yun...lu bikin tanggepan ini...kan butuh waktu mending lu nyita wp kali...
SAHRIL, S.E. Account Represntative KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Satu Jl. Arjuna Selatan No.1, Kebon Jeruk Jakarta Barat [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] ________________________________________ From: [email protected] [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of YUDHA PERMANA [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, November 06, 2008 9:46 AM To: [email protected] Subject: [bonjersatu:628] RE: [bonjersatu:593] setelah membaca artikel "Misteri Angka Nol" ini kok saya agak bingung ya?...ada beberapa hal di dalam artikel ini yang membingungkan dan menurut saya ngawur, apa mungkin proses penyaduran dari tulisan aslinya gak sempurna? adapun hal-hal yang membingungkan dalam artikel ini, menurut saya antara lain: Paragraf ketiga “Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada” Tanggapan: saya gak paham sama maksud tulisan ini. a x 0 = tidak ada, apa pengertian yang dimaksud dari “tidak ada”, karena a x 0 = 0, jika maksudnya 0 adalah sesuatu yang tidak ada..ya bener dong…apapun dikalikan sama yang tidak ada ya menghasilkan tidak ada..kecuali maksud tulisannya a x 0 = ≈ (≈ adalah lambang matematika untuk “tidak terhingga”)..kalo ini maksudnya, jelas tulisan diatas adalah salah. Paragraf 4 “Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5 dan 5*0=5 juga” Tanggapan: 5 *0=5 adalah pernyataan yang salah, karena 5 x 0 = 0 bukan 5 Lima kali nol (kita cenderung mentransformasikan ke dalam penjumlahan dengan pernyataan limanya ada no,l padahal dalam bahasa inggris five times zero yang artinya nolnya lima kali atau 0 nya ada lima) so..maksudnya adalah 5 x 0 sama aja dengan 0+0+0+0+0 yang hasilnya sudah pasti 0 bukan 5. “Memang demikian aturannya, karena nol dalam perkalian merupakan bilangan identitas yang sama dengan 1” Tanggapan: Ngawur banget.. bilangan berapapun dikali 0 hasilnya 0 (lagipula kalimat diatas bertentangan dengan kalimat dalam paragraf 3 yang telah dibahas sebelumnya yaitu “Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada”)..mungkin maksudnya pangkat bukan perkalian…karena bilangan berapapun pangkat 0 hasilnya 1 (kalo yang ini saya gak bisa jelaskan, bukannya terlalu njelimet..tapi karena saya juga ndak paham konsepnya kenapa bisa begitu....mungkin yang lain bisa bantu?) Paragraf 6 “seseorang jika berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?” Tanggapan: Suatu penyederhaan logika yang aneh dan gak mendasar..saya gak paham dengan maksud penulisnya..maksudnya apa sih?..mo nyamain ilmu geografi ama matematika? Kok disamain ama bumi yang jelas bentuknya bulat..kalo diputerin dengan garis lurus ya pasti balik lagi ke titik awal…kenapa gak disamain ama benda yang bentuknya persegi panjang, jajaran genjang..or apapun selain benda yang berbentuk bulat..atau itu si Columbus..gak berlayar pake perahu or kapal laut, tapi punya kendaraan yang bisa nembus bumi..tahan lahar dan gak terpengaruh sama gravitasi pusat bumi..jadi dia nembus bumi di satu titik lurus terus hingga keluar lagi dari bumi di satu titik yang lain..gimana kalo gitu, gak mungkin balik lagi ke tempat semula kan?..(maap pake logika ngawur..abis pernyataannya juga ngawur sih..he he he). Analogi menggunakan parameter yang gak identik sama gak bisa dijadikan kesimpulan. Paragraf 8 “Jadi, seseorang tidak pernah bisa berangkat dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari angka 1” Tanggapan: Jelas angka 0 adalah titik awal bukan angka 1..jika kita berdiri di suatu tempat atau titik..lalu disuruh melompat lurus dengan arah konstan sebanyak 4 lompatan (asumsi 1 lompatan = 1 meter)..jelas kita akan berada pada posisi 4 meter dari tempat awal kita berdiri..karena titik awal tempat kita berdiri merupakan titik 0..hasilnya akan sangat membingungkan jika titik awal kita berdiri dianggap sebagai angka 1..jadi setelah 4 lompatan kita akan berada 5 meter dari titik semula?..atau ternyata untuk mencapai 4 meter hanya diperlukan 3 lompatan?..aneh kan? Paragraf 10 “Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik dari persamaan 3x+7y = 25. Ani berpikir bahwa untuk mendapatkan garis itu diperlukan dua buah titik dari ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung, ternyata cuma ada satu titik yang dilewati garis itu, yakni titik A(6, 1), untuk x=6 dan y=1. Sehingga Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang guru mengingatkan supaya menggunakan bilangan nol. Ya, itulah jalan keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh x=(25-0)/3=8 (dibulatkan), merupakan titik pertama, B(8,0). Selanjutnya berikan x=0 diperoleh y=(25-3.0)/7=4 (dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis BC, adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang guru, karena garis itu tidak melalui titik A. Jadi, garis BC itu salah” Tanggapan: Matematika adalah ilmu pasti, suatu kondisi yang dikatakan rumus harus berlaku umum..tanpa pengecualian..anehnya dalam rumus 3x + 7y = 25 yang melewati titik A(6,1)..si murid menyelesaikan dengan menggunakan pembulatan (x,y) = (8,0) dan (0,4)…yang kalo dimasukin ke rumus 3 (8) + 7 (0) = 24 bukan 25…dan 3 (0) + 7 (4) = 28 bukan 25..jelas titik acuan yang diambil salah, gak sama sama dengan rumus 3x + 7y = 25, lalu kenapa itu guru harus protes kalo gak melalui titik A(6,1)..ya jelas enggak akan nyambunglah Paragraf 13 “Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena sebenarnya tidak ada satu garis pun yang benar. Bukankah dalam persamaan 3×1+7×2=25 hanya ada satu titik penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan 3×1+7×2 itu hanya berbentuk sebuah titik? Bahkan pada persamaan 3×1+7×2=21 tidak ada sebuah titik pun yang berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis PQ dalam sistem bilangan bulat, sebenarnya tidak ada. Aneh, bilangan nol telah menipu kita. Begitulah kenyataannya, sebuah persamaan tidak selalu berbentuk sebuah garis.” Tanggapan Dhuaarr…ini yang paling bikin bingung..makin gak paham deh…kenapa di paragraf 13 ini muncul koordinat (1,2) yang berarti x=1 dan y=2 ? (koordinat 1,2 tercantum dalam tulisan penulis 3x1 + 7x2 dimana rumus awal adalah 3x + 7y) Pada paragraf sebelumnya (paragraf 12) ditulis, konsultan membantu dengan menggunakan rumus 3x + 7y = 21 yang melalui (0,3) dan (7,0) dari kedua titik tersebut ditarik garis lurus dan diberi nama garis PQ…lalu ditarik garis sejajar melalui titik A(6,1) yang di beri nama garis P1Q1 (inilah garis yang dicari semula oleh si murid yang diwakili rumus 3x+7y=25, atau dalam paragraf 10 disebut juga garis BC)..trus kenapa tuh guru nanyain koordinat (1,2)?..apa hubungannya koordinat (1,2) sama garis PQ dan P1Q1? Gak nyambung dong Ditambah dengan pernyataan penulis yang ini “Bukankah dalam persamaan 3×1+7×2=25” hanya ada satu titik penyelesaian yakni titik A …ini rumus yang mana sih?..udah jelas 3x1 + 7x2 = 17 bukan 25, jadi koordinat (1,2) gak mungkin ada digaris P1Q1 yang rumusnya 3x+7y=25 Trus kalimat yang ini juga “Bahkan pada persamaan 3×1+7×2=21 tidak ada sebuah titik pun yang berada dalam garis PQ”, ini juga rumus yang mana ya? 3x1 + 7x2 = 17 bukan 21, jadi jelas koordinat (1,2) juga gak akan ada di garis PQ yang rumusnya 3x+7y=21. Dan pernyataan “bilangan 0 telah menipu kita”..sangat provokatif dan tidak mendasar sehingga patut untuk diduga merupakan upaya pembunuhan terhadap karakter angka 0 (kampanye hitam), hal ini masuk akal sehubungan dengan memanasnya suhu politik menjelang pemilu 2009..lho kok?..apa hubungannya?..ya engga ada hubungannya sih…ha ha ha ha Paragraf 16 “Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan yang kita pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua bilangan selalu ada bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi dengan syarat harus melompati terlebih dahulu ke bilangan desimal yang terdekat, bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum sampai ke bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 1/2 karena masih ada bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu ada bilangan yang lebih dekat… yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, …, 0,000001. demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap saja nol. Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada, maka Anda tidak pernah bisa melompat ke bilangan 2?” Tanggapan: Mungkin saya yang lemot tapi saya susah memahami maksud paragraf 13 ini. Gimana sih? Untuk dari angka 1 ke angka 2 kok harus melewati ½, atau melewati ¼ atau melewati 0,1 dan 0,000001. Angka ½, ¼ atau 0,1 atau 0,01 atau 0,000001 terletak sebelum angka 1 bukan antara angka 1 dan 2 tapi diantara angka 0 dan 1, (lebih jelasnya liat interval 0 sampai dengan 2 dibawah)..orang mo lompat dari angka 1 ke angka 2 yang jelas2 arahnya kekanan…kok dibandingin sama ½ atau ¼ atau desimal berapapun yang notabene ada di arah kiri angka 1, ya enggak nyambung dong. 0 ¼ ½ ¾ 1 2 Atau mungkin maksud si penulis bahwa “melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2” bukan berarti dari angka 1 ke angka 2 melainkan dari suatu bilangan ke bilangan selanjutnya, bisa aja 500 ke 600, 1000 ke 2000 atau berapapun yang pasti dari bilangan yang lebih kecil ke bilangan yang lebih besar tapi berapapun angka-angka yang dipilih untuk mewakilinya, angka ½ atau ¼ atau 0.1 atau 0.01 atau 0.0001 memang berada di posisi sangat dekat setelah angka 0..gak berpengaruh sama sekali dengan angka berapapun yang dipilih. Okelah, mungkin yang dimaksud angka ½ atau ¼ atau 0.1 atau 0,001 atau 0,000001 adalah angka yang harus dilalui setelah angka yang lebih kecil ke angka yang lebih besar..contoh kita pilih angka 6254 ke 6255, ada angka yang harus dilalui, antara lain 6254 ½ (catatan: angka 6254 ½ bukan dimaksudkan 6254 x ½, tapi 6254 lebih ½ ), atau 6255 ¼ atau 6254,1 atau 6254,001 atau 6254,000001. Logika ini benar..tapi berarti gak bisa dong kalo koma 0 nya makin banyak serta merta kita persamakan dengan angka 0, yang ada makin banyak koma 0 nya, ya makin deket sama angka yang lebih kecil, yang dalam hal ini kita gunakan 6254, jadi untuk melompat dari suatu bilangan (dalam hal ini 6254) ke suatu bilangan selanjutnya (dalam hal ini 6255) harus melewati angka-angka lain atau desimal lainnya, tapi jelas gak ada hubungannya sama posisi angka 0 yang jauh sekali lokasinya dari angka awal 6254. Akhir kata, semua pendapat saya diatas terhadap tulisan “Misteri Bilangan Nol” hanyalah pendapat saya pribadi, yang namanya pendapat ya bisa aja salah..wong yang bikinnya juga manusia kok…dan mohon maaf kalo pendapat saya juga ternyata ambigu, gak jelas dan sulit dipahami..maklum amatiran, dan mohon maaf juga kalo ada kata-kata yang gak enak dibaca..gak ada maksud apapun, itu hanyalah kebodohan saya yang ndak bisa nemuin kata yang lebih tepat untuk menyampaikan pendapat saya dengan cara yang lebih enak dan bijak. debt collector on bonjer atu ________________________________________ From: [email protected] [EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ISTAJAM QOMARUDIN [EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, November 05, 2008 11:41 AM To: Bayu Wira Nugraha; [email protected]; IMAM BAHRUDIN; RAHMAT SUTARMAN; ABDUL GHOFIR; [EMAIL PROTECTED]; MOH. HUSAINI; Nur Agustin Subject: [bonjersatu:620] Sebuah Rahasia... Misteri Bilangan Nol<http://10.4.4.215/index.php?option=com_content&view=article&id=654:misteri-bilangan-nol&catid=10:tahukah-anda&Itemid=3> [http://10.4.4.215/images/M_images/pdf_button.png] <http://10.4.4.215/index.php?view=article&catid=10%3Atahukah-anda&id=654%3Amisteri-bilangan-nol&format=pdf&option=com_content&Itemid=3> [http://10.4.4.215/images/M_images/printButton.png] <http://10.4.4.215/index.php?view=article&catid=10%3Atahukah-anda&id=654%3Amisteri-bilangan-nol&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content&Itemid=3> [http://10.4.4.215/images/M_images/emailButton.png] <http://10.4.4.215/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovLzEwLjQuNC4yMTUvaW5kZXgucGhwP29wdGlvbj1jb21fY29udGVudCZ2aWV3PWFydGljbGUmaWQ9NjU0Om1pc3RlcmktYmlsYW5nYW4tbm9sJmNhdGlkPTEwOnRhaHVrYWgtYW5kYSZJdGVtaWQ9Mw==> User Rating:[http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png] / 2 PoorBest Written by banjariz Friday, 31 October 2008 01:25 Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0, bukti sejarah hanya memperlihatkan bahwa bilangan 0 ditemukan pertama kali dalam zaman Mesir kuno. Waktu itu bilangan nol hanya sebagai lambang. Dalam zaman modern, angka nol digunakan tidak saja sebagai lambang, tetapi juga sebagai bilangan yang turut serta dalam operasi matematika. Kini, penggunaan bilangan nol telah menyusup jauh ke dalam sendi kehidupan manusia. Sistem berhitung tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran bilangan nol, sekalipun bilangan nol itu membuat kekacauan logika. Mari kita lihat. Nol, penyebab komputer macet Pelajaran tentang bilangan nol, dari sejak zaman dahulu sampai sekarang selalu menimbulkan kebingungan bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan masyarakat pengguna. Mengapa? Bukankah bilangan nol itu mewakili sesuatu yang tidak ada dan yang tidak ada itu ada, yakni nol. Siapa yang tidak bingung? Tiap kali bilangan nol muncul dalam pelajaran Matematika selalu ada ide yang aneh. Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada. Mungkinkah 5*0 menjadi tidak ada? (* adalah perkalian). Ide ini membuat orang frustrasi. Apakah nol ahli sulap? Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5 dan 5*0=5 juga? Memang demikian aturannya, karena nol dalam perkalian merupakan bilangan identitas yang sama dengan 1. Jadi 5*0=5*1. Tetapi, benar juga bahwa 5*0=0. Waw. Bagaimana dengan 5o=1, tetapi 50o=1 juga? Ya, sudahlah. Aturan lain tentang nol yang juga misterius adalah bahwa suatu bilangan jika dibagi nol tidak didefinisikan. Maksudnya, bilangan berapa pun yang tidak bisa dibagi dengan nol. Komputer yang canggih bagaimana pun akan mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan pembagi angka nol. Komputer memang diperintahkan berhenti berpikir jika bertemu sang divisor nol. Bilangan nol: tunawisma Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada titik awal adalah bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya. Bilangan yang lebih besar di sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri. Semakin jauh ke kanan akan semakin besar bilangan itu. Berdasarkan derajat hierarki (dan birokrasi bilangan), seseorang jika berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa? Lain lagi. Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak mungkin sampai ke bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan seseorang bisa berangkat dari titik nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah titik nol sesuatu titik yang tidak ada? Aneh dan sulit dipercaya? Mari kita lihat lebih jauh. Jika di antara dua bilangan atau antara dua buah titik terdapat sebuah ruas. Setiap bilangan mempunyai sebuah ruas. Jika ruas ini dipotong-potong kemudian titik lingkaran hitam dipindahkan ke tengah-tengah ruas, ternyata bilangan 0 tidak mempunyai ruas. Jadi, bilangan nol berada di awang-awang. Bilangan nol tidak mempunyai tempat tinggal alias tunawisma. Itulah sebabnya, mengapa bilangan nol harus menempel pada bilangan lain, misalnya, pada angka 1 membentuk bilangan 10, 100, 109, 10.403 dan sebagainya. Jadi, seseorang tidak pernah bisa berangkat dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari angka 1. Mudah, tetapi salah Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik dari persamaan 3x+7y = 25. Ani berpikir bahwa untuk mendapatkan garis itu diperlukan dua buah titik dari ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung, ternyata cuma ada satu titik yang dilewati garis itu, yakni titik A(6, 1), untuk x=6 dan y=1. Sehingga Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang guru mengingatkan supaya menggunakan bilangan nol. Ya, itulah jalan keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh x=(25-0)/3=8 (dibulatkan), merupakan titik pertama, B(8,0). Selanjutnya berikan x=0 diperoleh y=(25-3.0)/7=4 (dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis BC, adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang guru, karena garis itu tidak melalui titik A. Jadi, garis BC itu salah. Ani membela diri bahwa kesalahan itu sangat kecil dan bisa diabaikan. Guru menyatakan bahwa bukan kecil besarnya kesalahan, tetapi manakah yang benar? Bukankah garis BC itu dapat dibuat melalui titik A? Kata guru, gunakan bilangan nol dengan cara yang benar. Bagaimana kita harus membantu Ani membuat garis yang benar itu? Mudah, kata konsultan Matematika. Mula-mula nilai 25 dalam 3x+7y harus diganti dengan hasil perkalian 3 dan 7 sehingga diperoleh 3x+7y=21. Selanjutnya, dalam persamaan yang baru, berikan y=0 diperoleh x=21/3=7 (tanpa pembulatan) itulah titik pertama P(6,1). Kemudian berikan nilai x=0 diperoleh y=21/7 = 3 (tanpa pembulatan), itulah titik kedua Q(0, 3). Garis PQ adalah garis yang sejajar dengan garis yang dicari, yakni 3x+7y=25. Melalui titik A tarik garis sejajar dengan PQ diperoleh garis P1Q1. Nah, begitulah. Sang murid telah menemukan garis yang benar berkat bantuan bilangan nol. Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena sebenarnya tidak ada satu garis pun yang benar. Bukankah dalam persamaan 3×1+7×2=25 hanya ada satu titik penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan 3×1+7×2 itu hanya berbentuk sebuah titik? Bahkan pada persamaan 3×1+7×2=21 tidak ada sebuah titik pun yang berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis PQ dalam sistem bilangan bulat, sebenarnya tidak ada. Aneh, bilangan nol telah menipu kita. Begitulah kenyataannya, sebuah persamaan tidak selalu berbentuk sebuah garis. Bergerak, tetapi diam Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan bulat, tetapi juga ada bilangan desimal antara lain dari 0,1; 0,01; 0,001; dan seterusnya sekuat-kuat kita bisa menyebutnya sampai sedemikian kecilnya. Karena sangat kecil tidak bisa lagi disebut atau tidak terhingga dan pada akhirnya dianggap nol saja. Tetapi, ide ini ternyata sempat membingungkan karena jika bilangan tidak terhingga kecilnya dianggap nol maka berarti nol adalah bilangan terkecil? Padahal, nol mewakili sesuatu yang tidak ada? Waw. Begitulah. Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan yang kita pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua bilangan selalu ada bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi dengan syarat harus melompati terlebih dahulu ke bilangan desimal yang terdekat, bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum sampai ke bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 1/2 karena masih ada bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu ada bilangan yang lebih dekat… yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, …, 0,000001. demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap saja nol. Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada, maka Anda tidak pernah bisa melompat ke bilangan 2? Disadur dari: http://www.duniaesai.com/sains/sains16.htm --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ You received this message because you are subscribed to the Google Groups "bonjersatu" group, and of course the members are bonjersatu employees only. To post to this group, send email to [email protected] To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED] For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/bonjersatu?hl=en -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
