________________________________________
Dari: FITRI ASRI LESTARI
Terkirim: 17 Nopember 2008 17:01
Ke: WEDY ABDULLAH; TAUFIQ SENO ANGGORO; Rizki Arief Nugroho; EKA EVRIDA ARNI; 
YUDA ARYANTO; BRAMANTO; ACHADI CAHYONO; FIRMAN DARAJAT; CANDRA KARTIKA DEWI; 
NUZATU RETNO GENTUMALATSIH; Budy Gunantara; SUCI LESTARI HAKAM; Ariswara 
Hardiana; Chandra Harinita; Amin Hariyadi; MUHAMMAD HARIYADI; HENGUNAWAN; AGUS 
HIDAYAT; MUHAMMAD IHSAN; Agus Irawan; RUSLI ISMAIL; ISROFAWIJAYANTI; Juliarti 
Jayani; Nur Khasan; Muh Khozin; Teguh Kurniawan; DONO KUSINDARTO; Sekartaji 
Kusumaningrum; ARMIATY LUCKYTA; LIZA TRIZIAWATY MAIDIN; Jalu Mangkurat; DINI 
MARIANI; MARJONO; MOHNUARIEFBARI; Ridwan Mubarok; DIYAT MUJAHIT; Hasan Mulyadi; 
Widi Mursito; ROMAS NASRUN; NUFITRIYAH; CARAKA PAMUNGKAS; BUDI PRASETYO SE.MM; 
GUNAWAN YUDHA PRAWI; Agung Priambodo; AGUS PUJI PRIYONO; YOSE EKA PUTRA, S.S.T, 
AK.; RIZQI RADITYO; RENSANTIKA; YUNI RISWANTI; Laksono Saptaningtyas; Hadi 
Setiawan; I Made Dwinanda Sidiartha; Heri Sunandar; CECEP SUPRIADI; PRIYA 
SUTRIARSA; MUHFARID SYAHRONI; HERDIANITA WIRATRI UTAMI; NURUL WAHID; 
WAWANTIAWAN; JOKO ARI WIBOWO; novidar yanti; novidar yanti; yaser zain; 
YUDANTARA; YUDISTITRISUMA; Landung Yuwono; Nadia Zairani
Subjek: FW: Profil Menteri Termiskin di Kabinet Indonesia Bersatu

Fitri Asri Lestari
KPP Pratama Bandung Bojonagara
Jl. Asia Afrika 114 Bandung
________________________________________
Dari: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] Atas Nama ALY RAHMAT [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: 10 Nopember 2008 15:26
Ke: DADAN KUSUMAWARDANA; SITI KUTSIYATI
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subjek: FW: Profil Menteri Termiskin di Kabinet Indonesia Bersatu

e

hanya meneruskan

________________________________
>
> To become truly great, one has to stand with other people, not above them.....
>
> Anton Apriantono, Menteri Termiskin di Kabinet Indonesia Bersatu
>
> Jawa Pos -- Ke Daerah, dengan Tiket Ekonomi, Nginap di Rumah Petani. Di
> Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono
> dijuluki sebagai menteri termiskin. Sebab, berdasar laporan harta  kekayaan 
> penyelenggara negara (LHKPN), total kekayaannya "hanya" Rp
> 388.936 juta. Bagaimana kesehariannya?
>
> RIDLWAN HABIB, Jakarta
>
> Bikin janji untuk bertemu Anton Apriantono tidak terlalu sulit. Di
> antara menteri yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu, pria yang lama
> menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu termasuk yang paling
> mudah dihubungi melalui ponselnya.
>
> Kemarin sore, Jawa Pos diberi kesempatan bertamu di rumah Anton di
> kompleks perumahan dinas para menteri, tepatnya di Jl Widya Chandra V.
> Begitu masuk ke halaman rumahnya, seorang petugas keamanan dengan
> tulisan nama Sukim di dadanya ramah mempersilakan masuk. "Cari Bapak ya,  
> silakan langsung saja ke ruang tamu," ujarnya.
>
> Halaman depan rumah dinas Anton tampak bersih. Aneka tanaman hias
> disusun rapi dalam pot yang berisi tanah liat. Tidak ada tanaman
> perindang besar, kecuali sebuah palem kipas yang ditanam di pojok pagar.
>
> Berbeda dari rumah menteri lainnya, di garasi rumah Anton, hanya ada dua
> mobil yang diparkir. Yakni, Kijang abu-abu keluaran 1994 dan mobil dinas
> menteri Toyota Camry bernomor RI 24. Pemandangan tersebut berbeda dari
> rumah dinas menteri-menteri lain yang, selain berisi mobil dinas, terdapat 
> beberapa mobil lain keluaran terbaru.
>
> "Assalamu 'alaikum, apa kabar?" kata Anton ramah yang muncul dari ruang
> tengah. Pria kelahiran 5 Oktober 1959 tersebut muncul dengan kemeja
> lengan panjang bercorak garis-garis. "Hari ini banyak tamu. Maklum,  masih 
> suasana Idul Fitri," ujarnya.
>
> Dia menceritakan, selama Lebaran, keluarganya lebih banyak berada di
> Jakarta. Hanya hari pertama keluarganya berkunjung ke Serang dan Bogor,  Jawa 
> Barat.
>
> Pada awal pembicaraan, dia lebih banyak menceritakan tentang  kesibukannya 
> sebagai menteri, sehingga waktu untuk keluarga berkurang.
> "Karena itu, setiap di rumah, saya manfaatkan betul untuk keluarga.
> Rasanya sih mereka tidak pernah mengeluh," ungkapnya.
>
> Sejak menjadi menteri, Anton memboyong keluarganya tinggal di rumah
> dinas. Rumahnya di Bogor dibiarkan kosong.
>
> Di tengah mengobrol dengan Jawa Pos, putri tunggalnya, Sri Rahayu, masuk
> membawa secangkir teh. "Silakan diminum. Kebetulan, saat ini saya sedang
> puasa Syawal," kata menteri yang diusulkan Partai Keadilan Sejahtera  (PKS) 
> tersebut.
>
> Ketika disinggung seputar kekayaannya berdasar LHKPN dan diumumkan
> Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia hanya tersenyum. "Saya bersyukur
> dianggap begitu (disebut menteri termiskin). Pokoknya, kalau  dibandingkan 
> menteri lain, nggak mungkin bisa ngejar, apalagi sama Pak
> Ical (Menko Kesra Aburizal Bakrie yang dijuluki sebagai menteri terkaya
> dalam kabinet SBY, Red)," ujarnya lantas tertawa.
>
> Dia menjelaskan, sejak menjadi dosen dan kepala laboratorium di IPB,
> Anton terbiasa menabung. Hasilnya, dia mampu membeli aset berupa tanah
> di Bogor. Kegemaran berhemat itu diteruskan sampai sekarang. "Sebagian  
> berasal dari gaji dan uang perjalanan ke luar negeri. Itu pun sudah
> berlebih," tegasnya.
>
> Suami Rossi Rozzana tersebut mengaku, kehidupannya saat masih menjadi
> dosen sudah cukup. "Apalagi sekarang, apa sih yang mau kita kejar? Makan
> saja tak lebih dari sepiring," katanya.
>
> Sebagai menteri, dia mengaku digaji Rp 19 juta per bulan. Selain dari
> gaji, pendapatan Anton diperoleh dari honor menjadi narasumber di
> seminar. Sebelum menjadi menteri, dia memang sering diundang sebagai
> ahli di bidang kimia pangan. "Tapi, honorarium dari seminar biasanya
> dikelola staf," jelasnya.
>
> Menurut doktor lulusan University of Reading, Inggris, tersebut, kunci
> perbaikan departemen yang dipimpinnya bermula dari diri sendiri. "Kalau
> pemimpin tak bisa jadi uswah (teladan, Red), jangan berharap anak buah  
> mengikuti," ujarnya.
>
> Anton lantas mencontohkan saat dirinya melakukan perjalanan dinas ke
> daerah menggunakan pesawat. Dia tidak pernah mau naik kelas bisnis. Dia
> selalu minta diberi tiket ekonomi. Demikian pula ketika harus menginap
> di suatu daerah. Anton tidak pernah mau diinapkan di hotel berbintang  lebih 
> dari tiga. "Kalau menterinya (pakai) ekonomi, anak buahnya nggak
> ada yang berani (di kelas) bisnis," ungkapnya lantas tersenyum.
>
> Menurut dia, budaya Orde Baru, yakni daerah harus selalu menyambut
> pejabat pusat dengan servis VVIP, harus dikikis habis. "Saya lebih suka
> menginap di rumah petani daripada di hotel. Mereka itu orang yang apa  
> adanya. Tidak ada yang dibuat-buat," tegasnya.
>
> Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika menginap di rumah salah
> seorang petani di Karawang. "Saat itu, atap rumahnya sudah mau roboh,"
> katanya seraya tersenyum lebar.
>
> Anton mengaku, saat ini dirinya sedang memperjuangkan budaya keterbukaan
> di departemen yang dipimpinnya. Salah satu contohnya, nomor HP-nya
> terbuka bagi seluruh anak buahnya. Termasuk, pegawai dan penyuluh  lapangan 
> di daerah. "Dari mereka, saya bisa tahu keluhan di lapangan.
> Termasuk, jika ada laporan korupsi, langsung saya minta ditindaklanjuti
> oleh Irjen (inspektorat jenderal, Red)," jelasnya.
>
> Dia juga sering mengajak anak buahnya outbound (training di alam).
> "Kalau di alam, perilaku aslinya terlihat," ujarnya. Dua minggu sekali,
> dia menggelar rapat pimpinan yang diakhiri dengan masing-masing saling  
> memberi nasihat. "Jadi, kalau tidak sesuai dengan yang diomongkan,
> orangnya malu," katanya.
>
> Kesederhanaan tersebut Anton diakui sekretaris pribadinya, Dr Abdul
> Munif . "Saya sampai malu karena bapak sering ngotot pakai kelas ekonomi
> saat kunjungan ke daerah. Kadang-kadang, sampai saya akali dengan  mengatakan 
> tiket ekonomi sudah habis," ungkapnya.
>
> Alumnus Bonn University, Jerman, yang mendampingi Anton sejak sebelum
> menjadi menteri itu mengaku, hal tersebut dilakukan untuk menjaga
> kehormatan Anton sebagai menteri. "Itu kalau kebetulan sedang bersama  
> menteri lain atau ada tamu dari luar negeri. Kalau berangkat sendiri,
> hampir selalu ekonomi," jelasnya.
>
> Saat mengunjungi daerah, Munif mengaku banyak pejabat dan bupati yang
> heran mengetahui kebiasaan Anton. "Awalnya, mereka (bupati dan pejabat
> daerah) heran. Tapi, dua tahun ini sudah biasa. Mereka malah berterima  
> kasih," ujarnya.
>
> Dia menyatakan, satu hal yang paling berkesan adalah perhatian Anton
> kepada anak buah. Di antaranya, Anton selalu mengingat nama dan  
> kebiasaan-kebiasaan kecil stafnya. "Beliau tak risi mengirimkan ucapan
> selamat ulang tahun atau memberikan bantuan ketika ada yang punya gawe,"
> ungkapnya. (*)
>
> sumber: www.jawapos. com

__,_._,___


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google
Groups "bonjersatu" group, and of course the members are bonjersatu employees 
only.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/bonjersatu?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke