika ruas ini dipotong-potong kemudian 
titik lingkaran hitam dipindahkan ke tengah-tengah ruas, ternyata bilangan 0 
tidak mempunyai ruas. Jadi, bilangan nol berada di awang-awang. Bilangan nol 
tidak mempunyai tempat tinggal alias tunawisma. Itulah sebabnya, mengapa 
bilangan nol harus menempel pada bilangan lain, misalnya, pada angka 1 
membentuk bilangan 10, 100, 109, 10.403 dan sebagainya. Jadi, seseorang tidak 
pernah bisa berangkat dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari 
angka 1.

Mudah, tetapi salah

Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik dari persamaan 3x+7y = 
25. Ani berpikir bahwa untuk mendapatkan garis itu diperlukan dua buah titik 
dari ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung, ternyata cuma ada satu 
titik yang dilewati garis itu, yakni titik A(6, 1), untuk x=6 dan y=1. Sehingga 
Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang guru mengingatkan supaya menggunakan 
bilangan nol. Ya, itulah jalan keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh 
x=(25-0)/3=8 (dibulatkan), merupakan titik pertama, B(8,0). Selanjutnya berikan 
x=0 diperoleh y=(25-3.0)/7=4 (dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis 
BC, adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang guru, karena garis 
itu tidak melalui titik A. Jadi, garis BC itu salah.

Ani membela diri bahwa kesalahan itu sangat kecil dan bisa diabaikan. Guru 
menyatakan bahwa bukan kecil besarnya kesalahan, tetapi manakah yang benar? 
Bukankah garis BC itu dapat dibuat melalui titik A? Kata guru, gunakan bilangan 
nol dengan cara yang benar. Bagaimana kita harus membantu Ani membuat garis 
yang benar itu? Mudah, kata konsultan Matematika. Mula-mula nilai 25 dalam 
3x+7y harus diganti dengan hasil perkalian 3 dan 7 sehingga diperoleh 3x+7y=21.

Selanjutnya, dalam persamaan yang baru, berikan y=0 diperoleh x=21/3=7 (tanpa 
pembulatan) itulah titik pertama P(6,1). Kemudian berikan nilai x=0 diperoleh 
y=21/7 = 3 (tanpa pembulatan), itulah titik kedua Q(0, 3). Garis PQ adalah 
garis yang sejajar dengan garis yang dicari, yakni 3x+7y=25. Melalui titik A 
tarik garis sejajar dengan PQ diperoleh garis P1Q1. Nah, begitulah. Sang murid 
telah menemukan garis yang benar berkat bantuan bilangan nol.

Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena sebenarnya tidak ada satu 
garis pun yang benar. Bukankah dalam persamaan 3×1+7×2=25 hanya ada satu titik 
penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan 3×1+7×2 itu hanya berbentuk 
sebuah titik? Bahkan pada persamaan 3×1+7×2=21 tidak ada sebuah titik pun yang 
berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis PQ dalam sistem bilangan bulat, 
sebenarnya tidak ada. Aneh, bilangan nol telah menipu kita. Begitulah 
kenyataannya, sebuah persamaan tidak selalu berbentuk sebuah garis.

Bergerak, tetapi diam

Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan bulat, tetapi juga ada bilangan 
desimal antara lain dari 0,1; 0,01; 0,001; dan seterusnya sekuat-kuat kita bisa 
menyebutnya sampai sedemikian kecilnya. Karena sangat kecil tidak bisa lagi 
disebut atau tidak terhingga dan pada akhirnya dianggap nol saja. Tetapi, ide 
ini ternyata sempat membingungkan karena jika bilangan tidak terhingga kecilnya 
dianggap nol maka berarti nol adalah bilangan terkecil? Padahal, nol mewakili 
sesuatu yang tidak ada? Waw. Begitulah.

Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan yang kita 
pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua bilangan selalu ada 
bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi 
dengan syarat harus melompati terlebih dahulu ke bilangan desimal yang 
terdekat, bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum sampai ke 
bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 
1/2 karena masih ada bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu 
ada bilangan yang lebih dekat… yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, …, 0,000001. 
demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan 
angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap saja nol. 
Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada, maka Anda tidak pernah 
bisa melompat ke bilangan 2?
Disadur dari: http://www.duniaesai.com/sains/sains16.htm




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google
Groups "bonjersatu" group, and of course the members are bonjersatu employees 
only.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/bonjersatu?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke